Aku dan masa kecil

Aku lahir dari keluarga santri, terutama keluarga ibuku. Waktu kecil, aku ingat betul, setiap kali pulang ke kampung ibu di Ciamis, tepatnya Desa Cidolog (ups, gak ada di peta deh!) aku menikmati main dengan santri2 kecil di rumah nenekku. Mereka pandai mengaji dan menghafal banyak doa dan surat Juzamma. Biasanya aku hanya melihat dan ikut pengajian sesekali. Yang pasti, senang lah..senang karena mereka semua ingin bertemen denganku dan aku merasa jadi anak yang paling kaya ketika itu..He he. Rumah nenek ku besar….sekali, dengan dapur yang besar, ruangan pengajian yang besar, kamar yang banyak, di bawah dan juga ada lantai atas-nya, aku menyebutnya kamar loteng.

 

Ehm, rumah nenekku selalu ramai dengan orang-orang yang aku panggil ‘ua’,  ‘ema’, ‘aki’ atau ‘mamang’. Aku tentu saja tidak cukup kenal dengan mereka, terkecuali mamang2 adik ibuku…tapi aku merasa jadi seorang putri karena semua dilayani. Di rumah nenekku, selalu saja ada orang yang membantu membersihkan rumah dan memasak buat nenek dan juga aku dan keluargaku. Hal yang juga ku ingat adalah bahwa kakek dan nenekku punya sawah dan kebun yang luas dan kolam ikan yang banyak (balong). Satu hal lagi yang aku ingat, karena kakekku bekas kepala desa, di depan rumah ada portal yang harus kubuka jika ada mobil yang mau lewat. Semua mobil yang lewat harus bayar uang, kalo gak salah sebesar 100 rupiah. Aku tentu suka sekali berlari menghampiri portal dan menekannya  sekuat tenaga ku agar bisa terbuka dan mobil bisa lewat dan kemudian menyimpan uang 100 itu diember. Aku juga ingat sekali ada pohon jeruk yang tumbuh tepat di samping portal. Jeruknya manis..kulitnya tebal. Seingatku waktu itu, jeruk itu cuma ada di Cidolog. 

 

Nenekku punya tetangga, pak Dinta dan mak Iroh. Mereka membuka kedai kecil untuk sarapan. Kedai mereka cukup ramai dan aku selalu tergiur melihat lontong dan rempeyek tempe buatan mak Iroh. Pisang gorengnya juga manis dan lezat. Seingatku pisang goreng buatan mak Iroh gak ada tandinggannya waktu itu. Rumah mak Iroh enak juga..aku ingat rumahnya masih berupa panggung tapi tidak terlalu tinggi, sekitar satu setengah meter. Rumahnya rapih, lemarinya penuh dengan piring2 dan gelas2 cantik  yang sepertinya tidak ada di rumah nenekku.  Pak Dinta, suami mak Iroh, aku gak tahu dia kerja apa, yang aku tahu dia kaya dan punya banyak anjing. Kalau ada anjing di sekitar rumah nenek, itu pasti milik pak Dinta..anjing2 itu tidak mengganggu..tapi kalo mereka mendekati orang, biasanya pak Dinta yang punya kuasa mengusirnya, “Hush us..siah!” begitu katanya.

 

Di samping rumah mereka ada pasar kampung, aku suka sekali jalan2 di pasar. Sampai sekarang pasar itu masih ada dan rasa seneng menikmati pasar itu tidak pernah berubah sampai sekarang. Kalao aku ke Cidolog, aku pasti ingin sekali ke pasar, asyik dan menarik melihat apa yang dijual dan juga senang sekali lihat orang2 di pasar yang sepertinya saling mengenal satu sama lain.

 

Hal lain yang aku ingat, kami juga suka ke balong dan bakar ikan..biasanya aku cuma makan saja. Kakekku atau orang suruhan kakek yang menangkap ikan dengan jala semantara kami menunggu diatas, di saung yang memang dibuat sengaja untuk solat bersiri tepat di atas pinggiran balong. Di dekat saung biasanya ada tempat mandi. Ada kolamnya ..airnya bersih. Tapi sungguh, sampai sekarang perasaan takut selalu ada setiap kali melihat kolam dekat balong, waktu kecil, aku takut sekali nyemplung dan kelelep dan terbawa Lumpur yang seakan-akan hidup itu. Pun sampai sekarang, setiap kali aku melihat balong..aku ingat aku akan tenggelam ditarik Lumpur, hi…serem! Ya, sampai sekarang kalo aku pulang kampung, nenek dan juga mamang dan bibi2ku selalu siap mengajak dan ngebotram (bakar ikan di samping balong). Duh senengnya.

