Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | February 10, 2010

My man is a comedian ^_^

I am so lucky I married a comedian. He is the one man who amazingly can make me laugh, again, and again. Even though I know that some of his jokes are repetitive, I can laugh so giggly like I’ve never heard them before. His jokes are timeless for me.

People may think he is a serious man, as his work are related to teaching, researching, and writing ‘serious’ topics such as religion, Islam, Politic, History and the kinds. But well, I think I know him better than other people do, and found him as my first and foremost entertainer. His jokes are genuine, warm, and so loveable. They definitely can brighten my days, erase my sorrows and create joys and happiness around.

Many times, he pretends like he was my servant, calling me “Nyonya” which means “ Your Highness” in English. He acts like he knew nothing in the house, walking by bending his knees, asking “stupid” questions about how to run things in the house, and treats me like I were his majesty or something. And every time he does that, I cannot stop laughing. He also likes to imitate some kinds of dancing movements. He can pretend to be a Hawaiian dancer, Sundanese dancer (like Jaipongan), or does his own funny, unique dance movements. And whenever I create my own song or music, he always finds ways to create their matching dances.

Not only that, he often comments to my story in his own funny ways. His comments are “true” and “logic”, but his choice of dictions are smart and make me laugh. I never forget some of his comments that take me to a long… long laughter. Sometimes, my tears will show up if I laugh at his comments, I think my tears are resemblance of my joys. Oh!!

Even now.. when I am writing this note, I have a big, wide smile in my face. My mind is wandering around…remembering his other jokes and/or funny comments. Many of his jokes are still lingering in my mind. Oh well, I think I am just so lucky and blessed having him as my man. He is just so perfect!

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | February 10, 2010

Ketika saya sudah mulai bosan dengan Facebook

B.O.S.A.N, begitu kata yang muncul di kepala saya ketika saya sudah mulai mencium aroma kerutinan dan/atau kepura-puraan melebur jadi satu. Kadang-kadang, aroma itu bisa begitu dahsyat, sampai saya benar-benar berhenti dan pergi, dan bisa juga hanya sekelebat saja sehingga saya masih bisa bertahan tinggal. Kalau saya berhenti dan pergi, biasanya saya sudah tidak lagi merasakan manfaat apa-apa, tapi kalau saya tinggal, saya harus yakin bahwa saya bisa mengambil sarinya yang manis, sehingga saya bisa merasakan kebaikan dan keindahannya dengan sepenuh hati saya.

Ini bukan kali yang pertama saya merasakan kebosanan terhadap sesuatu (maklumlah manusia). Saya pernah merasa bosan dengan masakan saya sendiri yang hanya itu-itu saja, pernah merasa bosan dengan keluhan kawan saya yang hanya itu-itu saja, pernah merasa bosan dengan isi khutbah sholat Jum’at yang selalu penuh dengan amarah dan ejekan terhadap golongan lain, bahkan saya pernah merasa bosan dengan belanja di supermarket yang isinya hanya itu-itu saja. Nah semua kebosanan itu biasanya selalu bisa saya obati, bisa dengan mencari pilihan dalam bentuk yang lain, atau saya menghias, memolesnya dengan warna yg sesuai dgn karakter diri saya.

Ada beberapa alasan kenapa saya menjadi bosan dengan hal-hal yang saya sebutkan di atas, kepanjangan kayaknya kalo saya menulis semua detailnya. Tapi kali ini saya akan coba merangkum alasan kenapa saya bosan dengan Facebook. Ya, Facebook, tempat saya bertemu lagi dengan kawan-kawan lama saya dan tetap menjalin hubungan dengan kawan-kawan baru saya, ups bahkan dengan saudara-saudari sekandung saya, dan keluarga besar saya, adalah memang amazing, hebat!. Hebat karena Facebook benar-benar telah mempertemukan saya kembali dengan kawan-kawan lama saya yang sudah ‘hilang’ entah kemana. Tapi di balik kehebatannya, Facebook memiliki ciri dan berpotensi membosankan, buat saya khususnya.

Saya bosan dengan Facebook karena:
1. Isinya cuma melulu status teman-teman yang kadang hanya “itu-itu” aja.

2. Saya kadang kurang suka di tag NOTE. Saya tidak mau diganggu oleh bacaan atau berita yang bukan saya pilih sendiri untuk saya nikmati atau pelajari. Dan suka merasa tidak enak karena meremove NOTE mereka (Tega nian memang saya). Tapi well, kadang saya juga seneng membaca NOTE2 yang menarik. Ada beberapa kawan yang inspiring buat saya kok.

3. Saya mencium bau ke-akuan (the culture of ME) yang hebat dalam lingkungan facebook, yang bisa saja melemahkan rasa sensitifitas atau empati saya pada perasaan atau keadaan orang lain. Saya takut terjerumus kedalamnya.

4. Saya merasa bahwa waktu yang saya gunakan untuk membuka/membaca status teman-teman saya di Facebook telah mengurangi waktu pribadi saya untuk bisa melakukan hal lain yang lebih manfaat.

Empat alasan itu sudah bisa mewakili alasan kebosanan saya, dan saya mau untuk bisa mengobati kebosanan saya dengan cara yang baik, tapi tetap tidak menghilangkan manfaat facebook itu sendiri.

