15 Budaya Amerika di mata saya

Saya seorang ibu rumah tangga, orang Indonesia asli, beragama Islam dan kebetulan tinggal di California sejak awal tahun 2012. Sebetulnya saya dan suami sudah tinggal di Amerika sejak tahun 2002. Tapi sebelum awal tahun 2012 itu, pergaulan saya tidak sesemarak sekarang. Dulu kaki saya seringnya melangkah pergi dan pulang ke tiga tempat saja; asrama mahasiswa, kampus, dan tempat kerja yang kebetulan ada di dalam kampus. Lingkungan pergaulan saya kebanyakan dengan mahasiswa dari Indonesia dan dari berbagai negara yang ada di asrama dan di kampus, teman kerja di kantor, dan sesekali dengan warga Indonesia yang ada di Honolulu, Hawaii.

Sekarang berbeda, lingkungan pergaulan saya, boleh saya bilang meluas. Saya lebih sering bertemu dan bergaul dengan para ibu rumah tangga yang warga negara Amerika. Kami tergabung dalam grup ibu dan anak di kota Riverside yang beranggotakan hampir 60 orang. Sekitar 4 sampai 5 kali seminggu saya dan putri saya, bertemu dengan mereka. Kami ngobrol ngalor-ngidul sambil mengawasi anak-anak kami bermain, membuat prakarya, atau menikmati suasana ditempat yang kami kunjungi. Kami bertemu di taman kota yang jumlahnya cukup banyak dan terawat. Kadang di perpustakaan, di beberapa rumah bergantian, dan di tempat-tempat wisata pendidikan yang murah dan meriah. Alhamdulillah, saya bersyukur dengan keadaan sekarang. Ternyata dengan memiliki buah hati, saya juga memiliki teman baru, bertambah pengalaman, bahkan ilmu baru yang tidak saya ketahui atau bayangkan sebelumnya.

Sebagai seorang pendatang, saya awalnya tidak percaya diri untuk bergabung di grup ini. Tapi karena besarnya keinginan untuk mencari teman bagi putri saya, saya beranikan diri untuk mendaftar menjadi anggota grup ini. Awalnya saya merasa kikuk dan canggung, tapi sekarang, saya dan 6 orang ibu lainnya malah dipercaya menjadi pengurus klub ini. Klub ibu dan anak yang anggotanya berasal dari keluarga dengan latar belakang yang beragam, baik secara budaya, agama, maupun sosial.

Betul, itulah Amerika. Siapa yang menyangka bahwa Amerika budayanya sedikit, mereka salah. Amerika adalah negara imigran. Negara yang penduduknya datang dan berasal dari berbagai negara di dunia. Budaya Amerika cukup kaya karena diwarnai budaya dari berbagai negara. Bila saya ada di tempat umum, saya biasa mendengar orang bicara dengan bermacam bahasa atau paling tidak dengan bahasa Inggris yang berlogat. Perawakan mereka juga tidak semuanya berambut pirang dan berkulit putih. Dan saya baru tersadarkan belakangan ini bahwa tidak semua orang Amerika itu beragama Kristen. Tidak semuanya merayakan hari natal, dan tidak semuanya hidup seperti yang sering terlihat di film-film Amerika di Indonesia. Amerika itu luas, saya bahkan tidak tahu apa yang menjadi ciri khas masing-masing negara bagiannya. Saya hanya bisa tahu dari apa yang saya lihat dan rasakan selama tinggal di Honolulu dan di kota Riverside, California selatan ini. Dua negara bagian yang kebetulan multikultural.

Dan sekedar sharing berdasar pengamatan dan pengalaman saja, dibawah ini saya jelaskan sedikit gambaran tentang budaya masyarakat Amerika. Sebuah budaya yang saya fikir sudah dipengaruhi atau dicampuri oleh sejarah negara Amerika itu sendiri, atau oleh penduduknya yang datang dari berbagai negara. Budaya yang sekiranya bisa sangat berbeda dengan apa yang ada di Indonesia. Yang bisa terdengar ngeri, aneh, sedap, atau bahkan menimbulkan decak kagum bagi kita orang Indonesia.

