Yang Maco dan Gemulai; Homoseksualitas

June 13, 2009

Sampai saat ini aku masih merasa tidak tega dan sedih kalau membayangkan bahwa beberapa orang  yang sangat baik itu, akan berdosa seumur hidupnya, atau akan masuk neraka, Argh!

Tentu saja aku sendiri tidak tahu apa yang bakal terjadi dengan diriku sendiri di dunia akhirat nanti. Dan aku juga tidak punya hak menghakimi apa seseorang akan masuk surga atau masuk neraka. Aku percaya adanya neraka dan surga, aku takut masuk neraka dan merasa tidak pernah sempurna untuk bisa masuk surga. Satu hal yang paling aku sangat usahakan dan kurasakan berat dijalani dalam setiap desahan nafas ini adalah rasa ikhlas. Aku ingin ikhlas menjadi penghias diriku, dalam apa saja..dalam belajar..berkata..berbuat..bersujud..dan bahkan bercinta.  

Salah seorang sahabatku ini adalah satu dari sekian manusia  yang ikhlas berteman denganku.  Aku merasakan keikhlasan kebaikannya  jauh sebelum aku tahu kalau dia adalah seorang lesbian. Aku memang tidak pernah bertanya apa dia sudah punya pasangan atau belum, lama..aku berpikir untuk akhirnya bertanya, dan jawabannya adalah, “aku lesbian Neneng, Yuna (nama samaran) yang juga kamu kenal adalah pasangan lesbiku”. Aku tidak mendiskusikan-nya lebih lanjut, yang aku lakukan adalah setiap kali aku menelpon dan bicara denganya aku selalu menyampaikan salam untuk Yuna dan selalu bertanya bagaimana kabar Yuna. Entah apa yang dia rasakan, dia memang tidak bercerita banyak tentang Yuna padaku (mungkin karena dia khawatir aku jadi gelisah mendengarnya), dan membuat suasana jadi kikuk. Dia sahabatku yang lesbian ini, sangat menjaga perasaanku, menjadi pendengar yang hebat, sahabat yang enak diajak bicara. Bagiku dia orang baik, baik…sekali, pun tidak hanya kepadaku tapi juga kepada teman2 yang lain.

Aku juga pernah di datangi seorang ibu yang curhat bahwa dia amat sangat menyalahkan dirinya sendiri tentang kenapa anak sulungnya mengaku bahwa dirinya adalah seorang gay di usia 16 tahun. Ibu tersebut menangis sejadi-jadinya, sambil berkata betapa hancur dan malu dirinya mengetahui kalo anak sulungnya adalah seorang gay. Seorang kawan kuliah ku juga demikian. Sifatnya yang mudah didekati dan menyenangkan membuat orang suka berkawan dan berbagi dengannya. Suatu saat, karena seringnya dia berbagi cerita akan patner-nya (begitu dia menyebut pasangan lesbiannya), saya bertanya kenapa nama patnernya, nama laki-laki. Dia tersenyum dan berkata, “kamu tidak tahu Neneng, apa kamu tidak melihat kalo saya seorang lesbian?” — “Yuda (nama samaran) adalah pasangan lesbianku, dia patnerku, dan kami sudah 5 tahun hidup bersama” — ” Apakah ini masalah buat kamu Neneng, bersahabat dengan seorang lesbian karena kamu Muslim? ” . Tentu saja aku bilang aku tidak ada masalah bersahabat dengannya dan aku berharap suatu saat bisa bertemu Yuda.  Aku memang akhirnya bertemu Yuda, cantik, cerdas, dan enak sekali diajak berdiskusi.

Nah berdasarkan pengalaman pergaulanku..sebagai seorang muslim, pertanyaan yang sering muncul dikepalaku adalah bagaimana sesungguhnya Islam memandang homoseksualitas.  Menurut beberapa bacaan, kebanyakan ulama memang mengharamkan homoseksualitas, dengan merujuk pada beberapa ayat Alqur’an (surat  7:80-81 dan surat 26:165) tentang kisah Nabi Luth yang umatnya homoseksual dan dilaknat oleh Allah. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa itu bukan perbuatan haram. Menurut yang membolehkan, Alqur’an menyebutkan bahwa Allah menciptakan wanita dan laki-laki sejajar, hanya amal soleh lah yang akan Tuhan lihat (surat 49:3).