Saya juga masih menikmati seneng nya mendapatkan pesan intim atau perhatian dari sahabat-sahabat saya lewat inbox. Malah sahabat-sahabat dekat saya, atau saudara perempuan saya yang juga sahabat saya, bukan orang yang aktif di facebook, tapi mereka rajin mengontak saya lewat inbox atau imel, dengan berita-berita intim yang saya tunggu-tunggu kehadirannya. Saya seneng janjian chatting dengan mereka, dan saya menikmati hubungan jarak jauh yang sesekali tapi intim ini.

Ya, ketika saya mulai bosan dengan facebook saya memilih untuk menghias saja hubungan saya dengan facebook, bukan memutuskannya. Saya menghiasnya dengan cara yang saya anggap baik dan pas. Saya akan mengurangi masuk ke HOME di facebook untuk membaca status kawan-kawan saya. Saya akan mengurangi frekwensi dan lebih berhati-hati dalam menuliskan “What is in my mind” di facebook saya, karena takut membosankan orang lain dan takut salah memilih kata sehingga bisa menyinggung perasaan orang lain. Dan tentu saja saya akan mengurangi frekwensi saya mengunjungi facebook.

Saya akan melihat bagaimana kelanjutannya nanti, apa Facebook masih mengantongi mudhorot dan manfaat yang serupa atau berbeda di masa datang. Saya akan tetep mengkritisi diri saya sendiri, bukan menyalahkan kehadiran teknologi. Yang pasti saya seneng bisa bersilaturrahmi dengan kawan-kawan saya, ya..secukupnya saja, sewajarnya saja, sepanjang nilai-nilai manfaat masih bisa di pertahankan. Saya fikir, untuk facebook, less is more karena kalau keseringan bertemu, rasa kangen jadi susah muncul. Padahal rasa kangen itu indah, dan saya tidak mau keindahan itu memudar. Salam Silaturrahmi.

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | February 7, 2010

Rendah Hati di Jaman sekarang?

Seorang kawan mengingatkan aku akan pentingnya rendah hati di jaman sekarang. Aku yang merasa sudah lama tidak mendengar ulasan tentang pentingnya sifat rendah hati ini, jadi berfikir dan mencoba menguraikan sendiri apa makna rendah hati itu, dan apa yang sebenernya sedang terjadi pada sifat yang satu ini di jaman sekarang.

Rendah hati, dalam bahasa Arab disebut Tawaddu. Dulu, waktu aku di pesantren, istilah ini begitu kental dialamatkan kepada ustadz /ustadzah yang banyak ilmunya tapi sopan, penuh kehati-hatian dan menyejukkan dalam bersikap dan berbicara. Jangankan mendengar mereka berbicara, melihat, atau mendenger namanya pun hati kita terkadang sudah merasakan kenyamanan akan keberadaannya.

Nah, itu di lingkungan Pesantren, lingkungan pendidikan yang sangat mengedepankan pembentukan akhlak yang baik bagi santri-santrinya, dan keteladanan sikap dari para ustadz/ustadzahnya, sifat rendah hati ini memang masih lestari, walaupun mungkin bisa saja mulai berkurang sekarang. Tapi di lingkungan komunitas lain seperti di lingkungan professional ataupun akademis, yang sekarang sudah tidak lagi bisa dibatasi oleh jarak, sifat rendah hati ini makin susah ditemukan, harganya semakin mahal.

Ya, rendah hati memang menjadi “barang mahal” sekarang ini. Aku menyebutnya begitu karena aku berfikir bahwa pekerjaan Allah untuk memilih yang dicinta karena kerendah hatiannya menjadi semakin sulit. Sulitnya mencari orang-orang yang rendah hati membuat Allah mau membayar “harga tinggi” untuk merangkul dan memeluk mereka dalam kasih sayang-Nya. Dan kalau Allah sudah memeluk mereka, aku yakin Allah tidak ingin melepaskan mereka, melainkan menjadikan mereka sebagai kekasih-kekasih Allah selamanya.

Tapi aduhai, walaupun aku tahu begitu mahalnya harga rendah hati ini hadapan Allah SWT, aku juga mengetahui betapa sulitnya di jaman sekarang ini untuk mengedepankan sifat rendah hati. Sekarang ini, hidup dan kehidupan kita berjalan dengan cepat, penuh dengan kompetisi akan pencapaian ke aku-an. Sebagian manusia (tentu aku didalamnya) ikut serta memeriahkan gemercik riaknya keakuan, menonjolkan apa yang sudah di punya, apa yang sudah dicapai, apa-apa yang baik yang sedang di kerjakan, bahkan apa-apa yang baik yang sedang dipikirkan.

Jangankan dalam berinteraksi secara langsung, bahkan dalam berinteraksi secara virtual pun (seperti facebook), sebagian orang “berlomba-lomba” menunjukkan siapa diri mereka. Sebagian (Wallohu A’lam bisshowab), sudah tidak lagi peduli apa efek penunjukkan diri mereka itu bagi orang lain ..yang mungkin saja tidak “seberuntung” mereka. Sebagian, tidak lagi mengindahkan apa penilaian Allah, apalagi memikirkan apa tujuan serta esensi penunjukkan diri yang berlebihan itu.