Budaya pertama adalah tentang peran ayah dan ibu dalam keluarga. Mungkin banyak orang Indonesia mengira kalau perempuan Amerika itu “gila” kerja. Tapi yang saya tahu ternyata banyak perempuan Amerika yang memilih menjadi IRT (Ibu Rumah Tangga) setelah menikah. Mereka sebagiannya itu ada yang berniat kembali bekerja formal setelah anak-anak mereka masuk sekolah atau menginjak usia remaja, atau membuka usaha sendiri. Mungkin karena memiliki pembantu bukanlah sesuatu yang biasa, karena mahalnya menyewa pengasuh anak/menitipkan anak pada “day care”, atau karena tidak biasanya mereka menitipkan anak pada orang tua, maka mau tidak mau harus ada satu dari orang tua yang bersedia tinggal di rumah. Dan kebanyakan dari para orang tua itu adalah para ibu. Sebuah peran yang bagi sebagian orang dibilang tradisional. Tapi memang begitulah kenyataannya, peran ayah di Amerika ini masih sebagai pencari nafkah utama. Kalaupun ada yang sebaliknya, jumlahnya mungkin lebih sedikit. Dan kalaupun ada wanita-wanita yang memilih bekerja walaupun telah menikah dan punya anak, jumlahnya pun lebih sedikit.

Kedua adalah tentang definisi keluarga. Keluarga bukan hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ada juga keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan anak saja, ayah dan anak saja, atau ibu dan ibu plus anak, atau ayah dan ayah plus anak. Anak-anak yang tinggal di Amerika, sejak kecil, apalagi sekarang-sekarang ini, sudah mulai dikenalkan dengan berbagai cara baik lewat buku, film, atau media lainnya bahwa keluarga itu bisa bermacam-macam bentuknya. Anak juga bukan berarti anak kandung. Ada anak asuh, anak adopsi, atau anak tiri yang kesemuanya bisa dibicarakan secara terbuka di muka umum sebagai hal yang biasa. Lalu mengenai perkawinan, ini adalah sebuah pilihan. Keluarga bisa berdiri atas dasar perkawinan ataupun tidak. Mereka yang memilih menikah adalah mereka yang melakukannya karena alasan agama yg mereka percayai, nilai-nilai yang mereka yakini sebagai sebuah kebaikan, dan kekuatan hukum dari sebuah perkawinan. Tapi bila ada pasangan yang memilih untuk tinggal bersama tanpa ikatan perkawinan, mereka tidak akan dikucilkan oleh masyarakat. Karena mungkin masyarakat atau bahkan tetangganya tidak tahu menahu soal itu. Tidak kawin atau kawinnya seseorang bukan urusan orang lain apalagi urusan negara.

Ketiga adalah tentang privasi. Di Amerika ini, hampir semua yang sudah berkeluarga memilih untuk tinggal berpisah dari orang tua mereka dengan alasan privasi. Begitupun orang tua mereka, banyak dari mereka yang memilih untuk tidak tinggal bersama anak mereka. Rumah jompo bukan representasi anak yang tidak mau mengurus orang tua karena bisa jadi tinggal di rumah jompo adalah keinginan orang tua itu sendiri. Anak berumur satu tahun atau bahkan sejak bayi sudah biasa tidur dikamarnya sendiri. Dan jika anak menginjak remaja, orang tua tidak bisa sembarangan masuk ke kamar anak, idealnya mereka harus meminta izin terlebih dahulu bila pintu kamar anak terkunci.

Mengunjungi rumah seseorangpun demikian. Kita tidak bisa sembarangan datang bertamu tanpa menelpon atau membuat janji terlebih dahulu. Dan bila kita diundang, kita harus jelas bisa datang atau tidak dengan memberitahu terlebih dahulu lewat RSVP. Yang lebih menarik lagi adalah sikap sebagian orang Amerika terhadap media sosial. Walaupun ini bukan jeneralisasi, tetapi saya juga berjumpa dengan orang Amerika yang sensitif pada pemasangan foto diri atau anak mereka di medsos, khususnya Facebook. Ada yang sangat anti “di-tag”, yang hati-hati memposting photo-photo di FB, bahkan ada yang tidak mau sama sekali ikutan FB. Memberi nomor kontakpun bukan sesuatu yang lazim, apalagi nomor telpon rumah.