Pertanyaan selanjutnya adalah, pendapat mana yang aku yakini benar, dan apa yang sebaiknya aku lakukan.  Sungguh ini sulit, sulit sekali karena aku tidak bisa memilih mana yang paling benar. Aku mengatakan ini mungkin karena aku “takut” dengan Tuhan, kalau aku tidak membenarkan pendapat pertama, aku merasa mengingkari Alqur’an, dan hatiku berkata pandangan ini “benar”. Tapi disisi lain, aku juga mengakui ada kebenaran pada pandangan yang kedua, hatikupun berkata serupa.  Nah berdasarkan keyakinanku akan kebenaran dari dua pendapat tersebut, aku hanya bisa merangkumnya dalam sikapku saja. Aku yakin Allah maha Pengampun dan Pemaklum akan hambanya yang berniat bersih belajar memahami  ayat-ayat Alqur’an dengan keterbatasan akal maupun ruhaninya. Aku yakin Allah pun Maha Penyayang bagi hamba yang berniat bersih mengikuti kata hati untuk mencari  dan membedakan kebenaran dan kesalahan.

Berikut sikapku, dan semoga Allah selalu meridhoi hidupku, Amin..

  1. Akan dan tetep bersahabat (mendengar, berbagi, memberi dorongan positif, dan mengharapkan kebaikan serta keselamatan) tanpa memandang seksualitas
  2. Tidak menghakimi manusia untuk masuk atau tidak masuk surga hanya dengan ukuran seksualitas
  3. Tidak memberi nasihat kecuali bila diminta
  4. Dan bila diminta, akan jujur akan apa yang saya percayai dan saya rasa dan memberikan pilihan terakhir pada orang tersebut
  5. Bersikap netral, tidak mensupport atau memfasilitasi kebutuhan seksualitas mereka

Wallaahu’ Alam Bissowab

Hanya Allah lah yang  mengetahui segala perkara di dunia fana ini.


Etika Menulis Status di Facebook

June 12, 2009

Akhirnya aku ikutan masuk dalam lingkaran Facebook bulan Desember tahun lalu, setelah banyak dapat undangan, cie cie. Aku menikmati bertemu secara virtual dengan  kawan lama, pacar lama (he he), murid-muridku waktu aku mengajar di SMA dulu, dan tentu saja anggota keluarga ku sendiri serta teman2 yang sekarang dekat dengan ku secara fisik maupun waktu, yang paling anyar begitu istilahnya.

Aku senang dan menikmati hubungan virtual ini, dengan berbagai alasan. Diantara alasan tersebut adalah aku senang bisa lagi bernostalgia dengan cerita lama, mengetahui bahwa kami masih saling ingat walaupun jarak dan waktu sudah terpisahkan beberapa lama, mengetahui kabar kawan2 , ikut  menikmati kebahagiaan hidup yang sedang mereka rasakan, yah macem2 lah pokoknya.

Nah selama diriku berfacebook ria, tentu saja aku membaca dan memperhatikan status teman2 di facebook.  Mereka  tentu boleh bersuka hati menulis apapun tentang diri mereka, tentang apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka lakukan, dan apa yang meraka rasakan.  Itu konsekwensi nya ikutan facebook, baca..terima..apa yang orang tulis, baiknya sih mengosongkan perasaan-perasaan negatif, santai aja…he he, yah namanya juga jaringan sosial, jaringan sosial gitu loh, kita tidak bisa membuat semua orang suka dan cocok sama kita, gak bisa bikin semua orang seneng, pun sebaliknya. Maka bermaklum ria lah..he he.

Stt..cuma menurutku sih ada deh etika menulis status (yee—katanya suka2). Ya, namanya hidup dalam lingkaran, mesti punya pengertian dan rasa kompromi yang tinggi dong, he he.  Nah menurut otakku yang kecil (wekeke) ini nih etikanya, Sebaiknya…

  1. jangan menulis status yang cuma dikhususkan untuk satu atau beberapa orang saja, mbok ya pake jalur pribadi..
  2. jangan menulis status yang rutinitas di lakukan oleh semua orang, seperti, tidur ahhh atau kebelet pipis , kasihan kan yang baca, jadi kebuang2 deh waktunya
  3. jangan terkesan menggurui kalo emang niatnya mau berbagi pengalaman rohani  misalnya, gunakan bahasa yang “enak”
  4. jangan mengumbar rasa cinta pada pasangan “terlalu” sering, he he.  Sesekali boleh lah…sekali dalam setahun misal, contohnya pas ulang tahun perkawinan
  5. jangan memasang semua kuis yang kamu ikuti di facebok, kalo keseringan orang jadi males ah..
  6. jangan mengundang atau memberi  info pada orang2 tertentu saja di Facebook. Ingat-ingat..teman kita macam2 loh..pekerjaan maupun statusnya
  7. jangan banyak kasih informasi, ini udah jaman information flood, yang ikutan Facebook kebanyakan  taulah info mana yang mau dia baca buat perkambangan dirinya
  8. bersikap adil lah, he he. Jangan hanya mengharap di kasih komen tapi gak pernah ngasih komen..he he
  9. gunakan blog pribadi aja untuk memposting hal yang puanjang-puanjang, agak2 sensi dan “berat “ buat sebagian orang
  10. remove aja deh, teman-teman di facebook kamu..kalo emang ngerasa mereka “take your times’ dan gak bikin seneng, hi hi hi PEACE ah!