Dari semua yang aku perhatikan, aku menyimpulkan bahwa dari dulu makna rendah hati sangat erat kaitannya dengan sifat penyerahan diri kepada Allah SWT. Menyerahkan penilaian akan perbuatan, perkataan, bahkan perasaan hanya kepada Allah semata. Dan bilapun kita ingin menunjukkan pada orang lain, apa-apa yang baik sedang kita kerjakan atau lakuka, kita seyogyanya berusaha dengan sebaik-baiknya untuk memilih bahasa, sikap ataupun gambar yang baik dan sesuai, agar maksud baik kita tercapai, dan orang-orang di sekitar kita tidak tersinggung, tidak tersakiti, tapi malah terinspirasi dan tersemangati.

Akhir kata, memang hanya Allah lah yang mengetahui kedalaman hati seseorang. Dia pulalah yang juga paling tahu apa yang yang dimaui seseorang dalam perwujudan akhlaknya. Aku tidak lah layak menghakimi sebagian umat MU. Tapi, aku percayakan kata hati-ku saja, yang kadang bahkan saering salah dalam menilai. Tajamkan mata hatiku Ya Allah, dan tajamkan juga mata hati orang-orang yang soleh dan berusaha untuk menjadi umat-MU yang baik. Di dunia yang penuh dengan kompetisi ini Ya Allah, ajari kami berkompetisi dengan cara yang Engkau suka, di tempat, di jalan, dan arah yang Engkau ridhoi. Salam!

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | February 4, 2010

Deg-degan itu apa?

Deg-degan, sebuah kata sifat yang di ambil dari bunyi jantung dag –dig –dug ini, sudah berulang kali aku rasakan. Dan sepertinya deg-degan ini akan datang lagi dan kemudian pergi lagi. Ia bagaikan irama yang menyertai setiap phase dari kehidupanku, bentuknya tidak jelas, tapi ukurannya bertingkat-tingkat.

Dulu ketika aku masih kecil, dan kebetulan aku sering diminta membaca puisi baik dalam perlombaan maupun acara-acara besar, aku selalu memulai bacaan puisiku dengan rasa deg-degan. Waktu itu aku berfikir, rasa deg-degan itu hanya di rasakan oleh anak kecil saja, dan oleh karena itulah aku sangat berharap untuk cepat menjadi “besar”.

Tapi ternyata sekarang, diusia yang ke 34 tahun ini, rasa deg-degan itu masih saja aku rasakan. Entah seberapa samanya dengan rasa deg-degan ketika aku masih kecil dulu, tapi yang pasti..rasa deg-degan itu selalu muncul pada saat aku akan memulai atau mengerjakan hal besar.

Aku ingat betul, dulu aku deg-degan sekali ketika aku akan menghadapi ujian –ujian sekolah di Darunnajah. UMPTN, ujian skripsi di UNILA, ujian lisan untuk gelar masterku di Hawaii, masing-masing ku awali dengan rasa deg-degan yang hebat. Tidak hanya itu, memulai kerja pun aku mengawalinya dengan rasa deg-degan. Aku ingat betul bagaimana rasanya pertama kali mengajar di tempat kursus Bahasa Inggris di Lampung, di SMU Dwiwarna, bahkan waktu pertama kali kerja di Edinburgh dan di Hawaii. Hampir semua..semua hal-hal besar aku awali dengan rasa deg-degan. Dan sampai hari ini pun, aku merasakan deg-degan di hari pertama aku menjadi sukarelawan di Perpustakaan Umum di Riverside.

Setelah aku fikir-fikir lagi, dan mengilas balik masa laluku, aku berkesimpulan bahwa Deg-degan memang lah rasa yang tidak akan pernah hilang, sampai kapanpun. Tak ubahnya seperti rasa takut, sedih atau gembira, rasa deg-degan akan datang..silih berganti menghiasi perjalanan hidup kita.

Deg-degan bukan lah rasa yang menunjukkan kelemahan atau kepengecutan seseorang. Deg-degan adalah wujud dari kesadaran seseorang akan kekurangan diri, bahwa selalu ada satu persen misteri yang tidak terjangkau oleh alam fikir kita. Deg-degan juga adalah wujud niat kuat seseorang untuk berbuat yang terbaik terhadap sesuatu yang sedang dijalaninya. Ia bisa menjadi tolak ukur kemampuan kita dalam mengerjakan sesuatu; karena bila rasa deg-degan telah hilang, kita sadar bahwa kita sudah ada di zona aman. Dan tanpa rasa deg-degan, rasa puas akan sesuatu yang kita kerjakan ,bisa jadi sulit dirasakan kehadirannya.

Sekarang, di mana aku sudah merasakan deg-degan berulang kali, dan meyakini bahwa aku akan mengalaminya lagi, aku tidak lagi terganggu dengan rasa deg-degan. Aku menikmatinya saja, mengikuti alurnya, dan meyakini bahwa rasa itu akan hilang seiring waktu berjalan, seiring terciptanya kenyamanan dalam diriku dalam menjalankan sesuatu. Menurutku, rasa deg-degan menjadi penting, karena dengan deg-degan yang berulang-ulang, aku tahu aku tidak DIAM. Aku tahu aku ADA, aku BERBUAT, aku BELAJAR, aku BERFIKIR, dan aku mencari serta menghadapi tantangan dalam hidup ini. Buatku, hidup memang bukan cuma untuk diam dan bertahan, hidup adalah menghadapi tantangan…yang selalu di mulai dengan deg-degan. Hidupkan lah hidup kita, warnai lah dengan deg-degan, karena ia memang bermakna. SALAM….!

