Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 12, 2009

Tidak pernah berubah..

Masih kuat dalam ingatanku belasan tahun yang lewat

Engkau lemparkan senyum manismu,yang laksana bulan sabit

Engkau untaikan kata-kata cinta anak muda, buatku terpikat

Aku menyambutnya hangat, sambil bermain dan kosong dari niat

 

Saat itu, aku tahu aku sudah terpanah asmara, mengalir ringan..

Tanpa rencana, tanpa cita-cita, tanpa berliku-liku, tanpa beban..

Aku masih perempuan muda, masih sebatas bisa menikmati saja

Tak peduli apa terjadi nanti, hanya ikuti dan penuhi hasrat semata

 

Namun engkau sebaliknya, cintamu bukan mainan

Tulus perhatian dan kebaikan mu bukan isapan

Engkau mengerti dengan sepenuh kasih sayang

Kalau aku masih perlu waktu untuk memutuskan

Dan masih perlu masa untuk berpetualang

 

Sampai detik demi detik pun berputar, engkau masih saja mencinta

Hingga aku goreskan luka di hatimupun, engkau masih saja mencinta

Sampai suatu masa, kau benar-benar  membuat hatiku luluh tak berdaya

Hingga dengan sadarku, aku ungkapkan kalo aku ingin segera kau pinang

 

Sekarang, setelah sebelas tahun perjalanan cinta, engkau masih lagi makin cinta

Engkau bahkan tidak pernah berubah, tidak pernah tergoda, apalagi sampai mati rasa

Sementara aku disni, masih saja luluh, masih tak mampu beranjak, merasakan indahnya

Hidup terperangkap dalam hangatnya cinta. Sayang…aku juga selalu mencinta…

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 11, 2009

Cari-Cari Rumah di Riverside Bag.3

Alhamdulillah kita dapat perkembangan baru tentang rumah yang kita taksir. Seneng dapat kabar karena kami tidak perlu menunggu lama tentang bagaimana status transaksi kami. Tapi disisi lain kami juga harus coba ngerti kalo ternyata kabar yang kami terima adalah bahwa si penjual tidak menerima harga yang kami tawar. Mereka tidak ingin menjual rumahnya lebih murah dari harga yang sudah dia patok. Dan setelah timbang sana sini, dan bener-bener meyakinkan lagi kalo itu bener2 rumah yang kita mau, kita akhirnya menerima tawaran harga dari si penjual.

Menurut agentku… si penjual memang sangat cinta dengan rumah itu, dan sudah hampir 8 bulan mereka maju mundur untuk menjual rumahnya.  Bukan hanya karena cinta pada rumah meraka, si penjual juga agak kurang ikhlas menerima kenyataan kalo harga rumahnya sekarang memang tidak setinggi tahun lalu. Ditambah lagi mereka memang sedang butuh uang untuk mencari rumah yang lebih baik. Mereka merasa harga rumah mereka mestinya lebih tinggi dari harga yang sudah mereka patok ke kami.

Tapi…harga traksaksi masih belum pasti, karena masih sangat tergantung dengan seorang appraisal. Kami dan juga si penjual belum tahu berapa harga yang nantinya akan di berikan oleh appraisal. Harga itu bisa saja lebih murah dari harga yang di maui si penjual. Dan kalo seandainya harga rumah itu kemahalan, menurut appraisal, kami tidak akan jadi membelinya . Kenapa? Karena  kami hanya di beri pinjaman uang… sebesar harga rumah yang di tentukan oleh harga pasar/appraisal.

Ehm…Sudahlah, kita lihat nanti bagaimana kelanjutannya. Aku dan suami memang sudah cinta dengan rumah itu tapi kalo memang itu bukan milik kita, tentu saja kita harus ikhlas dan tidak usah maksain. InsyaAllah Allah akan memberikan lagi yang lain yang lebih baik, Amin..Tapi asli dech, perasaan jadi campur-campur kaya gini, nervous..excited, scary…”that’s a lot of freaking money beibeh!”

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 9, 2009

Rasa di masa lalu..