Udah ya, emang susah berkomunikasi..lisan gak gampang, pake tulisan juga rada susah.  Buatku sih..gak maksa orang supaya setuju apa engga..yang penting, ikhlas aja, soale ini yang paling susah..ikhlas berbagi, ikhlas mendengar, ikhlas bertemen. Beuh!! Susah…


Leave me breathless, speechless..THANK YOU Dear!

April 12, 2009

TRANSLATION- Zawjati (My wife)
(as given in the album Da’ani)

I love you the way you are,
I love you the way you were,
No matter what did or will happen,
You are and will be my darling.

You’re my rightful wife, I care not about
Those who like to reproach and irritate me.
It is our destiny to be
Together eternally.

In my heart you instilled love
With grace and good deeds.
Happiness vanishes when you disappear,
Life brightens when you’re there.

Hard is my day
Until you return home.
Sadness disappears
When you smile.

Life turns black
When you’re upset,
So I work hard
To make your wish come true.

You’re my happiness.
May you be happy forever.
Our souls are united
Like soil and plants.

You’re my hope, my peace
My good company and inspiration.
Life is good, no matter how hard it is,
When you’re fine ( more )


Sungguhku!

February 20, 2009

Kalo hanya menggugurkan kewajiban,  percuma saja!

Kalo cuma ikut-ikutan, malas sekali gunakan akal!

Kalo karena ingin kelihatan, kenapa tidak diumumkan!

 

Setiap persembahan yang aku suguhkan pada Tuhan

Aku ingin benar2 melakukannya  dengan sangat sadar

Aku berniat menuntaskannya dengan sekuat raga

Dan sepenuh jiwa yang sudah Tuhan anugrahkan

 

Aku tahu sulit, karena lidahku pasti selalu bisa berkelebat

Aku alami enggan, karena nalarku lihai sekali beralasan

Aku akui sungkan, karena ronggaku tajam nian menghindar

 

Duh Gustiku Maha segala Maha, Sambutlah aku dalam alunan

Duh Gusti  Pemilik Indahnya segala nama, Peluklah aku dalam buaian

Aku rekatkan patahan tulang tubuhku diatas tanah Mu

Aku hempaskan detak nadi dan nafasku disetiap selipan hawaMu

Terimalah Sungguhku, sungguh!

 


Alah….rindu lagi.

February 19, 2009

Pernah kah kau merindu sampai kau ingin menciumnya rapat-rapat..

Hingga menyatu sudah bibirmu dan kulitnya?

 

Pernahkah kau merindu sangat sampai kau ingin memeluknya erat-erat

Hingga bertemu sudah badanmu dan seluruh raganya?

 

Pernahkah kau merindu sampai bahasa apapun tak mampu mewakili

Hingga kau ucap berulang kali kata CINTA tanpa bosan?

 

Pernahkan kau merindu sampai kau ingin menaiki helicopter pribadi

Dan menulis besar2 kata RINDU di seluruh permukaan  langit jagat raya?

 

Pernahkan kau merindu sampai kau menangis berurai air mata

Dan membiarkan wajahmu jadi jelek tak terkira?

 

Pernahkah kau merindu sampai kau rasakan wangi tubuhnya

Bertebaran di seluruh ruang tempatmu berpijak?

 

Pernahkah kau merindu sampai suara dan desah nafasnya

Terasa begitu merdu dan membangkitkan gelora?

 

Pernahkah kau merindu sehebat itu, sampai kadang membuatmu kesal?

Aduhai Rindu, Alah….Rindu lagi. Rindu…Rindu…

 


Boneka, mobil, kamu dan aku?

February 19, 2009

Aku punya boneka, cantik berkepang dua. Kata orang bonekaku bagus, banyak yang suka

Aku juga punya mobil2-an, bisa jalan sendiri. Kata orang mobilanku keren, paling bagus sendiri

Aku ikut apa kata orang, kalau mereka memuji tentu aku suka. 

Aku manusia kecil, usiaku baru empat tahun.  Maklum lah…

 

Ini lain lagi…

Bonekaku juga selalu kubuat indah. Mobilanku juga selalu kubuat canggih, tak perlu lah orang tahu.