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | February 3, 2010

Tentang Orang-orang tua (Elderly People), di Indonesia dan luar negeri

Akhir-akhir ini aku jadi sering memperhatikan orang-orang tua, baik di tempat yang aku kunjungi; Edinburgh, Hawaii, California, maupun di Indonesia. Orang-orang tua memang menarik buatku, entah kenapa tiba-tiba rasa ‘sayang’ dan ‘hangat’ muncul bila ada di dekat mereka. Suara, nada bicara, gaya, apa yang mereka bicarakan, bahkan penampilan mereka pun buat aku betah berlama-lama ngobrol dengan mereka.

Aku mendefinisikan orang tua adalah mereka yang umurnya paling muda 60 tahun sampai menjelang 102 tahun. Di usia itu, masing-masing mereka memiliki kemampuan fisik dan otak yang berbeda-beda, (sudah tentu begitulah adanya manusia). Tapi yang pasti, setiap kali aku memperhatikan atau berhubungan langsung dengan mereka, aku mendapatkan pengetahuan dan pelajaran hidup.

Salah satu pengetahuan yang sebelumnya tidak mampir dikepalaku adalah bahwa “orang tua paling merasa SEDIH bila mereka tidak lagi dibutuhkan oleh keluarga atau masyarakatnya”. Sekarang, aku jadi lebih faham kenapa banyak orang-orang tua di luar negeri yang menjadi sukarelawan di berbagai tempat seperti di organisasi non profit, perpustakaan, atau rumah ibadah. Dulu aku fikir, mereka hanya sekedar mengisi waktu saja, tapi ternyata..ada hal lain yang jauh lebih penting dari itu,yaitu memenuhi kebutuhan mereka untuk bisa dibutuhkan, bisa memberi manfaat pada orang lain.

Kalau di Indonesia, sebagian dari mereka (biasanya yang agak berlebih) memang ada yang mendedikasikan diri maupun hartanya untuk kepentingan sosial, seperti menjadi ketua yayasan pendidikan, rumah yatim piatu atau aktif di lingkungan masyarakat sekitar. Tapi kebanyakan dari mereka tidak melakukan itu. Bagi yang tidak memiliki uang pensiun misalnya, dan hidup tergantung dari anaknya, mereka biasanya tinggal dengan anak-anak mereka, sambil menjaga cucu, dan sesekali aktif di masyarakat, seperti ikut serta di pengajian atau PKK di lingkungan terdekat. Tentu saja ini adalah wujud dari pemenuhan kebutuhan diri mereka. Tapi hal yang harus diperhatikan dan kadang tidak terfikirkan adalah, apa benar mereka puas dan senang bila sebagian besar hari tua mereka di isi dengan mengurus cucu?. Tentu saja, ikatan seorang cucu kepada nenek atau kakek nya sangat erat sekali, kasih sayang mereka tidak perlu diragukan, tetapi hal itu tidak berarti bahwa mereka ikhlas dan seneng terus untuk menjaga cucu terus menerus.

Aku berani mengatakan hal ini karena aku banyak mendengar dari ibuku bahwa ada beberapa kawannya (yang notabene sudah nenek-nenek) mengeluh kelelahan karena menjaga cucu setiap hari. Aku yakin, seorang nenek tidak akan sampai hati mengatakan langsung pada anaknya kalau ia kelelahan mengurus cucu setiap hari. Pelajaran ini menjadi penting buatku untuk melihat orang tua sebagai seorang individu. Aku sekarang lebih faham bahwa orang tuapun ingin memiliki waktu pribadi nya sendiri untuk bisa melakukan hal yang mereka suka, atau yang ingin mereka lakukan di usia pensiun mereka.

Bahkan di luar negeri sekalipun, aku beberapa kali mendengar cerita atau pengakuan kalau memang orang tua senang sekali dikunjungi cucu tetapi mereka tidak mau bila harus tinggal dengan cucu atau anak mereka sendiri dalam satu rumah. Mereka memilih hidup sendiri saja, apalagi kalau mereka merasa bahwa mereka masih mampu mengurus diri mereka sendiri.

Hal lain yang aku jadikan pelajaran adalah tentang pentingnya menjaga kesehatan fisik sedari muda. Sekarang, aku bisa ajah cuek..makan segala-gala, dan gak mau menggerakkan badan. Tapi ternyata, ini bukan hal enteng, karena kesehatan adalah harta, dia mahal sekali harganya. Semua cita-cita bisa hancur bila badan kita sendiri sakit. Kesehatan di masa tua adalah cerminan masa muda yang sehat . Kalau bisa, kita tidak hanya memikirkan kesehatan fisik semata, kesehatan jiwa dan fikirpun mesti kita jaga, dan kalau perlu kita perbaiki sepanjang waktu. Nah kalo semuanya seimbang, insyaAllah aku merasa dan berdoa masa tuaku akan baik, Amin ya Allah.. (hehe, jadi doain diri sendiri).

