Keniscayaan Manis Pahitnya Kehidupan
Sudah satu minggu ini saya minum obat, resep dari dokter yang katanya bagus untuk meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh saya. Obat itu berbentuk tablet, berwarna hijau, dengan bentuk segi tiga, ber diameter kecil. Satu kali teguk air saja, obat itu sudah hilang, meluncur lewat tenggorokan. Sarinya mengalir ke tubuh saya dengan cepat, membuat lidah saya berhenti bekerja untuk sementara.
Tapi tetap saja, walaupun obat itu meluncur cepat, hakikat rasanya adalah pahit. Kepahitannya beralasan, ia berbuah manis. Menurut dokter, zat besi yang terwujud dalam obat pahit itu membantu mebentuk sel darah merah dalam tubuh saya, yang sejatinya akan membuat saya lebih berenergi dan sehat. Sel darah merah itu tidak hanya mencegah jatuhnya beberapa helai rambut dari kepala saya, ia juga menguatkan tulang belulang di tubuh saya.
Karena rasa obat dan manfaatnya itu, saya jadi menganalogikannya dengan rasa di dalam kehidupan ini, yaitu rasa manis dan pahit. Kedua rasa itu akan saling melengkapi. Kehadiran rasa yang satu tidak bisa sempurna terbentuk atau terasakan, bila rasa yang satunya belum terwujud atau terlewati. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah memang untuk merasakan manisnya kehidupan, seseorang harus merasakan kepahitan terlebih dahulu? Bukankah ada juga sebagian orang yang hidup tanpa melewati kepahitan tapi langsung merasakan manisnya saja? Read more…
Kemana hati nurani?
Bila dibumi anarki manusia tumpah
Saling menghina dan membunuh
Tapi menyeru nama Tuhan yang Satu
Menyedihkan, memilukan, memalukan!
Aduhai manusia yang katanya penyayang
Kemana hati nurani yang sudah Tuhan berikan?
Apa sudah kau tutup rapat-rapat kah dia?
Atau sudah kau kusam legamkan kah dia?
Hingga tak mampu lagi engkau merasa?
Aduhai manusia yang katanya welas asih
Jangan kau campakkan kemurnian suara hati
Apalagi mau diiming imingi nikmat surgawi
Dengan menghalalkan marah dan benci
Penuhi saja sumur cinta, lewat hati nurani
Menjadi Tua
Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan
Bagi setiap insan, lelaki atau perempuan
Ingatan yang kuat, tubuh yang segar bugar
Akan perlahan menyusut dan memudar
Menjadi tua adalah sunnah Tuhan
Misteri usia bukanlah permainan
Jangankan buat yang berusia senja
Yang mudapun bisa tersapu masa
Hari ini aku membayangkan hari tua
Padahal sekarangpun aku sudah menjadi
Beberapa helai rambutku ada yang memutih
Angka di ulang tahunkupun makin bertambah
Ah, dalam perenunganku tentang usia senja
Aku membangunkan kalbuku yang kadang mati suri
Dan menajamkan fikirku, agar tidak ditenggelamkan masa
Sampai Maut Menjemput
Seperti kain panjang kering yang dipaksa keluar dari kerongkongan berkulit tipis
Begitu aku membayangkan sakitnya nyawa di ambil oleh yang Maha memiliki
Seperti hembusan nafas yang lepas, ringan, terbang berseri dibawa angin pagi
Begitu aku melukiskan senangnya melepas rindu, akan bertemu kekasih hati
Tidak tahu dimana aku nanti berdiri, merinding aku menerka-nerka kedatang ajal
Entah kapan, dimana, dan sedang apa, tak mampu aku menebus kedalaman masa
Sungguh kerdil aku, berdiri di tepi lautan tenang sekalipun, aku bisa terbawa gelombang
Sungguh lemah aku, bahkan berada di tempat paling tinggi sekalipun, aku bisa terjungkal
Gila memang, mengingat kata maut saja aku kadang terlalaikan, bagaimana pula aku bersiap?
Mendengar gemuruh datangnya saja, aku sudah pontang-panting, bagaimana pula aku menghadang?
Ya, aku merasai bahwa maut memang bukan kawan, tapi tidak mustahil ia menjadi sahabat terdekat
Mengingat & mendekapi maut, mengingatkan kita akan kebersihan raga, kebeningan hati , juga jiwa
Aku dan maut, suatu saat akan saling mencari dan semoga merindui, menggiringku melihat senyumMu!
Cukup
Terowongan itu gelap, tapi aku masih melihat cahaya kecil disana
Ia tak bergerak, tapi aku tahu ia bernyawa, memanggil ku tanpa suara
Ia menyimpan misteri, menyelimutiku dengan resah sekaligus harapan
Aku dibuatnya menjerit dalam hati, hingga mengeluarkan satu kata, cukup
Aku putuskan untuk cukup menggantungkan harapanku tinggi-tinggi
Tapi tidak aku cukupkan untuk terus berharap peduli Tuhan menghampiri
Orang bisa bilang aku menyerah, tapi sebenarnya aku masih tegak berdiri
Hanya berbelok ke arah lain saja, menelusuri jalan yang juga misteri
Cukupku bukan berarti mengalah, melemah, apalagi membuatku gila
Cukupku bukti penerimaanku pada yang lama tidak aku akui dan lihat
Cukupku menjemput harapan lain, yang tidak kalah indah dan mulia
Cukupku masih bersama cahaya, menggenggam sampai memeluknya
Sepuluh Tanda-Tanda Cinta
Berawal dari komentar saya pada seorang kawan di facebook tentang definisi cinta, saya malah jadi kepengen menuliskan tanda-tanda cinta, bukan definisinya. Mungkin karena cinta itu banyak definisinya, saya jadi mengambil yang lebih gampang, menuliskan tanda-tanda nya saja.
Nah kalau ada waktu dan sedang mencari materi bacaan for “pleasure”, silahkan baca uraian sederhana saya tentang tanda-tanda cinta di paragraph berikut. Tapi perlu di ketahui sebelumnya bahwa tulisan saya ini bukan berdasarkan riset, hanya opini hasil dari pengamatan dan pengalaman saya saja. Oleh karena itu isi tulisan ini subjektif, akan ada sebagian pembaca yang setuju , ada yang ingin menambahkan, bahkan ada yang ingin mengoreksinya. Well, silahkan saja, saya akan senang sekali. Read more…