Skip to content
February 23, 2011

Bijak memilih kata-kata

“Apa semua yang kita rasa dan pikirkan perlu kita ungkapkan bang?”, tanya Rani yang tiba-tiba muncul  dari pintu garasi. Arif yang sedang asyik mencuci motornya menoleh sebentar. Raut muka Rani kelihatan serius, alisnya berkenyit, kepalanya miring kekanan sedikit, seakan-akan meminta Arif menjawab dengan cepat, singkat, padat.  Arif malah tersenyum kecil, dan tidak langsung menjawab. ”Bang!!?”, kali ini suara Rani agak keras, setengah kesal dan merajuk.

“Iya Ran… jawabannya tergantung”, kata Arif sambil terus menyemprotkan air dari selang ke ban belakang motor. Motor Arif kotor sekali pagi itu karena kemaren  sore dalam perjalanan pulang ke rumah, motornya tidak sengaja  masuk ke kubangan becek yang ada di belokan gang Haji Syukri. “Yah ginilah akibatnya kalo bengong sedikit di jalan dan kekencengan bawa motor Ran, padahal tiap hari lewat situ, biasanya abang selalu bisa ngindarin kubangan itu, tapi kemaren malah kejeblos”, jawab Arif ketika Rani bertanya kenapa motor nya kotor dan sepatunya basah kuyup.“Tergantung gimana maksudnya?” kali ini kedua tangan Rani di lipat di depan dadanya, alisnya tambah berkenyit. Read more…

February 17, 2011

Karena Cinta

Enggak tahu kenapa pagi itu hati Nala mumet banget. Liat bantal kursi yang letaknya rada mencong sedikit, dia sebel. Liat gelas kotor yang tergeletak di meja kerja mas Dodi, dia gak suka. Sampe vas bunga yang udah lama sekali menghiasi  meja tamupun, sekarang kelihatan norak. “Warna bunga plastik dan bentuk vasnya bener-bener gak nyambung”, begitu kata Nala dalam hati.

Mulut Nala manyun, senyum sumringah dari bibirnya hilang, seperti tenggelam ditelan ombak.  Pagi itu, enggak ada sapa renyah dan hangat di pagi hari buat Dodi. Gak ada acara buka jendela depan dan samping pelan-pelan sambil menghirup udara pagi yang jernih. Gak ada sholat subuh yang tenang. Semuanya berasa gak enak, sepet, plus asem. Nala masih ingat semalam kalao Dodi masih ada di kamar kerjanya ketika Nala memutuskan untuk tidur.

Read more…

February 9, 2011

Mumun dan Wajah Emak

“Kapan pulang dari Bogor Mun?”  wajah mpok Rodiyah sumringah nanya Mumun.  Tangannya sibuk ngebungkus cabe merah campur tomat ijo dua biji pake kertas putih yang ada catetan laporan keuangan kecamatan kampung Cikaso taon 92.  “Kemaren sore mpok ”, Mumun ngejawab sambil milihin kacang panjang.  Matanya awas milihin kacang  yang kagak ada bolongannya barang dikit, yang mulus kalao kata orang Cikaso mah.

“Bogor emang lagi musim apaan Mun?, emak lu pegimana keadaannye? , tanya mpok Rodiyah lagi sambil nyari-nyari karet gelang di laci meja sayuran yang warnanya udah keitem-iteman itu. “Aye kagak merhatiin bener musim mpok, tapi emak udah agak baekan sekarang, masih suka ngeluh nyeri di perutnye sih”, kali ini Mumun ngejawab sambil  merhatiin tangan mpok Rodiyah yang sibuk banget nyari karet gelang buat ngebungkus cabe.

“Iye, mpok ikut doain ye Mun, moga-moga emak lu kagak sakit-sakitan lagi, emangnya nape emak lu kagak lu bawa kesini aja, biar gampang elo rawat disini kali Mun..…Aduh, kemane lagi nie karet, perasaan tadi kantongnya udah mpok taro deket sini”, kata mpok Rodiyah lagi sambil ngangkat-angkat tumpukan kertas buat bungkus, yang letaknya persis disebelah tumpukan oncom dan ikan cue.

Read more…

February 8, 2011

Keniscayaan Manis Pahitnya Kehidupan

Sudah satu minggu ini saya minum obat, resep dari dokter  yang katanya bagus untuk meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh saya. Obat itu berbentuk tablet, berwarna hijau, dengan bentuk segi tiga, ber diameter kecil. Satu kali teguk air saja, obat itu sudah hilang, meluncur lewat tenggorokan. Sarinya mengalir ke tubuh saya dengan cepat, membuat lidah saya berhenti bekerja untuk sementara.

Tapi tetap saja, walaupun obat itu meluncur cepat, hakikat rasanya adalah pahit. Kepahitannya beralasan, ia berbuah manis. Menurut dokter, zat besi yang terwujud dalam obat pahit itu membantu mebentuk sel darah merah dalam tubuh saya, yang sejatinya akan membuat saya lebih berenergi dan sehat. Sel darah merah itu tidak hanya mencegah jatuhnya beberapa helai rambut dari kepala saya, ia juga menguatkan tulang belulang di tubuh saya.

Karena rasa obat dan manfaatnya itu, saya jadi menganalogikannya dengan rasa di dalam kehidupan ini, yaitu rasa manis dan pahit. Kedua rasa itu akan saling melengkapi.  Kehadiran rasa yang satu tidak bisa sempurna terbentuk atau terasakan, bila rasa yang satunya belum terwujud atau terlewati. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah memang untuk merasakan manisnya kehidupan,  seseorang harus merasakan kepahitan terlebih dahulu? Bukankah ada juga sebagian orang yang hidup tanpa melewati kepahitan tapi langsung merasakan manisnya saja? Read more…

February 8, 2011

Kemana hati nurani?