Aku memang kagum sekali dengan orang tua yang memiliki kesehatan prima. Contohnya adalah ibu kos ku waktu di Edinburgh dulu. Beliau berumur sekitar 75 tahun dan tinggal sendirian. Di usia senjanya dia masih mampu mengurus keperluan sehari-harinya sendirian, dan pada saat yang sama masih aktif menyulam dan membuat kerajinan tangan lainnya. Tidak hanya beliau, ketika aku di bis, di supermarket, atau di tempat-tempat umum lainnya, aku sering melihat orang-orang tua berjalan sendirian, untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka. Di Hawaii, salah seorang kawan di kelasku adalah juga seorang nenek-nenek berusia 70 tahun. Ia memutuskan untuk ikut kelasku, untuk belajar lagi katanya. Subhaanallah ya..usia tua, tapi semangat masih menyala, aku kagum..sekali!

Nah tentu saja sikap orang tua dan bagaimana masyarakat memperlakukan mereka bisa sangat berbeda di tempat satu dan lainnya, tergantung nilai-nilai budaya, norma, dan agama yang di anut dan di praktekkan oleh masyarakat tersebut. Keinginan orang tua untuk tinggal dirumahnya sendiri misalnya di Amerika, bisa diasumsikan sebagai tindakan ketidak pedulian anak pada orang tua, atau lebih kasarnya wujud kedurhakaan anak pada orang tua, oleh sebagian masyarakat Indonesia. Orang tua yang masih saja bekerja mencari uang hingga ia sudah merasa tidak mampu lagi, bisa dianggap sebagai orang tua yang hanya mementingkan kehidupan dunia semata. Well, memang betul kok, sebagian manusia banyak yang menilai manusia lainnya hanya berdasarkan dari apa yang mereka percaya dan suka saja. Kadang-kadang, kita manusia memang sering tidak berbuat adil dalam menilai sesuatu; timpang, setengah-setengah, tidak menyeluruh.

Ehm..sementara itu saja yang bisa aku rangkum. Aku memang memperhatikan orang-orang tua, dan aku akan tetap begitu. Aku berharap, berusaha dan berdoa semoga kalau Allah memanjangkan umurku, dan aku bisa sampai ke usia tua, aku bisa hidup dengan baik, seperti apa yang Allah mau saja, hanya yang Allah mau saja.

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | January 31, 2010

Kontemplasi

Menerawang aku, mengingat kembali masa lalu, yang lewat dimakan waktu
Menembus batas tahun, bulan, dan hari. Penuh keramahan dan sesekali debu

Mengembara aku, ditemani rindangnya pohon, mekarnya bunga, dan ranumnya buah
Hijaunya rumput dan bebukitan, indahnya kicauan burung dan hangatnya matahari
Semua berlomba memamerkan keindahan, mengajakku menari di rumahku sendiri

Sekarang aku ada di suatu masa, dikitari perhiasan dunia yang berlimpah
Dimana aku tak perlu lagi menawar, apalagi menggadaikan peluh keringat
Hanya digiringnya aku pada perenungan akan diri, hidup dan kehidupan

Aku jadi terdiam, hatiku bergantian berdesah, berkata, bahkan berteriak
Melafazkan jelas-jelas kalau aku tidak mau terbelenggu sang nikmat fana
Apalagi sampai tersungkur, melemah, tak mampu terbangun dan terhinakan

Aku takut kelalaian, karena semangatku beramal dan belajar masih berkobar
Aku masih cemburu akan kepintaran, keikhlasan, kesederhanaan, dan kearifan
Para kekasih hati-MU yang lebih dulu sudah Kau rindu, peluk, dan Kau cinta

Lidahku sungguh tidak akan mampu menyebut semua nikmat dariMu satu-satu
Aku hanya mampu memohon agar Engkau Tuhan, tidak bosan temani aku
Untuk bisa mensyukuri dan menggunakan nikmatMU dalam ridho dan mauMu

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | January 20, 2010

Seni hidup di Amerika (sebagai mahasiswa, pekerja, dan atau penduduk)

Dulu, hampir tidak pernah terfikirkan olehku  dan suami akan punya rumah di Riverside. Sebetulnya, ini bukan hal pertama yang “unexpected”. Buat kami berdua, banyak lagi hal lain, yang sekarang ada dan sudah terjadi …yang semuanya   tidak pernah kita duga sebelumnya. Seiring waktu berjalan, rencana kita kadang tidak sesuai dengan keadaan dan kesempatan, malah kadang berbelok ke arah lain, dan dalam waktu yang bersamaan, kesempatan bisa datang tanpa di undang, yang harus kita tangkap, kita perjuangkan dan  bahkan kita pertahankan. Contohnya ya rumah kita ini, kita juga melihatnya sebagai sebuah kesempatan. Kesempatan dan tentunya nikmat supaya kita bisa hidup to the fullest di negara ini, Amerika. Negara yang bukan tanah kelahiran kami, tapi bisa saja menjadi “home” buat kami berdua.

