Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 17, 2009

Arti Rumah

Perjalanan mencari rumah memang banyak membuat aku belajar banyak hal. Tidak saja soal seluk-beluk teknis membeli rumah dari mulai meminjam uang sampai memahami surat kontrak pembelian, aku juga berulang kali disengaja atau tidak berfikir tentang apa sebenarnya arti rumah buat aku dan suami dan kenapa kami memutuskan untuk membelinya.

Tentu saja ditengah kondisi ekonomi yang tidak jelas seperti ini, aku banyak juga membaca kalo tahun ini bukan tahun yang pas untuk membeli rumah. Sampai dua tahun kedepan, aku pun membaca kalau harga rumah akan terus menurun. Para pembeli rumah pemula seperti kami disarankan untuk menunda membeli sampai harga benar-benar down.  Ada juga artikel yang mengatakan kalo biaya berhutang dengan bank akan lebih besar ketimbang biaya menyewa rumah. Dalam hal ini penyewa dilihat lebih beruntung dibandingkan pembeli.

Akan tetapi di lain pihak, aku juga membaca kalo tahun ini adalah tahun yang tepat untuk membeli rumah. Bukan hanya karena banyak orang yang menjual rumahnya dengan harga murah karena ekonomi turun, tapi janji pemerintah untuk memberi uang sejumlah $8000-15000 bagi pembeli rumah pemula, memang sangat menggiurkan.

Diantara berita baik dan buruk tersebut, ada satu berita yang cukup ‘menantang’ buat aku dan suami. Berita tersebut sangat berhubungan dengan rencana kami kedepan..bahwa membeli rumah tahun ini adalah tindakan yang tepat asalkan..kami mempunyai pekerjaan yang aman, uang muka yang cukup, uang gaji yang pas untuk membayar kredit, dan juga keinginan untuk tinggal di rumah yang kami beli paling tidak untuk lima sampai sepuluh tahun kedepan.

Hm..let’s see…sampai sejauh ini, kami memang belum memutuskan akan tinggal di mana kami dalam lima tahun kedepan. Karena kedua pilihan baik pulang atau tetap tinggal sama-sama menjanjikan kehidupan yang baik buat kami. Masalahnya adalah kami memang harus pandai mencari kelebihan apa yang kami dapat di salah satunya. Kelebihan yang tentu saja tidak bersifat materi, tetapi lebih pada pencarian makna atas kehidupan kami berdua.  Dan bila kami bicara soal financial, tentu saja membeli rumah di Riverside, adalah sebuah komitmen yang besar. Tidak hanya karena harga rumah-nya yang memang nahal, tetapi juga resiko2 pembayaran rumah lainnnya seperti pajak, asuransi, dan pemeliharaan juga harus kami pertimbangkan masak-masak.

Anyway, sampai saat ini kami berdua tidak pernah berhenti berdiskusi tentang rumah. Sudah pula kami hitung2 pengeluaran setiap bulan-nya, he he..mahal. Dan sudah pula kami fikirkan apa arti rumah itu buat kami. Sampai saat ini, kalo kami hanya berfikir soal investment, kami bisa saja kecewa suatu saat nanti. Toh siapa pula yang tahu apa yang akan terjadi dengan ekonomi di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Para ekonom bisa saja berargumentasi dan menebak-nebak, tapi siapa yang bisa memastikan semua.

Kami berfikir, rumah adalah surga..tempat dimana kasih sayang..ketenangan, kedamaian, berkah dan tentunya produktifitas bisa di bangun dan di pertahankan selama-lamanya dengan niat yang baik. Kami harus siap dengan segala resiko, bila suatu saat memang uang yang kami bayar untuk kredit sama saja dengan harga menyewa. Kami harus terus berfikir positif, anyway…ini hanyalah rumah sementara, rumah fana didunia. Tempat kami yang kekal adalah di akhirat nanti. InsyaAllah kalau kami berusaha ciptakan surga di dunia dengan niat dan cara yang baik, Allah pasti akan meridhoi dan membantu kami dengan cara-Nya. Dan bila sudah tiba saatnya kami pergi ke akhirat, di tempat yang kekal..InsyaAllah…syurga Allah bisa kami kunjungi dan tinggali. Amin…

 

 

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 12, 2009

Jalan-jalan ke Goodwill (toko barang bekas)

Belum lama aku diingatkan oleh kawan baru tentang betapa beruntungnya dia membeli barang-barang di apartemennya dengan harga sangat miring. Dia bilang kalo semua peralatan dapur bahkan jaket musim dingin sekalipun dia dapatkan dengan puas dan harga pas di sebuah toko barang bekas, Goodwill.