Memang siapa pula yang tahu

Apa yang engkau rasa tentang masa lalu

Bahkan dirimu sendiri tak sadar larut

Dalam dunia yang mampu membunuh

Dirimu sendiri dengan pasti, tapi perlahan

 

Engkau boleh saja pandai berpolah

Berpura pasrah, seolah-olah tak salah

Mencari alasan, mengagungkan kebohongan

Bahkan tega menggugurkan arti ikatan

Yang sudah kau buat sendiri dengan sadar

 

Aduhai engkau kawan yang sedang salah jalan

Jangan mau engkau di bodohi oleh hadirnya rasa

Masa lalu yang pesonanya cuma sementara

Jangan pula engkau jatuh, tersungkur, terhempas!

Mengejar seonggok fatamorgana cinta

Yang abadi ada di dekatmu, selalu kau cinta dan mencinta..

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 9, 2009

Aku, sang cerita dan kisah

Aku mendengar pada banyak cerita

Tentang hidup dan kehidupan

Orang-orang yang pergi dan datang

Kepadaku sebagai sahabat dan teman

Atau  mereka yang hanya singgah sebentar

 

Aku Belajar dari semua kisah

Sarat dengan hikmah dan khazanah

Mengantarku pada sebuah arah

Tentang sebuah pencarian makna

Akan kehadiran kita di dunia fana

 

Cerita dan kisah punya kekuatan

Yang bisa menaklukkan keakuan

Dan mampu merobohkan kekhilafan

Serta memboyongku pada kemauan

Untuk terus mau mendengar dan belajar

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 9, 2009

My attitude towards Facebook

This is my third note about Facebook, and I am proud to confess in this note that my relationship with Facebook is getting better.  It is not that I’ve known all of Facebook’s applications, but I’ve found the best attitude on how to deal with FB in general.

Attitude for me, has always become the thing that matters the most in life. And to have the best of it in relations to my life and FB, I had blended one cup of good intention and another one cup of genuine, kind heart.

Why is that? Yea…that blended recipe has taken me out from the zone of guiltiness. The zone that tells me to escape from FB and even not to ever join FB in the first place. The zone that may consist of millions people who blame FB for their sorry life, and have an endless negative thinking about it.

FB can or will always be a bad thing if I stay negative.  I believe that it needs a big heart to sincerely post my status, read, appreciate, understand, support, or even give nice comment to other people’s statuses.  It is none of my business to judge my friends’ intention regarding their statuses, or even worse their personality.  I still can learn, laugh, get inspired from that tho’.

But well, with all that, I still should always remember not to be addicted to FB. I should be in moderation using it. Like many other things I treat in my life, I like to be moderate.

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 6, 2009

Makan di Resto, Asin..Asem…Muahal!

Baru ajah pulang makan malem diluar nich, di resto Mediteranian deket kampus UCR, cuma abis makan malah  ngerasa seubeul. Iya, seubeul ajah ternyata itu resto cuma ninggalin kenangan ‘muahal’nya doang.  Emang bisa jadi daku salah order makanan, tapi asli..dari rincian menu yang daku pesen (sald, falafel, hummus)  semuanya gak pas dilidah, yang keaseman-lah, ..keasinan-lah, ..ampe kebanyakan, he he.

Wah..padahal daku termasuk fleksibel sama makanan loch. Biasanya daku  pesen yang aneh2 kalo di Resto. Biasanya juga suka cerewet nanya, dari apa bahannya… dan gimana masaknya (berusaha hati-hati cari yang gak ada campuran babinya), he he. Tapi emang gak sampe cerewet2 banget sech, atau sampe mikir jauh..banget, kaya “apa penggorengannya pernah di pake masak babi atau engga ya..” he he. Gak lah..gak gitu2 amat. Kalo iya begitu, wah…bisa ampe kagak pernah makan di resto deh kita.

Alkisah nih, selain keaseman dan keasinan. Harganya juga rada kurang pas. Pas, si pelayan bilang, “it’s $40 dollar and 32 cents”..daku bilang, “it doesn’t sound right”, terus dia tunjukin deh rinciannya. Daku bilang, “kenapa pula harganya beda sama di menu”—“Oh ya bu, itu harga menu siang, ini belum di  ganti dan porsinya juga besaran kok”—walah, terus aku bilang lagi, “ogah ah bayar segitu, kemahalan, gue ganti order aja, lagian gue gak mau porsi besar”, dalam hati sih sebenarnya gue ngerasa ketipu juga. Ditambah lagi, gue ogah pesen satu porsi besar (porsi makanan yang kecil ajah di resto Amerika udah cukup buat ukuran orang Indo). Nah ini, gue juga baru pertama kali mampir and gak tahu enak apa kagak-nya.  Akhirnya sih, si pelayan bilang, “OK mam, I will give you dinner portion for the price of lunch”. Daku bilang, “boleh lah..boleh”…ya  jadilah kita bayar 33 dollar, berapa cents gitu.