Life to the fullest maksudnya adalah kami ingin benar-benar merasakan “seninya” menjadi penduduk US, bukan hanya menjadi pendatang yang (bisa jadi) hanya atau lebih memikirkan diri sendiri saja atau cuma tahu sedikit  tentang serba-serbi hidup di Amerika.  Ehm iya, walaupun kami udah lama tinggal di Hawaii (sejak 2002) dan pernah juga setahun di Scotlandia, kami (aku khususnya) merasa bahwa phase sekarang agak berbeda. Dula waktu suami masih belajar dan aku kerja ini dan itu…dan kami tinggal di asrama mahasiswa,  kami tidak banyak memiliki “tanggung jawab”. Uang beasiswa, cukup buat bayar sewa satu kamar berdua dan asuransi kesehatan. Boro-boro mikirin asuransi kendaraan, punya mobil tidak bisa..karena bikin SIM pun gak bisa. Biaya makan dan kebutuhan bulanan lainnya, cukup-cukup aja buat berdua. Gak ada cerita buat acara besar dan ngundang sekitar 40 orang, misalnya. Gak ada juga cerita menjamu tamu yang datang ke rumah. Uang beasiswa cukup buat beli buku dan makan sehari-hari, sementara uang gaji kerja cukup buat biaya yang lain2, termasuk tambahan buku buku sekunder, biaya travel, biaya hiburan/nonton, beli baju dan kebutuhan sekunder lainnya.  Semua lancar..aman..simple.

Nah sekarang, agak berbeda. Karena kami tidak berpikir tinggal disini hanya “singgah semata”, banyak hal yang dulu tidak kami pikirkan dan ketahui, sekarang menjadi perhatian kami.  Agak menantang, tapi kami enjoy melakukannya.  Kami jadi banyak belajar dan berharap semoga…semuanya bisa bermanfaat di kehidupan kami selanjutnya. Nah hal yang menatang tapi fun itu diantaranya adalah… kemestian kami untuk  tahu tentang bagaimana cara yang aman dan mudah membayar  kebutuhan hidup sehari-hari, gimana mencari asuransi yang pas dan baik untuk rumah, kendaraan dan juga kesehatan, gimana mencari cara dan pengetahuan untuk bisa membetulkan sekaligus merawat rumah (gak pake bayar2 tukang karena muahal!), gimana  bisa menyetir  sendiri kesana kemari, gimana mengerti hal-hal yang sifatnya hukum/legal , dan tentunya harus tahu bagaimana pajak ini dan itu berlaku. Sementara soal mencari  makanan, masih agak sama..dulu atau sekarang, kita berusaha cari yang sehat, baik, dan pas di kantong. Nah khusus untuk makanan, sekarang kami harus menimbang-nimbang…apa perlu punya “costco card” misalnya (wholesale grocery yang murah), dan apa perlu mengumpulkan kupon2 potongan belanja? — Aih, kita belum putuskan yang ini.

Selain itu semua, tentunya..kita juga mesti belajar pinter2 bergaul sama orang-orang disini. Baiknya ya belajar terus menerus bagaimana supaya kita bisa di terima disini… dan supaya kita juga bisa menerima mereka. Kita belajar terus supaya bisa hidup bersandingan dengan nyaman, saling menghormati, dan tentunya saling membantu, tanpa “merepotkan”.  Dulu, Alhamdulillah, hubungan ku sama kawan2 di kantor (semoga..) baik2 saja, pas kuliah juga baik2 ajah. Yah dimana2 sama aja, manusia ada aja yang bae, yang jahat, yang nyenengin, yang nyebelin, de el el and de es te. Semua tergantung sama kita aja, karena apa2 bisa jadi susah kalo dibawa susah.

Prinsipku dalam bergaul…ya berusaha untuk genuine,  berusaha gak nyusahin temen, berusaha sensitif atau gak mau usil sama urusan pribadi (agama, seksual, keluarga, keuangan, pendidikan) sampe orang tersebut ngerasa nyaman buat berbagi, berusaha untuk mencari kesamaan (bicara soal kuliah sama yang kuliah, bicara soal duit sma yang punya duit, he he), dan berusaha untuk tidak memaksa atau menghakimi dalam hal apapun. Masing-masing orang punya filosofi hidupnya sendiri-sendiri, yang tentunya sangat di warnai oleh latar belakang keluarga, lingkungan maupun pendidikannya. Aku menghormati setiap-nya, bukan kapasitasku untuk menghakimi, karena itu urusan Allah semata. Tapi tentu kalao aku dimintai saran atau pendapat akan sesuatu, aku akan berusaha jujur dan tidak akan memaksakan filosofi hidupku pada orang lain. Aku tidak akan pernah sempurna, aku hanya bisa berusaha.. dan aku mau terus belajar..dari siapapun, di manapun dan kapanpun.

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | January 20, 2010

Cari-cari Rumah di Riverside Bag. 5 (FINAL)

Yay! Proses pembelian rumah hampir selesai, sekitar 75% nya, walaupun tetep ajah semuanya belum pasti sampe kita terima kunci rumah.

Belum lama, tawaran kita kepada si penjual untuk mengganti system Cooling and Heating dengan yang baru dan memperbaiki WC yang sedikit bocor sudah di kabulkan. Awalnya kita minta 3 perbaikan, tapi ternyata yang dikasih hanya 2 perbaikan saja, masih Alhamdulillah. Sebab biaya penggantian cooling and heating itu adalah $7250, weee..muahal, dan tentu aja kita tidak sanggup. Oleh sebab itu, kesediaan penjual untuk benerin AC/Cooling system-nya bener-bener anugrah.