Ketiga adalah tentang ketergantungan finansial anak pada orang tua, dan sebaliknya. Di Amerika ini, bila anak terlahir dari keluarga sederhana, mereka akan sadar bahwa ketika mulai kuliah, mereka harus mulai bekerja untuk membiayai kebutuhan mereka sehari-hari. Karena biaya kuliah yang mahal, mereka sadar mereka harus berkompetensi untuk mendapatkan beasiswa, atau bila tidak, mereka akan meminjam uang pada negara untuk biaya kuliah yang harus diganti setelah mereka bekerja. Maka dari itu pemandangan mahasiswa kuliah sambil bekerja di Amerika adalah hal biasa. Mereka bekerja paruh waktu dan tersebar di toko-toko, di restoran, di rumah-rumah sebagai pengasuh anak, tukang kebon dsb, atau di kantoran yang ada di kampus maupun di tempat-tempat umum. Begitupun para orang tua, mereka tidak berharap anak mereka membiayai hidup mereka ketika mereka tua nanti. Mereka kebanyakan bisa hidup dari uang pensiun mereka sendiri.

Keempat adalah tentang kepemilikan asuransi. Walaupun ada sebagian masyarakat Amerika yang tidak memiliki asuransi kesehatan, tapi sebagian besar memilikinya. Asuransi yang jenisnya bermacam-macam tergantung jumlah pembayaran tiap bulannya itu, setidaknya dapat melindungi masyarakat yang membutuhkan biaya besar dalam berobat. Bahkan orang yang bekerja legal dengan gaji perjam paling sedikitpun, dapat memiliki asuransi kesehatan.

Kelima adalah tentang budaya mengisi weekend dengan berlibur/bertamasya bersama keluarga. Di Amerika, hampir setiap orang menantikan weekend yang akan diisi penuh dengan acara khusus keluarga. Hiking, berolah raga bersama, piknik, atau sekedar makan diluar adalah sebagian contoh kegiatan mengisi waktu weekend. Kalaupun ada acara sosial, biasanya tidak akan sebanyak atau sesering yang ada di Indonesia. Karena di acara perkawinan misalnya, tidak akan mengundang banyak orang melainkan keluarga dan kerabat dekat saja. Dan bagi orang Amerika, menolak undangan di acara sosial bukanlah sesuatu yang tidak sopan. Seseorang bisa menolak datang kesebuah undangan, dengan atau tanpa mengungkapkan alasan.

Keenam adalah tentang percakapan sehari-hari. Di Amerika, basa-basi bukan sesuatu yang unik. Orang biasa berbasa-basi tapi dengan topik yang umum. Cuaca atau kejadian tertentu/berita hangat di media bisa menjadi “ice breaker” yang ampuh untuk memulai percakapan. Menanyakan hal pribadi adalah sesuatu yang membuat suasana jadi kaku, walaupun tentu semua bisa tergantung pada individu maising-masing. Tapi memang di Amerika ini, hal-hal yang sifatnya pribadi baru bisa ditanyakan bila hubungan seseorang sudah dekat atau sudah merasa nyaman satu sama lain. Pertanyaan tentang status, pekerjaan, jumlah anak atau sudah punya anak atau belum, atau mengomentari tentang bentuk fisik dan gaya bicara, adalah hal yang boleh dibilang “dilarang”.

Ketujuh adalah tentang ungkapan-ungkapan yang membuat suasana jadi hangat dan indah. Kata terima kasih, selamat jalan, semoga harimu menyenangkan, tolong, ma’af, dan senang bertemu anda, sering sekali diucapkan dan didengar dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan tersenyum dengan orang asingpun adalah sesuatu yang biasa. Seperti sebuah norma yang mendarah daging, kata-kata tersebut menghiasi kehidupan masyarakat Amerika yang terkenal senang menjaga privasi. Selain ungkapan-ungkapan tersebut, orang Amerika juga senang menggunakan kalimat hiperbola dalam kalimat-kalimat mereka. Kata-kata seperti extremely, very, super, truly, highly, especially dan sejenisnya itu sering diselipkan dalam kalimat. “Thank you so very much!”, “You are extremely kind, I am super thankful to you”, adalah sebagian dari contoh kalimat hiperbola.