 

Aku juga ingat kalo diajak kakek, nenek, atau mamang, bibi dan orang2 yang ada di sekitar rumah nenek untuk ngala (ambil) salak. Serunya menarik2 salak dari pohon yang berduri. Sebetulnya aku sendiri gak terlalu suka buah salak, tapi aku suka mengambil dari pohonnya. Selain itu, aku juga ingat kalo aku suka makan kelapa yang langsung jatuh dari pohon. Ehm…seger, airnya enak pun kelapanya lembut dan manis.

 

Selain itu tentu saja, aku juga menikmati suasana ‘religious’ di rumah nenek. Bangun pagi-pagi untuk solat Subuh berjamah dan juga solat maghrib atau Isha. Sekitar jam 4 biasanya rumah nenek sudah ramai dengan suara air wudhu, suara orang2 mangaji dan dan suara kerekan sumur timba atau suara nenek yang keras membangunkan mamangku, ade ibu yang paling kecil. Heuh..kadang masih ngantuk ..tapi aku harus bangun, tapi kalo sudah berwudhu dan solat …biasanya ngantuk hilang. Aku tentu saja suka ikut mengaji dengan santri2 nenek selepas subuh. Sampai sekarang nenek masih mengajar mengaji di kampung, dan kakek sudah meninggal tahun 1987. Aku ingat terakhhir ketemu kakek sewaktu beliau menjenguk di Pesantren Darunnajah. Itu terakhir kali beliau mencium dan memelukku..

 

Rumah nenek dari ayahku juga punya kenangan tersendiri buatku. Berbeda dengan di Cidolog, rumah nenek dari apa-ku ada di pinggir jalan raya. Tepat di seberang jalan raya rumah nenek, ada jalanan menurun menuju surau yang memang di bangun dan di urus oleh keluarga apa. Suraunya enak sekali..bisa berwudhu di kolam yang ada batu2nya. Selain tempat wudhu, aku gak ngerti kenapa kolam itu juga dipakai buat berenang anak2 yang mengaji di surau. Aku senang sekali mandi di kolam itu..malah, aku lebih seneng lagi main2 di sungai panjang berbatu yang tidak jauh letaknya dari kolam surau. Sungai itu bersih..banyak orang mencuci dan mandi di pagi hari. Kalau siang, suka ada orang yang buang hajat. Kata ceuceu2 ku, sepupu perempuanku..mereka tidak apa2 buang hajat di situ, toh kotorannya akan dibawa arus air dan air yang dipakai mencuci tetep bersih. Ehm..masuk akal juga sih.

 

Aku juga ingat betul, kalo setiap pagi aku menantikan pedagang kue sorabi lewat. “Sorabi..” begitu suaranya penjulanya lewat di depan rumah nenek. Sorabi dengan goreng dage dan bakwan yang kecil2 jadi pavoritku. Ehm…enak. Beda dengan di Cidolog, rumah nenek di Kuningan lebih kecil..tapi embi (begitu aku memanggil nenekku) punya kolam buat mandi yang besaaaar….lucunya, aku suka juga berenang2 disitu walaupun sudah seringkali di peringatkan sama ibu dan nenek kalo kolam itu buat mandi bukan buat berenang. Selaian berenang aku juga suka menimba air dari sumur nenek yang aku pikir dangkal…aku ingat suka menarik2 tali timba sekuat tenaga untuk mendapat air seember buat wudhu, tapi aku seneng sekali menimba..hi hi lucu!

 

Aku ingat nenek suka buat lauk dari bahan dage (semacam kacang kedelai yang sudah di fermentasi, tapi bukan tempe..) baunya agak bongsok, tapi aku seneng sekali. Yang aku ingat dari nenek, bicaranya lembut dan aku suka sekali pegang2 kulit tangannya yang sudah keriput, halus..dan bisa di tarik-tarik. He he, nakal!