Nah belakangan kita malah baru tahu kalo ternyata realtor bersama agent penjual rumah, adalah orang  yang akan membayar biaya perbaikan WC. Lumayan, satu WC $75-150-an, jadi Alhamdulillah lagi. Yah..setelah kita pikir-pikir, wajar saja kalo realtor dan agen penjual membantu kita, kalo bagi rata seorang 100 misalnya, gak seberapa dibandingkan honor yang akan mereka terima kalo rumah kita terjual. Tapi walaupun begitu, tetep saja ini mesti kami hargai karena kemungkinan besar realtor/agen tidak akan mau campur tangan dengan pengeluaran biaya perbaikan rumah, jadi Alhamdulillah lagi.

Wes, setelah dua perbaikan disetujui penjual, kami diminta datang ke kantor agent untuk menandatangani biaya “closing cost”. Biaya ini lumayan banyak termasuk biaya garansi rumah, inspector, dan asuransi. Alhamdulillah setelah biaya tersebut kita bayar lunas. Kita tinggal menunggu waktu untuk mengecek rumah, sekali lagi..untuk memastikan apa kita benar-benar suka dengan rumah itu, dan bener-bener jadi mau membelinya. Walaupun he-eh, emang lucu..masa iya kita gak jadi beli rumahnya ..kan kita udah bayar macem2? — Tapi ya siapa tahu ya..pikiran bisa saja berumah dalan satu detik. Nah alkisah, jadilah kita melihat rumah yang terakhir kalinya, di siang hari bersama realtor dan kebetulan di rumah itu juga ada penjualnya.

Setelah puter2 rumah beberapa kali dan lihat lebih ditel lagi, Alhamdulillah hati kami berdua semakin mantap untuk membelinya. Ternyata, rumah itu makin hari makin mempesona. Dan..sampai akhirnya, waktu pertemuan terakhir antara kami, penjual dan realtor pun tiba, Eng…Ing..Eng!!  kami terima KUNCI rumah!!!  Yap, tepat tanggal 16 Desember 2009, jam 3:30 sore, kami berdua terima kunci rumah, Alhamdulillah.  Sebetulnya, transaksi sendiri selesai tanggal 11 Desember, Cuma karena kita member waktu kepada penjual untuk stay 4 hari setelah traksaksi selesai; member kelonggaran waktu pada mereka buat pindah-pindah, kami jadi bisa masuk dan memindahkan barang-barang kami pada tanggal 16 Desember. Nah..dengan memberi waktu 4 hari pada mereka, kami  dapet imbalan mesin cuci sekaligus pengeringnya. Alhamdulillah..wa syukurillah. Allah Memang Maha Besar!! Semua tidak akan lancar seperti ini tanpa ridho dan izin dari-Nya.

Jadi, tepat 16 Desember 2009, jam 3:30 sore, kami terima kunci rumah. Rasanya…SENENG BANGET….!!! Tapi agak GUGUP  juga, maklumlah ini  komitmen besar. Kami berdoa semoga segala kebaikan dan keberkahan akan menghiasi rumah kami ini. Dan semoga Allah melindungi rumah ini dari segala mara bahaya dan bencana. Semoga ketentraman, kedamaian, dan kasih sayang selalu menghiasi penghuni rumah ini. Rumah sementara di dunia yang fana ini..karena semua,semua..yang kita “miliki” didunia ini tidak ada yang abadi, dan semoga  aku, suamiku dan orang2 yang baik didunia ini akan mendapat kan rumah yang indah dan abadi di akhirat nanti. Amin..

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | December 2, 2009

Sifat Riya = Sombong = Suka membangga-banggakan Diri

Segera setelah aku membaca salah satu ayat dalam surat Al-Hadid, aku dingatkan kembali bahwa manusia memang digambarkan sebagai makhluk Allah yang suka membangga-banggakan diri/Riya, baik dalam hal banyak harta maupun banyak anak. Aku juga ingat di ayat yang lain yang menyatakan kalo manusia memang diciptakan cinta akan anak-anak, harta, dan juga kendaraan.

“Ehm…emang betul ya yang…harta..anak2 dan kendaraan” begitu kataku pada suamiku. “Dan banyak juga manusia yang tidak sadar kalo mereka sedang , telah dan selalu membangga-banggakan diri mereka, akan banyaknya anak, harta, pun jabatan maupun kedudukan. Jangan-jangan, kita juga termasuk didalamnya ya..wah jangan sampe deh, Astagfirullahal Adzim.., begitu kataku”.  Suamiku cuma tersenyum sambil mengangguk-angguk.

“Tuhan memang hebat!” begitu kataku lagi. “Dia tahu betul sifat-sifat manusia”. Masalahnya adalah..kalao Tuhan memang mengakuinya, terus sikap terbaik kita bagaimana ya? Begitu pikirku. Apa tidak bolehkan sedikitpun ada rasa bangga dalam hati kita akan “harta” yang kita punya?

Aku dan suami terus “berdiskusi” dan sampai pada satu bahasan kalau “rasa bangga/riya’ akan keberhasilan diri tentu tidak akan bisa hilang atau dihapus begitu saja. Allah pun sudah menyebutkannya dalam Al-Qur’an kalo itu adalah watak manusia. Yang harus di garis bawahi adalah bahwa..ketika kita sedang berbangga, kita harus terus selalu sadar untuk tidak mengharap pujian orang lain, tidak menimbulkan fitnah bagi orang yang mendengar atau melihatnya, dan apalagi menyulut rasa permusuhan. Mungkin ini..maksudnya bersyukur? Ehm…ya bersyukur.