Good will memang bukan toko barang bekas biasa. Uang yang di dapat dari hasil penjulan barang-barang bekas tersebut…digunakan untuk menyediakan training, kursus2 murah dan membayar upah kerja masyarakat tertentu di US. Nah barang-barang bekas tesb didapatkan dari sumbangan masyarakat juga. Semantara, orang yang bekerja di Goodwill juga macam-macam. Mereka bisa orang veteran, bisa orang cacat, atau imigran yang kesemuanya agak kesulitan mencari pekerjaan di toko biasa. Hebatnya lagi, Good will juga udah dapet kepercayaan dari pada donatur untuk terus beroperasi karena memang keberadaannya bawa manfaat buat masyarakat.

Well, sudah lama sekali aku tidak datang ke Goodwill. Nah terakhir aku kesana itu waktu aku masih di Hawaii, tahun 2006-an kayaknya. Waktu itu aku cari apa ya…ehm..gak jelas sih, tapi aku dapet celana kodoray hijau. Bagus banget! ..pas dipaha dan pinggulku. Hihi, sekarang mah itu celana udah di kasihin ke orang, udah seumpit atuch, aye kan tambah berat badan gitu loch.

Anyway, enggak seperti kunjungan2 ku sebelumnya ke Goodwill,  kunjungan kali ini agak berbeda. Niat awal sih, emang mau juga cari harga miring lukisan-lukisan antik atau furniture cantik yang masih bisa dipajang atau di pake di rumah (kalo jadi beli loch, he he). Tapi ternyata pas sampe disana, perasaanku berubah, aku udah gak sesemangat dulu lihat-lihat barang, tapi aku malah merhatiin orang-orang yang lagi belanja dan yang lagi kerja di situ.

Orang yang belanja  emang macem-macem, seperti layaknya toko biasa ajah. Dari mulai yang wajahnya dan bahasanya Meksiko, dari yang kulit putih, sampe yang kelihatan perlente dan tentunya yang tampangnya imut kaya aku juga ada, he he. Semua kelihatan serius dan juga asyik. Aku malah sempet denger seorang ayah bilang ke anak-nya (?), “Iya, kita kesini karena kita bisa berhemat banyak, toh barang-barangnya juga gak jelek kan?”.  Tapi emang kok, barang-barangnya gak jelek2 amat, mereka bersihin dulu semua barang sumbangan tersebut. Bahkan sebagian ada juga yang baru.

Nah kalo orang yang kerja emang aku lihat agak berbeda. Aku lihat laki2 separuh baya ngelap-ngelap  dan nyusun barang-barang dagangan, sepertinya dia seorang immigran, dan mungkin juga veteran (?). Kalo kasirnya sih aku lihat  ‘normal-normal’ aja, begitupun manajer tokonya.

Lucu banget dech, aku perhatiin mereka..banget!. Pikiranku jadi melayang-layang gak tentu arah. Kayaknya kalo aku jago nulis,  setiap orang ditoko itu bisa aku jelma jadi tokoh fiksi yang menarik.  Sayang, itu cuma sebatas hayalan, aku masih lagi harus belajar mencipta karya fiksi, aih aih….

Aku juga sempet mikir, “apa ada toko serupa di Indonesia ya?”. Kalo pasar loak, aku emang suka lewat di daerah Jakarta mana..gitu. Tapi gak kaya Goodwill lah bentuknya. Masih belum termanage besar-besaran seperti Goodwill. Dan kalopun toko serupa itu meraja lela di lingkungan masyarakat, ehm…kayaknya NOT BAD lach ya. Kan banyak tuch orang-orang miskin. Jangankan di desa-desa, di Jakarta juga banyak kok. Cuma, aku gak tahu juga…semua sangat tergantung ini dan itu.

Anyway, semangat belanjaku waktu kemaren juga biasa ajah, gak kaya dulu waktu aku dapetin kodoray hijau. Kali ini aku ogah lagi beli baju bekas (hi hi), aku kok merasa udah gak pantes lah beli yang beginian. Kayaknya sih emang aku lagi gak tertarik beli-beli baju kali ya. Asli males banget..kalo baru pun aku juga gak terlalu semangat. Baju gak penting…..udah banyak, udah cukup…kayaknya bukan itu yang buat aku seneng  sekarang-sekarang ini lah. Aku ogah waste apa-apa…aku mau produce..create or make aja lach, walopun  perlu waktu lama, hehe.