Kedelapan adalah soal traktir meneraktir, membayari, atau meminta sesuatu. Dalam budaya Amerika, meneraktir seseorang itu hanya dilakukan sesekali saja. Itupun biasanya dilakukan oleh dan kepada orang yang sudah saling dekat, dan hanya pada acara yang sangat special. Orang yang berulang tahun misalnya, beberapa kali saya menemukan, malah dibayari makan oleh teman/sahabatnya. Dan lebih asyik lagi, orang yang berulang tahun, seringnya mendapat hadiah atau acara kejutan dan teman atau kerabatnya. Ia tidak perlu ikutan sibuk mengurus acara ulang tahunnya sendiri. Bila makan bersama diluar, masing-masing sudah faham, bahwa yang mengajak bukan berarti yang akan dan harus membayari. Biasanya masing-masing akan membayar sendiri-sendiri ke kasir, atau mengumpulkan uang pada salah satu orang yang akan membayarnya ke kasir. Tindakan memintapun bukan sesuatu yang biasa. “Jangan lupa oleh-olehnya ya?!”, adalah kalimat yang tidak pernah saya dengar dari kawan Amerika saya.

Kesembilan adalah tentang penampilan diri. Walaupun penampilan seseorang bisa tergantung pada lingkungan pergaulan dan tempat, kebanyakan masyarakat Amerika memang tidak begitu peduli dengan penampilan. Sepanjang bersih dan sesuai dengan cuaca, mereka tidak peduli apa pakaian yang dipakai itu mahal atau bagus. Ukuran kesopanan berbeda dengan di Indonesia, memakai celana pendek dan kaos oblong ditengah siang bolong yang menyengat tidak akan dianggap tidak sopan. Tetapi saya juga tahu bahwa memakai baju yang terlihat puser dan celana yang hanya menutupi pantat, bukanlah sesuatu yang baik. Banyak dari kawan Amerika saya yang melihat hal tersebut jauh dari nilai-nilai kesopanan.

Kesepuluh adalah tentang budaya volunteer, atau kerja sukarela yang luar biasa. Saya sering berjumpa para manula yang sudah pensiun di tempat-tempat umum yang bekerja sebagai tenaga volunteer. Alasan mereka bisa bermacam-macam. Selain untuk mengisi waktu dan sekaligus memanfaatkan ilmu/pengalaman, dengan bekerja sukarela mereka juga dapat bersosialisasi sambil memelihara ketahanan kerja otak dan daya ingat mereka. Di sekolah-sekolahpun demikian, banyak para ibu rumah tangga yang berdedikasi menyisihkan waktu mereka untuk membantu kegiatan di sekolah. Anak remaja juga begitu, bila liburan tiba, mereka akan mencari kegiatan/ tempat yang bisa menyalurkan bakat/keahlian atau sekedar membantu kelancaran suatu program/kegiatan tertentu.

Kesebelas adalah tentang sikap pada binatang, khususnya pada binatang peliharaan seperti anjing atau kucing. Di Amerika, saya jarang sekali menemukan kucing atau anjing yang terlantar. Dan bilapun ada, mereka akan diambil lembaga yang memang khusus mengurusi binatang peliharaan yang terlantar (animal shelter). Dan bagi mereka yang ingin memiliki binatang peliharaan, mereka bisa datang ke animal shelter tersebut untuk mengadopsi. Binatang peliharaan dianggap sebagai keluarga. Mereka diurus dengan sangat baik, dengan makanan yang sehat, kesehatan yang memadai, bahkan kalau perlu dengan perawatan kecantikan/salon khusus binatang. Entah alasan apa yang membuat mereka demikian sayang pada binatang, tapi yang pasti saya mengagumi hal tersebut. Dan bagi orang yang tinggal sendirian karena sesuatu hal, binatang peliharaan bisa menjadi teman yang setia dan penjaga rumah yang handal. Bahkan banyak anjing yang menjadi asisten bagi orang-orang tuna netra. Mereka memang benar-benar dilatih untuk itu.