Kita harus rasakan dan ucapkan “kebanggaan” itu dengan hati-hati..bukan hanya dari dan dengan sepenuh hati, melainkan juga dengan selalu berorientasi untuk mengembalikan semua “harta” yang kita miliki kepada Allah SWT, Sang pemilik segala. Apalagi, kita juga harus yakin kalo tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa campur tangan Allah SWT. Tidak ada yang abadi di dunia ini, tidak pernah dan bakal ada. Oleh karena kefana-an harta itulah, kita sebisa mungkin tentunya, bisa berbagi “harta” kita dengan orang lain yang memang pantas/layak dibagi. Dan sebisa mungkin juga tidak menjadikannya sebagai tujuan hidup, melainkan hanya alat semata. Alat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Pertanyaan selanjutnya adalah,  “apakah hanya sesuatu yang sifatnya material saja yang bisa dibangga-banggakan?” Ehm…I don’t think so. Aku dan suami juga setuju kalo ternyata  bangga akan kesolehan dan banyaknya ilmu  juga sama tidak baiknya. Kami sependapat kalo sifat merasa paling soleh, paling pintar atau paling takwa dan baik hati di antara orang lain adalah hal yang sangat tidak baik. Kami sepakat kalo beragama bukan untuk dibangga-banggakan. Agama..adalah untuk diresapi dan difahami maknanya. Agama juga untuk di imani kebenarannya dan keberagamannya..dan juga untuk dipraktekkan dengan keikhlasan hati, tanpa mengharap pujian dari orang lain, apalagi sampai menyulut fitnah.

Ehm… pagi itu, ketika kami diberikan semangat, kemampuan, dan keindahan untuk menikmati jalan kaki di pagi hari, aku dan suami mengakhiri diskusi  pagi kami dengan senyuman. Senyuman tanda kesepakatan pada pemahaman akan sifat berbangga diri/Riya, yang semoga (dengan segala kelemahan kami) bisa kami sikapi dengan baik. Hanya Allah lah Yang Maha Tahu Segala…Dan Hanya Kepada-Nya lah kami Berserah Diri..

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 28, 2009

Cari-cari Rumah di Riverside Bag. 4

Akhirnya..appraisal price  (harga taksiran) rumah yang kita akan beli,  keluar juga.  Kabar baik…ternyata harga rumah yang ditawarkan si penjual dan udah juga kita setujui, …adalah harga PAS. Harga yang memang sesuai dengan luas tanah, kondisi bangunan secara umum, fasilitas rumah/ruangan, dan juga kondisi lingkungan.

Menurut hasil laporan dari si penaksir harga  ‘home price appraiser’, yang kita gunakan jasanya dengan membayar $ 400, harga PAS tersebut didapat dari pertimbangan yang matang dengan cara membandingkan rumah yang akan kita beli dengan rumah-rumah (ada 9 rumah) di lingkungan sekitar yang sudah terjual lebih dulu. Yang dibandinginnya adalah luas tanah, kondisi bangunan secara umum, fasilitas/ruangan yang ada di dalam rumah dan juga lingkungannya. Pokoknya laporannya lengkap…banget!…rinci!

Setelah harga taksiran kita dapetin, kita juga dapetin laporan secara lisan dan tulisan tentang “keadaan” rumah secara rinci (inspection report).  Dan biaya menyewa inspector adalah sekitar $550 untuk 5 jam lebih proses pemeriksaan. Dia datang jam 8:30 untuk periksa rumah sendirian, dan jam 2 siang, kita datang untuk mendengarkan apa-apa yang kurang mantap/perlu diperbaiki dari rumah ‘kita’.

Dari proses inpskesi itu, aku dan suami jadi belajar banyak tentang kondisi rumah, tidak hanya dari tanya ini dan itu ke inspector, tapi juga dari hasil membaca teliti laporan pemeriksaa rumah yang cukup panjang. Laporannya lengkap…dari mulai yang kecil hingga hal besar yang dia sarankan untuk diganti segera, bisa menunggu untuk diganti, dan atau tidak diganti pun, tidak apa-apa.  Setelah mengerti kondisi rumah, kita mencari tahu berapa biaya perbaikannya. Kita cari tahu dech, dari mulai browse di internet, tanya ke agent ..sampe minta tolong tukang nya sendiri (technician) untuk meriksa dan nentuin harga perbaikan.

Iya, memang mengetahui harga perbaikan rumah itu penting. Kalo kita sudah tahu berapa biaya yang akan kita keluarkan untuk perbaikan, kita berencana untuk nego harga  dengan si penjual. Kita berharap dia bisa menurunkan harga jualnya atau dia bisa memperbaikinya sendiri sebelum transaksi jual beli rumah ini kita syahkan.

Kita lihat nanti, kita berdoa..semoga kita dapat yang terbaik. Yah, memang begini lah kalo beli rumah yang sudah tua umurnya. Indah..penuh karakter..homey..cantik…, tapi ya namanya juga sudah berumur..mau di biarkan bisa saja, masih bisa juga ditinggali, tapi kalo mau di make over sedikit/banyak..ya tentu tidak apa-apa juga. Semogalah.. , let’s see…pastinya memang harus sabar..ngerti apa yang lagi kita jalani..mau belajar..dan ehm..banyak doa juga.

Older Posts »

Categories