Aku sendiri menikmati dan marasakan indahnya. Tak perdulikan apa kata orang.

Aku tak mau terlena oleh sanjungan, buat apalah itu semua

Aku manusia dewasa, usiaku diatas tiga puluh tahun. Maklum juga lah..Semestinya lah…Entah lah?

 

Ehm..

Aku cuma mau pastikan, kalau aku sadar sudah memilih apa yang aku jalankan

Kalau aku tahu betul apa yang sedang aku bentangkan, bukan karena orang, bukan karena sesiapa

Tapi karena aku bersekongkol dengan Tuhan, itu saja!

 

 

 

 

 


Lakukan saja!

February 19, 2009

Tidak semua orang memandang indah senyummu, tapi tetap ikhlaslah tersenyum!

Tidak semua orang suka akan cara kerjamu, tapi tetaplah kerja sehebatmu!

Tidak semua orang damai mendengar sapa salammu, tapi tetaplah tebarkan salammu!

Tidak semua orang menggemari tulisanmu, tapi tetaplah pantangkan penamu!

Tidak semua orang mengagumi ide mu, tapi tetaplah ekpresikan pikirmu!

Tidak semua orang suka caramu berdandan, tapi tetaplah tampilkan adanya dirimu!

 

Kesempurnaan sesungguhnya mustahil.  Gilalah kalau kau rakus meraihnya!
Apa pula artinya ketenaran. Matilah kalau hanya itu yang mau kau gapai!

Kenapa pula kau cari kepuasan. Hancurlah kalau cuma itu yang buat kau silau!

 

Mengapa kau biarkan beban bergelayut meggendongimu sepanjang jalan

Tak bisakah kau sandarkan langkah dan sikapmu diatas keikhlasan?

Tak mampukan kau lakukan semua berpeluh damai?

Bermandikan cahaya ketulusan, dan bercengkrama hanya dengan Tuhan?

 


Sesak dan Sadar

February 19, 2009

Penuh tumpang tindih

Tak beraturan, beradu kelahi

Ruang jadi sempit

Semua saling berhimpit

 

Lelahku  mengguntai

Hampir patah berjuntai

Cengengku menghampiri

Nyaris pecah berderai

 

Lantas  sejenak  terhenti

Kugigit  lidahku sendiri

Terdiam coba menyelami

Apa  sebenarnya terjadi

 

Aku bicara dan berdamai

pada diri jiwa dan hati

Lalu juga sadar diri

Akan peranan hiasi

Rangka, sampul dan isi

 

Ini tangga aku yang naiki

Aku tahu akan ku jajaki pasti

Indah berpeluh arti

Selalu Tuhan kugandengi

 

 

 


Sang waktu

September 28, 2008

 

Sang waktu

Jahat! Memaksa aku melakukan apa yang harus

Egois!Menyuruh aku selesaikan tanpa toleran

Kejam!Memerintah aku untuk mengejarnya

Kuat! Meracuni aku agar sadar berbuat

 

Sang waktu

Kokoh! Merayuku agar tak mudah menyerah

Ajaib!Membuat ku tak sadar jadi belajar

Aneh! Mengikuti apa yang sudah aku niati

Tandang! Mengarahkanku selalu menjadi

 

Oh sang waktu

Aku mau menantang kau sekarang

Menaklukan engkau sampai terkapar

Dan bertekuk lutut menjadi hamba

Selama aku bisa..

 

Oh sang waktu

Aku akan bersekongkol dengan Malaikat

Hanya merajai engkau di tempat fana

Dan mengikhlaskan diriku ditentukan

Sepenuhnya oleh sang Penguasa

 


Tengadah dan syukur

September 28, 2008

Tengadahkanlah telapak tangan

Susun jemarimu bersisian

Hela nafasmu dalam-dalam

Dengar nafas mu yang keluar

 

Bayangkan engkau terhimpit

Lemah tak berdaya terjepit

Rapuh tak bertenaga terhempas

Payah tak berjiwa terdampar

 

Sekarang berkacalah engkau

Mampukah kau coba hitung

Segala apa yang melakat

Semua apa yang bisa kau raba

Setiap apa yang tersurat

 

Kenapa kau masih saja berdesah

Ramai mengumbar keluh kesah

Merasa seperti paling menderita

Berpikir seperti hilang harap

 

Belajar malulah pada sesama insan

Apalagi pada Tuhan penguasa alam

Hela lagi nafasmu dalam-dalam

Ucapkan pujian dan sukur pada Tuhan…