Keduabelas adalah tentang kepemilikan senjata. Walaupun sudah ada kejadian penembakan ditempat umum yang menewaskan orang-orang yang tidak berdosa, kepemilikan senjata di Amerika ini masih diperbolehkan dengan alasan untuk pengamanan diri. Seseorang boleh menembak sesiapa bila jiwa mereka terancam hilang. Mungkin, budaya ini dipengaruhi oleh “pop culture”, di film-film misalnya, yang menunjukkan senjata sebagai alat yang canggih untuk bertahan diri. Mungkin juga sebagian dari mereka sangat percaya pentingnya berdiri dikaki sendiri, bahwa pada akhirnya mereka akan sendiri dan harus bisa mempertahankan diri sendiri tanpa sesiapa. Dan karena pengaruh kedua kultur itulah, senjata bisa dipercaya menjadi teman yang tangguh dan handal. Tapi mungkin juga karena latar belakang sejarah, saya tidak tahu pasti. Namun yang pasti saya sangat miris oleh berita yang belum lama saya dengar di bulan Desember 2014 lalu, ketika di sebuah toko swalayan seorang anak berumur dua tahun secara tidak sengaja mengambil senjata dari tas ibunya dan menembakkannya pada ibunya hingga meninggal dunia.

Ketiga belas adalah tentang pekerjaan dan tempat tinggal. Di Amerika ini, bila seseorang memiliki rumah bukan berarti ia akan terus selamanya tinggal di tempat tersebut. Seseorang bisa berpindah-pindah tempat tinggal karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik disuatu tempat, atau karena jumlah keluarga yang berkurang yang menempati rumah tersebut. Pasangan yang baru menikah biasanya cukup tinggal dengan rumah yang berkamar satu. Kemudian bila mereka punya anak, satu, dua atau lebih, mereka akan mencari rumah yang lebih besar. Dan nanti bila anak-anak mereka sudah berkeluarga atau tinggal di tempat masing-masing, pasangan tersebut akan pindah ke rumah yang lebih kecil. Pilihan rumah yang bisa disewa atau dibeli juga beragam. Bila membeli, maka jangka waktu membayar kredit rumah bisa berjalan hingga 30 tahun atau lebih. Dan lamanya jangka waktu pembayaran itu tidak sejalan dengan berapa lama seseorang akan tinggal di tempat itu.

Keempat belas adalah soal minuman keras yang dijual di toko-toko biasa. Bagi kalangan orang dewasa di Amerika, minum minuman beralkohol tapi tidak sampai mabuk adalah sesuatu yang lazim dalam acara-acara sosial. Makanan tertentu juga banyak yang menggunakan minuman beralkohol untuk memperlezat atau menambah aroma sebuah makanan. Tapi bagi sebagian orang yang mungkin kesepian dan memiliki masalah, minuman beralkohol bisa menjadi obat kegundahan hati dan fikiran mereka yang selanjutnya bisa mengakibatkan kecanduan. Kecanduan minuman keras yang tentu saja dapat menyulut penyakit fisik maupun mental. Dan oleh karena itu, di Amerika ini banyak saya temukan tempat atau institusi yang khusus mengobati orang-orang yang kecanduan.

Kelima belas adalah soal tradisi berbelanja. Belanja di Amerika ini cukup mudah. Bukan hanya karena banyaknya pilihan jenis dan kualitas barang dan harga, tetapi memang pelayanan yang diberikan oleh toko dan pekerjanya kepada para pembeli patut diacungkan jempol. Di toko-toko milik pengusaha kecil, proses pengembalian barang yang sudah dibeli memang tidak semudah yang terjadi di toko-toko besar. Bila seseorang memutuskan untuk tidak jadi membeli barang karena alasan rusak, tidak pas, atau benar-benar tidak jadi membeli karena ragu, orang tersebut bisa mengembalikan barang yang sudah dibeli dengan sangat mudah. Sang penjaga toko tidak akan bertanya alasannya sepanjang ada bukti kwitansi pembelian. Tidak hanya itu, belanja online juga sudah menjadi pilihan bagi banyak orang. Apa saja, dari mulai makanan, pakaian, sampai barang-barang elektronik, semuanya bisa diakses secara online baik traksaksi maupun sistem pengiriman dan pengembalian yang mudah.