Walah jadi ngelantur, udah dech..Gitu ajah, cerita tentang Good Will-nya ya…Salam!

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 12, 2009

Tidak pernah berubah..

Masih kuat dalam ingatanku belasan tahun yang lewat

Engkau lemparkan senyum manismu,yang laksana bulan sabit

Engkau untaikan kata-kata cinta anak muda, buatku terpikat

Aku menyambutnya hangat, sambil bermain dan kosong dari niat

 

Saat itu, aku tahu aku sudah terpanah asmara, mengalir ringan..

Tanpa rencana, tanpa cita-cita, tanpa berliku-liku, tanpa beban..

Aku masih perempuan muda, masih sebatas bisa menikmati saja

Tak peduli apa terjadi nanti, hanya ikuti dan penuhi hasrat semata

 

Namun engkau sebaliknya, cintamu bukan mainan

Tulus perhatian dan kebaikan mu bukan isapan

Engkau mengerti dengan sepenuh kasih sayang

Kalau aku masih perlu waktu untuk memutuskan

Dan masih perlu masa untuk berpetualang

 

Sampai detik demi detik pun berputar, engkau masih saja mencinta

Hingga aku goreskan luka di hatimupun, engkau masih saja mencinta

Sampai suatu masa, kau benar-benar  membuat hatiku luluh tak berdaya

Hingga dengan sadarku, aku ungkapkan kalo aku ingin segera kau pinang

 

Sekarang, setelah sebelas tahun perjalanan cinta, engkau masih lagi makin cinta

Engkau bahkan tidak pernah berubah, tidak pernah tergoda, apalagi sampai mati rasa

Sementara aku disni, masih saja luluh, masih tak mampu beranjak, merasakan indahnya

Hidup terperangkap dalam hangatnya cinta. Sayang…aku juga selalu mencinta…

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 11, 2009

Cari-Cari Rumah di Riverside Bag.3

Alhamdulillah kita dapat perkembangan baru tentang rumah yang kita taksir. Seneng dapat kabar karena kami tidak perlu menunggu lama tentang bagaimana status transaksi kami. Tapi disisi lain kami juga harus coba ngerti kalo ternyata kabar yang kami terima adalah bahwa si penjual tidak menerima harga yang kami tawar. Mereka tidak ingin menjual rumahnya lebih murah dari harga yang sudah dia patok. Dan setelah timbang sana sini, dan bener-bener meyakinkan lagi kalo itu bener2 rumah yang kita mau, kita akhirnya menerima tawaran harga dari si penjual.

Menurut agentku… si penjual memang sangat cinta dengan rumah itu, dan sudah hampir 8 bulan mereka maju mundur untuk menjual rumahnya.  Bukan hanya karena cinta pada rumah meraka, si penjual juga agak kurang ikhlas menerima kenyataan kalo harga rumahnya sekarang memang tidak setinggi tahun lalu. Ditambah lagi mereka memang sedang butuh uang untuk mencari rumah yang lebih baik. Mereka merasa harga rumah mereka mestinya lebih tinggi dari harga yang sudah mereka patok ke kami.

Tapi…harga traksaksi masih belum pasti, karena masih sangat tergantung dengan seorang appraisal. Kami dan juga si penjual belum tahu berapa harga yang nantinya akan di berikan oleh appraisal. Harga itu bisa saja lebih murah dari harga yang di maui si penjual. Dan kalo seandainya harga rumah itu kemahalan, menurut appraisal, kami tidak akan jadi membelinya . Kenapa? Karena  kami hanya di beri pinjaman uang… sebesar harga rumah yang di tentukan oleh harga pasar/appraisal.

Ehm…Sudahlah, kita lihat nanti bagaimana kelanjutannya. Aku dan suami memang sudah cinta dengan rumah itu tapi kalo memang itu bukan milik kita, tentu saja kita harus ikhlas dan tidak usah maksain. InsyaAllah Allah akan memberikan lagi yang lain yang lebih baik, Amin..Tapi asli dech, perasaan jadi campur-campur kaya gini, nervous..excited, scary…”that’s a lot of freaking money beibeh!”

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 9, 2009

Rasa di masa lalu..