Bila dibumi anarki manusia tumpah

Saling menghina dan membunuh

Tapi menyeru nama Tuhan yang Satu

Menyedihkan, memilukan, memalukan!

 

Aduhai manusia yang katanya penyayang

Kemana hati nurani yang sudah Tuhan berikan?

Apa sudah kau tutup rapat-rapat kah dia?

Atau sudah kau kusam legamkan kah dia?

Hingga tak mampu lagi engkau merasa?

 

Aduhai manusia yang katanya welas asih

Jangan kau campakkan kemurnian suara hati

Apalagi mau diiming imingi nikmat surgawi

Dengan menghalalkan marah dan benci

Penuhi saja sumur cinta, lewat hati nurani

February 8, 2011

Menjadi Tua

Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan

Bagi setiap insan, lelaki atau perempuan

Ingatan yang kuat, tubuh yang segar bugar

Akan perlahan menyusut dan memudar

 

Menjadi tua adalah sunnah Tuhan

Misteri usia bukanlah permainan

Jangankan buat yang berusia senja

Yang mudapun bisa tersapu masa

 

Hari ini aku membayangkan hari tua

Padahal sekarangpun aku sudah menjadi

Beberapa helai rambutku ada yang memutih

Angka di ulang tahunkupun makin bertambah

 

Ah, dalam perenunganku tentang usia senja

Aku membangunkan kalbuku yang kadang mati suri

Dan menajamkan fikirku, agar tidak ditenggelamkan masa

February 5, 2011

Sampai Maut Menjemput

Seperti kain panjang kering yang dipaksa keluar dari kerongkongan berkulit tipis

Begitu aku membayangkan sakitnya nyawa di ambil oleh yang Maha memiliki

Seperti hembusan nafas yang lepas, ringan, terbang berseri dibawa angin pagi

Begitu aku melukiskan senangnya melepas rindu, akan bertemu kekasih hati

 

Tidak tahu dimana aku nanti berdiri, merinding aku menerka-nerka kedatang ajal

Entah kapan, dimana, dan sedang apa, tak mampu aku menebus kedalaman masa

Sungguh kerdil aku, berdiri di tepi lautan tenang sekalipun, aku bisa terbawa gelombang

Sungguh lemah aku, bahkan berada di tempat paling tinggi sekalipun, aku bisa terjungkal

 

Gila memang, mengingat kata maut saja aku kadang terlalaikan, bagaimana pula aku bersiap?

Mendengar gemuruh datangnya saja, aku sudah pontang-panting, bagaimana pula aku menghadang?

Ya, aku merasai bahwa maut memang bukan kawan, tapi tidak mustahil ia menjadi sahabat  terdekat

Mengingat & mendekapi maut, mengingatkan kita akan kebersihan raga, kebeningan hati , juga jiwa

Aku dan maut, suatu saat akan saling mencari dan semoga merindui, menggiringku melihat senyumMu!

February 4, 2011

Cukup

Terowongan itu gelap, tapi aku masih melihat cahaya kecil disana

Ia tak bergerak,  tapi aku tahu ia bernyawa,  memanggil  ku tanpa suara

Ia menyimpan misteri, menyelimutiku dengan resah sekaligus harapan

Aku dibuatnya menjerit dalam hati, hingga mengeluarkan satu kata, cukup

 

Aku putuskan untuk cukup menggantungkan harapanku tinggi-tinggi

Tapi tidak aku cukupkan untuk terus berharap peduli Tuhan menghampiri

Orang bisa bilang aku menyerah, tapi sebenarnya aku masih tegak berdiri

Hanya berbelok ke arah lain saja, menelusuri  jalan yang juga misteri

 

Cukupku bukan berarti mengalah, melemah, apalagi membuatku gila

Cukupku bukti penerimaanku pada yang lama tidak aku akui dan lihat

Cukupku menjemput harapan lain, yang tidak kalah indah dan mulia

Cukupku masih bersama cahaya, menggenggam sampai memeluknya

 

 

February 2, 2011

Sepuluh Tanda-Tanda Cinta

Berawal dari komentar saya pada seorang kawan di facebook  tentang definisi cinta, saya malah jadi kepengen menuliskan tanda-tanda cinta, bukan definisinya. Mungkin karena cinta itu banyak definisinya, saya jadi mengambil yang lebih gampang, menuliskan tanda-tanda nya saja.

Nah kalau ada waktu dan sedang mencari materi bacaan for “pleasure”,  silahkan baca uraian sederhana saya tentang tanda-tanda cinta di paragraph berikut.  Tapi perlu di ketahui sebelumnya bahwa tulisan saya ini bukan berdasarkan riset, hanya opini hasil dari pengamatan dan pengalaman saya saja.  Oleh karena itu isi tulisan ini subjektif,  akan ada sebagian pembaca yang setuju , ada yang ingin menambahkan,  bahkan ada yang ingin mengoreksinya.  Well, silahkan saja, saya akan senang sekali. Read more…

February 1, 2011

My journey in conquering fears of driving

About a week ago, i finally received a California Driving License, something that i ‘ve never imagined before. I was so happy, and i am still. I consider this as an achievement because it was a long and challenging journey. Not only because i had postponed the behind-the-wheel test for about a year (i got the permit on February 2010, and took the test on February 2011), but also because i had to struggle dealing with my own fears. I was so fearful so that i was so reluctant to touch the wheel.

But now…looking back to my journey, i am giggling and feeling proud of myself. I think my experience is worth sharing, hoping that it may also worth reading for others. In the next paragraphs, i would like to describe what i have done to finally able to transform myself from being so fearful to being joyful. Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.