Yang terakhir dan yang membuat saya sebagai pendatang merasa nyaman tinggal di Amerika adalah karena budaya teratur dan tertibnya orang Amerika di tempat umum. Budaya mengantri, membukakan pintu atau lift bagi orang lain, mematuhi lalu lintas, menjaga kebersihan umum, memberikan kursi pada wanita atau orang-tua di bus umum, memperhatikan serta menjaga alam dengan baik adalah sebagian contoh sikap individu yang membuat kehidupan bermasyarakat jadi teratur dan terasa nyaman.

Begitulah budaya Amerika dimata saya, seorang pendatang yang lahir dan dibesarkan di Indonesia, negeri yang budayanya berbeda dengan Amerika. Saya sadar tulisan ini tidak akan mewakili pandangan semua orang Indonesia yang tinggal di Amerika, dan saya yakin masih banyak yang saya lupa bahkan saya tidak ketahui tentang Amerika untuk dituliskan disini. Tapi apa yang saya lihat, amati, dan alami disini, bagaimanapun berbedanya itu semua, telah membuka pikiran dan rasa empati saya. Menggiring saya pada pemahaman akan jati diri saya sendiri. Dan saya bersyukur atas semua ini. Salam hangat untuk pembaca, terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya. (Riverside, 19 Januari, 2015).

Tulisan ini juga saya muat di http://sosbud.kompasiana.com/2015/01/20/15-budaya-amerika-dimata-saya-718091.html

Langkahmu bukan untukmu sendiri (Rangkuman sebuah Novel “The husband’s secret” karya Liane Moriarty)

“Ah betul juga ya, kenapa tidak saya coba merangkum dan mengkritik Novel-novel yang sudah saya baca di klub buku saya. Apalagi sudah ada dua orang sahabat yang katanya siap membacanya, wink-wink”,  kata saya dalam hati. Kemudian wajah sumringah dua orang sahabat lama yang saya rindukan, Lies dan Yuli  muncul di benak saya. Keduanya muncul di dalam gambar awan yang menempal di kepala saya; tampil seksi dalam bentuk karikatur, tertawa lebar, memakai kaca mata gaya, berambut tinggi, dengan bibir merah merona dan deretan gigi yang rapih. Continue reading

Kok Bisa Tanpa Asisten Rumah Tangga (ART) di Amerika?!

Terinspirasi dari diskusi sebagian para ibu rumah tangga di kota Riverside di ruang maya minggu lalu tentang gambaran ideal suasana pagi hari di dalam rumah, saya jadi tergelitik menuliskan sebagian besar komentar para ibu tersebut, dan kemudian menguraikannya lebih lebar.

Sebagian mengatakan bahwa pagi yang indah itu diawali oleh waktu bangun tidur yang sama antara anak-anak dan bapaknya. Sebagian setuju bahwa pagi yang indah itu dimulai ketika anak-anak mereka bangun pagi dalam keadaan riang gembira lalu melakukan ritual pagi dengan baik. Sebagian lagi sepakat kalau pagi itu baru bisa disebut indah bila menu sarapan nya sehat dan lezat. Dan sebagian besarnya, ini yang paling menarik, mengakui bahwa pagi yang indah dan sempurna itu adalah ketika mereka tidak harus beres-beres rumah, menyiapkan sarapan dan makan siang, melainkan ada asisten rumah tangga yang melakukannya. Uniknya, mereka semua sepakat kalau hal itu hanyalah sebuah mimpi kosong. Malah ada yang menyebutnya sebagai angan-angan yang paling mustahil dan liar yang pernah terbersit di pikiran mereka.

Continue reading

Catatan di awal tahun 2014

Segala puji bagi pemilik semesta, hari di awal tahun 2014 ini aku merasa sehat dan segar. Diawali dengan kecupan dan pelukan hangat dari anakku tersayang dan gelak tawanya yang berderai, aku tersenyum dan siap menjalani hari ini dan hari-hari kedepan. Aku juga makin semangat ketika suamiku mengatakan bahwa tahun 2013 adalah tahun yang hebat buat aku. Ia membanjiriku dengan kata-kata yang tidak terbersit di otakku. Aku sampai tersanjung hingga tersadarkan kembali akan nikmat tiada tara yang sudah aku dapatkan di tahun 2013 kemaren, dan bahkan di tahun-tahun sebelumnya.