Sebenernya kalo harga $40 keatas tuch wajar buat ukuran sini. Kita juga sesekali lah bayar segitu kalo emang niat makan malem enak di luar.  Kalo ada syukuran khusus misalnya, atau sekedar mau romantis-romantisan di resto, kits biasanya rada rapihan dikit deh. Belum tips dan dessert, $40 keatas emang harganya. Cuma kemaren tuch, resto yang kita datengin semi FastFood, dan kelihatanya biasa. Kalo resto yang biasa, misal resto Vietnam, China atau Thai…$20 udah enak dan kenyang.

Anyway, selama transaksi berlangsung nich, misua mah santai aja. Emang dia gak pernah cerewet kalo di resto, dan dia selalu mesen yang udah pasti-pasti aja.  Karena misua selalu pesen menu yang ‘familiar’,  posisi beta jadi aman dech. Soalnya kan kalo ternyata pesenan beta gak enak, beta bisa minta makanan misua dech, he he.  Overall, masih tetep bersyukur bisa makan….bisa punya lidah yang bisa ngerasa beraneka makanan, bisa milih tempat makan dan bisa makan di temenin misua tersayang. Sebagian orang,  bisa jadi banyak jumlahnya…gak punya kesempatan kaya daku, “boro2 komplain soal rasa”, udah bisa makan pake nasi doaongan aja udah anugrah. Inget Neng, inget…bersyukur…bersyukur..

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 6, 2009

Marah dan Cinta

Dalam perjalanan merasai cinta

Aku terkadang tak bisa menahan amarah

Merobek sampai menusuk engkau punya jiwa

 

Di derunya nafas cinta yang bergemuruh

Aku sesekali terperangkap oleh nafsuku

Yang  dengan kencang bisa membelenggu

 

Dan ketika engkau menimpali

Di saat yang sama, aku menjadi  ngeri

Menghiba  waktu  bisa berputar kembali

Dan mencabut apa yang sudah tersuluti

 

Aku sang pemuja mahligai asmara

Tidak mau dikuasai semunya sesal

Tapi bisa meraih mahalnya bijak

Dan menuai butir-butir hikmah

 

Aduhai engkau pengisi relung jiwa

Peluk dan bantulah aku berlayar

Bersama kita berendam di lautan sabar

Agar selalu kita menggenggam dan merasa

Syahdu dan damainya surga rumah tangga

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 4, 2009

Jatuh cinta sama Rumah itu..

Ya Tuhan, aku jatuh cinta sama rumah itu….Gak mesti mikir dua kali untuk bikin offer sama rumah itu.

Aku suka buanged sama lay out nya, sama kamar mandinya, sama dapurnya, sama halaman depan dan belakangnya, sama kamar-kamarnya..Ya Tuhan, aku bener-bener jatuh cinta.

Aku bisa melihat diriku ada disitu, aku masak…baca..kerja..ngajar..semua, semua..ya Tuhan, aku sampe bayangin ada anak-anakku yang lagi maen-maen di halaman belakang sementara aku masak di dapur. Aku juga bayangin suami nulis di kamar kerja-nya, sementara aku juga sibuk dengan buku dan kerjaanku. Kita berdua ngobrolin terus rumah itu, sampe mau menjelang tidur..

Kemaren, setelah aku dan suami lihat rumah itu, aku langsung spend waktu 3 jam buat searching monthly expenses. Apa aja yang harus kita siapin, dan apa aja yang bakal kita keluarin bulanannya untuk ngerawat rumah itu. Ehm..InsyaAllah bisa, bisa..bisa!

Kita lihat nanti bagaimana perkembangannya. Karena penjualan rumah ini agak unik, si penjual gak akan jadi jual rumahnya kalo dia gak dapet rumah laen yang lagi dia taksir. Jadi semua serba tergantung.