Memang siapa pula yang tahu

Apa yang engkau rasa tentang masa lalu

Bahkan dirimu sendiri tak sadar larut

Dalam dunia yang mampu membunuh

Dirimu sendiri dengan pasti, tapi perlahan

 

Engkau boleh saja pandai berpolah

Berpura pasrah, seolah-olah tak salah

Mencari alasan, mengagungkan kebohongan

Bahkan tega menggugurkan arti ikatan

Yang sudah kau buat sendiri dengan sadar

 

Aduhai engkau kawan yang sedang salah jalan

Jangan mau engkau di bodohi oleh hadirnya rasa

Masa lalu yang pesonanya cuma sementara

Jangan pula engkau jatuh, tersungkur, terhempas!

Mengejar seonggok fatamorgana cinta

Yang abadi ada di dekatmu, selalu kau cinta dan mencinta..

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 9, 2009

Aku, sang cerita dan kisah

Aku mendengar pada banyak cerita

Tentang hidup dan kehidupan

Orang-orang yang pergi dan datang

Kepadaku sebagai sahabat dan teman

Atau  mereka yang hanya singgah sebentar

 

Aku Belajar dari semua kisah

Sarat dengan hikmah dan khazanah

Mengantarku pada sebuah arah

Tentang sebuah pencarian makna

Akan kehadiran kita di dunia fana

 

Cerita dan kisah punya kekuatan

Yang bisa menaklukkan keakuan

Dan mampu merobohkan kekhilafan

Serta memboyongku pada kemauan

Untuk terus mau mendengar dan belajar

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 9, 2009

My attitude towards Facebook

This is my third note about Facebook, and I am proud to confess in this note that my relationship with Facebook is getting better.  It is not that I’ve known all of Facebook’s applications, but I’ve found the best attitude on how to deal with FB in general.

Attitude for me, has always become the thing that matters the most in life. And to have the best of it in relations to my life and FB, I had blended one cup of good intention and another one cup of genuine, kind heart.

Why is that? Yea…that blended recipe has taken me out from the zone of guiltiness. The zone that tells me to escape from FB and even not to ever join FB in the first place. The zone that may consist of millions people who blame FB for their sorry life, and have an endless negative thinking about it.

FB can or will always be a bad thing if I stay negative.  I believe that it needs a big heart to sincerely post my status, read, appreciate, understand, support, or even give nice comment to other people’s statuses.  It is none of my business to judge my friends’ intention regarding their statuses, or even worse their personality.  I still can learn, laugh, get inspired from that tho’.

But well, with all that, I still should always remember not to be addicted to FB. I should be in moderation using it. Like many other things I treat in my life, I like to be moderate.

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 6, 2009

Makan di Resto, Asin..Asem…Muahal!

Baru ajah pulang makan malem diluar nich, di resto Mediteranian deket kampus UCR, cuma abis makan malah  ngerasa seubeul. Iya, seubeul ajah ternyata itu resto cuma ninggalin kenangan ‘muahal’nya doang.  Emang bisa jadi daku salah order makanan, tapi asli..dari rincian menu yang daku pesen (sald, falafel, hummus)  semuanya gak pas dilidah, yang keaseman-lah, ..keasinan-lah, ..ampe kebanyakan, he he.

Wah..padahal daku termasuk fleksibel sama makanan loch. Biasanya daku  pesen yang aneh2 kalo di Resto. Biasanya juga suka cerewet nanya, dari apa bahannya… dan gimana masaknya (berusaha hati-hati cari yang gak ada campuran babinya), he he. Tapi emang gak sampe cerewet2 banget sech, atau sampe mikir jauh..banget, kaya “apa penggorengannya pernah di pake masak babi atau engga ya..” he he. Gak lah..gak gitu2 amat. Kalo iya begitu, wah…bisa ampe kagak pernah makan di resto deh kita.

Alkisah nih, selain keaseman dan keasinan. Harganya juga rada kurang pas. Pas, si pelayan bilang, “it’s $40 dollar and 32 cents”..daku bilang, “it doesn’t sound right”, terus dia tunjukin deh rinciannya. Daku bilang, “kenapa pula harganya beda sama di menu”—“Oh ya bu, itu harga menu siang, ini belum di  ganti dan porsinya juga besaran kok”—walah, terus aku bilang lagi, “ogah ah bayar segitu, kemahalan, gue ganti order aja, lagian gue gak mau porsi besar”, dalam hati sih sebenarnya gue ngerasa ketipu juga. Ditambah lagi, gue ogah pesen satu porsi besar (porsi makanan yang kecil ajah di resto Amerika udah cukup buat ukuran orang Indo). Nah ini, gue juga baru pertama kali mampir and gak tahu enak apa kagak-nya.  Akhirnya sih, si pelayan bilang, “OK mam, I will give you dinner portion for the price of lunch”. Daku bilang, “boleh lah..boleh”…ya  jadilah kita bayar 33 dollar, berapa cents gitu.