Walaupun tahun lalu tidak selalu berhiaskan warna pelangi, warna gelapnya tidak bertahan lama. Berita duka yang dialami oleh dua orang saudara perempuanku, yang sempat menorehkan luka yang cukup dalam di hati ini, perlahan bisa terobati oleh waktu, walaupun aku akui itu semua tidak akan terlupakan. Mengajarkan dan mengingatkanku lagi bahwa hidup ini tidak sepenuhnya manusia yang mengatur. Bahwa sepahit apapun satu fase dalam  roda kehidupan, hidup tetap harus berjalan dan berputar. Bahwa justru karena hadirnya duka, manusia bisa lebih pandai merasai dan memaknai suka cita. Bahwa ketika sedih dan luka hati begitu menganga dan perih, manusia tidak boleh putus asa karena pasti kasih sayang dan cinta Nya jauh lebih besar dan tidak akan pernah bisa dibendung. Continue reading

Mereka dan Saya tentang Natal di Amerika

Ah Natal sebentar lagi. Semarak  kota Riverside terasa sekali menyambutnya. Rumah-rumah terang benderang dihiasi banyak lampu warna warni.  Pusat kota juga dihiasi cantik oleh lautan lampu. Lengkap dengan fasilitas ice skatingnya, penyewaan kereta kencananya, musik live-nya, serta kedai-kedai kecil yang menjajakan makanan ringan. Tempat-tempat umum seperti mal, kantor, sekolah, rumah sakit, dan tempat  hiburan, kesemuanya ikut serta menyemarakkan Natal lewat berbagai hiasan dan acara khusus.  Dan tanpa terkecuali, klub ibu dan anak balita di kota ini, tempat dimana hampir setiap hari aku dan anak perempuanku yang berusia dua setengah tahun bertemu dan bermain, juga ikut memeriahkan datangnya Natal.

Ya diklub itulah, saya menjadi kenal banyak ibu-ibu di Riverside, California ini. Perkenalan yang awalnya dimulai dari mencari info di google, kemudian bertemu di darat dan saling sapa, lalu sama-sama mengawasi anak-anak kami bermain, lama kelamaan menjadi asyik karena kami sering ngobrol ngalor-ngidul. Mulai berbagi cerita tentang pengasuhan anak dan mengurus rumah tangga, sampai ke soal yang cukup privat; kepercayaan dan tradisi keluarga. Topik yang awalnya sensitif dan hati-hati untuk diungkapkan itu, perlahan justru menjadi sangat menarik untuk didengarkan dan diceritakan. Apalagi menjelang natal ini, kami jadi bisa saling berbagi dan belajar. Berikut penggalan obrolan saya dengan mereka.

Continue reading

Kegembiraan dalam Halloween

Semalam, tanggal 31 Oktober 2013, setelah rencana makan diluar batal, aku, suamiku, dan anakku yang masih berusia dua setengah tahun menikmati waktu berleha-leha dan bercengkrama di ruang tengah. Dengan perut yang masih terasa kenyang setelah akhirnya aku memutuskan masak cepat dan kami makan di rumah, serta kaki yang masih terasa sedikit lelah setelah berjalan mengelilingi rumah tetangga, tiba-tiba pertanyaan muncul dikepalaku, “sebenarnya arti dan latar belakang Halloween itu apa sih?”… Continue reading

Mimpinya para ibu…

“Semalam aku mimpi yah!”, laporku pagi-pagi seraya meletakkan sepiring roti “French toast” di atas meja. “Seru banget!”, kataku lagi sambil menyomot roti dan melahapnya cepat. “Nyam-nyam, eh..enak”, gumamku memuji roti buatanku sendiri. “Mimpi apa?”, jawab suamiku sekenanya tanpa menoleh, sementara jari jemarinya masih sibuk menari di atas iphone. Continue reading