Aku dan suami hanya bisa minta yang terbaik sama Allah, dan siap-siap pasrah kalo emang itu rumah bukan milik kita…

 

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 3, 2009

Istri Rumah Tangga

Frase “Istri rumah tangga” memang gak lazim didengar di telinga masyarakat Indonesia, aku sendiri pun  hampir tidak pernah menemukan frase ini sebagai status di KTP.  Frase “ibu rumah tangga” lebih lazim digunakan, yang seakan-akan menafikkan keberadaan wanita yang belum menjadi ibu,  memilih tidak menjadi ibu, atau tidak bisa menjadi ibu karena alasan kesehatan misalnya. Tapi pada sisi lain, frase ini juga bermakna optimis bahwa setiap perempuan yang menikah pasti akan menjadi ibu. Aku berpikir, kenapa tidak di gunakan saja frase yang lebih universal saja ya.., seperti “wanita rumah tangga” misalnya?

Anyway, omong-omong soal frase, aku merasa tidak layak menyebut statusku sebagai “ibu rumah tangga”. Aku toh belum menjadi ibu dan otomatis aku tidak melakukan hal-hal di rumah tanggaku yang berhubungan dengan ibu.  Oleh karena itulah, aku lebih memilih frase “istri rumah tangga”.

Ya, aku adalah “istri rumah tangga” terhitung sejak  Juni 2009 lalu. Ini tahun pertama aku menyandang status itu di sebelas tahun usia pernikahanku, tanpa deadline pekerjaan kantor atau pun tugas kuliah. Awalnya, memang tidak mudah,  apalagi aku baru saja menyelesaikan S2 ku, dan riwayat pekerjaanku juga cukup baik.  Tapi keputusan untuk menjadi IsRT ini sudah aku pikirkan masak-masak. Aku dan suami sudah bicara panjang lebar tentang ini dan terlepas dari karena situasi , aku sudah yakin bahwa ini adalah pilihanku sendiri.

Aku, seorang  istri rumah tangga, menjadi terbiasa dengan pertanyaan,  “Ngapaian aja loe dirumah?” –“Kapan kerja lagi”—“Apa gak bosen dirumah saja?”. Weleh-weleh, aku tidak mau menghakimi apa yang ada dalam kepala orang, dan mencoba mengerti kenapa mereka bertanya begitu. Aku tidak mau pusing dengan apa pertanyaan orang, dan tidak mau membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Pastinya aku sangat menghormati setiap keputusan seorang wanita,  untuk  bekerja atau tidak, untuk melanjutkan sekolah atau tidak,ataupun  untuk menikah atau tidak. Aku yakin, masing2 wanita memiliki alasan sendiri-sendiri untuk melakukan apa yang pantas dan membuatnya bahagia.

Aku melihat status baruku sebagai sebuah kemewahan. Kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh seorang wanita yang bisa hidup cukup dan bahagia dengan satu penghasilan saja. Kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang sudah pensiun. Sebuah kemewahan yang mahal dan susah dimiliki bagi sebagian orang.

Aku seorang istri rumah tangga, memiliki otoritas penuh atas apa yang akan aku kerjakan sehari-hari.  Memiliki kemewahan berupa waktu  yang lapang dan santai untuk beribadah, membaca, menulis,  memasak , berolah raga, mengurus rumah, berkebun, dan bersosialisasi, yang dulu kesemuanya hanya bisa aku lakukan di sela-sela pekerjaan atau tugas kuliah yang banyak. Aku istri rumah tangga, yang sadar betul bagaimana memanfaatkan waktu ini untuk berusaha menjadi istri yang selalu sedap di pandang mata dan menjadi penyejuk hati. Aku juga  selalu punya cita-cita untuk menjadi seorang kaka, kawan, sahabat, anak, dan tentunya hamba Allah yang bisa berlaku ihsan dimanapun aku berada.

It is our own life, and only us, our family/husband, and God who knows how to best live with it. Salam..

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 2, 2009

Catatan di Hari Ulang Tahun-mu!

Senyuman-mu begitu, buatku jatuh cinta lagi dan lagi

Kata dan sapa-mu sejuk terdengar, lahir dari hati

Canda-mu khas, menghias bahkan merubah hari

 

Hari ini, engkau berulang tahun..

Tak bisa aku merangkai ucapan..

Tapi mampu aku menengadahkan tangan

Menyusun doa-doa yang hadir berlarian..

 

Hari ini aduhai engkau kekasih hati

Semesta pun tahu dan jadi saksi

Kalo aku selalu mencinta dan memuji

Di setiap hari jadimu, sekarang dan juga nanti..

 

Selamat Ulang Tahun Sayang..

 

Older Posts »

Categories