Sebenernya kalo harga $40 keatas tuch wajar buat ukuran sini. Kita juga sesekali lah bayar segitu kalo emang niat makan malem enak di luar.  Kalo ada syukuran khusus misalnya, atau sekedar mau romantis-romantisan di resto, kits biasanya rada rapihan dikit deh. Belum tips dan dessert, $40 keatas emang harganya. Cuma kemaren tuch, resto yang kita datengin semi FastFood, dan kelihatanya biasa. Kalo resto yang biasa, misal resto Vietnam, China atau Thai…$20 udah enak dan kenyang.

Anyway, selama transaksi berlangsung nich, misua mah santai aja. Emang dia gak pernah cerewet kalo di resto, dan dia selalu mesen yang udah pasti-pasti aja.  Karena misua selalu pesen menu yang ‘familiar’,  posisi beta jadi aman dech. Soalnya kan kalo ternyata pesenan beta gak enak, beta bisa minta makanan misua dech, he he.  Overall, masih tetep bersyukur bisa makan….bisa punya lidah yang bisa ngerasa beraneka makanan, bisa milih tempat makan dan bisa makan di temenin misua tersayang. Sebagian orang,  bisa jadi banyak jumlahnya…gak punya kesempatan kaya daku, “boro2 komplain soal rasa”, udah bisa makan pake nasi doaongan aja udah anugrah. Inget Neng, inget…bersyukur…bersyukur..

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 6, 2009

Marah dan Cinta

Dalam perjalanan merasai cinta

Aku terkadang tak bisa menahan amarah

Merobek sampai menusuk engkau punya jiwa

 

Di derunya nafas cinta yang bergemuruh

Aku sesekali terperangkap oleh nafsuku

Yang  dengan kencang bisa membelenggu

 

Dan ketika engkau menimpali

Di saat yang sama, aku menjadi  ngeri

Menghiba  waktu  bisa berputar kembali

Dan mencabut apa yang sudah tersuluti

 

Aku sang pemuja mahligai asmara

Tidak mau dikuasai semunya sesal

Tapi bisa meraih mahalnya bijak

Dan menuai butir-butir hikmah

 

Aduhai engkau pengisi relung jiwa

Peluk dan bantulah aku berlayar

Bersama kita berendam di lautan sabar

Agar selalu kita menggenggam dan merasa

Syahdu dan damainya surga rumah tangga

Posted by: Neneng Syahdati Rosmy | November 4, 2009

Jatuh cinta sama Rumah itu..

Ya Tuhan, aku jatuh cinta sama rumah itu….Gak mesti mikir dua kali untuk bikin offer sama rumah itu.

Aku suka buanged sama lay out nya, sama kamar mandinya, sama dapurnya, sama halaman depan dan belakangnya, sama kamar-kamarnya..Ya Tuhan, aku bener-bener jatuh cinta.

Aku bisa melihat diriku ada disitu, aku masak…baca..kerja..ngajar..semua, semua..ya Tuhan, aku sampe bayangin ada anak-anakku yang lagi maen-maen di halaman belakang sementara aku masak di dapur. Aku juga bayangin suami nulis di kamar kerja-nya, sementara aku juga sibuk dengan buku dan kerjaanku. Kita berdua ngobrolin terus rumah itu, sampe mau menjelang tidur..

Kemaren, setelah aku dan suami lihat rumah itu, aku langsung spend waktu 3 jam buat searching monthly expenses. Apa aja yang harus kita siapin, dan apa aja yang bakal kita keluarin bulanannya untuk ngerawat rumah itu. Ehm..InsyaAllah bisa, bisa..bisa!

Kita lihat nanti bagaimana perkembangannya. Karena penjualan rumah ini agak unik, si penjual gak akan jadi jual rumahnya kalo dia gak dapet rumah laen yang lagi dia taksir. Jadi semua serba tergantung.

Aku dan suami hanya bisa minta yang terbaik sama Allah, dan siap-siap pasrah kalo emang itu rumah bukan milik kita…

 

Older Posts »

Categories