 

 

Soal sekolah SD, aku sekolah di SDN Ciputat VI (sekitar 5-10 menit jalan dari rumah) sambil juga masuk madrasah. Kalau pagi aku ke sekolah, siang sampai sore hari aku masuk madrasah Diniyah AlHuda. Aku ingat aku sangat tidak suka susu putih yang ibu sediakan, biasanya aku suka pura-pura lupa meminumnya dan ibu selalu saja ingat, dan membawa gelas berisi susu ke ujung gang. Huh..kena juga, pikirku! Aku juga ingat jajanku 100 perak kalo sekolah, cukup buat beli makanan dan minuman. Kalo mau jajan agak mahal dikit, aku biasa minta minum sama abang siomay-nya saja.  Kalo madrasah, aku jajan 50 perak, cukup buat beli bakwan pake sambel kacang dan es. Seringnya malah si AA, kakakku yang cuma beda setahun usianya, suka kasih aku uang jajan tambahan, enah dari mana. Yang pasti aa selalu punya yang lebih banyak dariku, begitu pikirku.

 

Waktu sekolah SD, aku ingat aku beberapa kali jadi pembawa acara di upacara sekolah, atau jadi pembaca doa. Pun sampai lomba upacara sekecematan, aku jadi pembawa acaranya. Badanku kecil, jadi aku jarang jadi pengibar bendera. Nah, kalau tiba hari Kartini, ibu gak suka pakaikan aku baju daerah atau konde, biasanya ibu pakaikan aku baju muslim, akujadi berkerudung dan cukup hanya memakai alis mata saja. Ehm..lucu juga, sempet aku iri sama temen2 yang lain.. dan pas kelas enam, kalo gak salah..aku minta ibu bawa aku ke salon untuk di konde. He he, ibu meluluskan permintaanku dan aku ingat aku malah pernah jadi juara kedua lomba baju kartini di tingkat RT. Potonya ada tuh, lucu…:hi hi, kupikir2 aku manis juga waktu kecil”. Di SD, aku gak terlalu pintar tapi aku juga tidak bodoh. Aku ingat aku selalu masuk sepuluh besar dan aku pandai baca puisi. Aku ingat latihan malam2 bersama kak Yanto (pelatih puisisku waktu itu) dilapangan volley, teriak-teriak mengucapkan “Beta Pati Rajawane, penjaga Hutan Pala” hi hi…seru!. Waktu itu aku latihan karena mau ada lomba baca puisi anak2 tingkat kecamatan, aku tidak tahu aku mewakili apa, yang pasti aku juara kedua dan aku bangga sekali. Aku tahu ibu dan apa juga bangga.

 

Ehm, aku gak suka matematika, malah aku takut sama matematika…kalau ada PR, wuih..disaster lah pokoknya. Aku mulai merengek dan minta ‘apa’ mengajari aku, kebetulan apa guru matematika, tentu saja dia selalu bisa membantu aku mengerjakan PR. Aku tidak tahu aku suka pelajaran apa, mungkin kesenian, IPS dan menggambar..hm..ya menggambar yang selalu saja dapat nilai 7 atau 7,5 dari pak Sudarman, guru menggambarku.

 

Membaca puisi dan menyanyi koor di majlis taklim pimpinan ibu hampir sering aku lakukan, aku juga main drama di acara mauludin, dan tampil menari di acara tujuh belasan. Baca puisi jadi keahlianku, dan aku ingat suatu kali waktu di madrasah, aku diminta baca puisi oleh ustadzku. Aku mulai baca..judulnya “anak yatim” kalo gak salah itu puisi aku sendiri yang buat teksnya. Baru saja mulai baca judulnya aku sudah menangis, jadilah pembacaan puisi oleh Neneng ditiadakan. Entah kenapa…setiap kali aku baca puisi, satu kata sudah sangat merasuk hati dan jiwaku. Sampai sekarang…bila aku melihat puisi apalagi membacanya, biasanya jiwaku sudah dengan mudah terbawa..

 

Waktu sekolah, madrasah, dan juga di rumah, tentu saja aku punya banyak teman. Aku ingat suka bertengkar sama teman-teman, yah biasalah…dan biasanya besoknya aku sudah baikkan lagi. Permainan yang sering kami lakukan ya rumah2an, masak2 an, penganten2 an, main dampuh, main/jalan-jalan di kali kampung, main gobak sodor, main galasin, main benteng, main perosoton di taman kompas dan tentunya main boneka2an dari kertas. Nah yang terakhir adalah keahlianku..kalo aku sudah setting rumah2an plus boneka2an dari  kertas yang aku beli di sekolah, mulailah aku mengarang cerita…seru…panjang..dan bersambung. Pendengar setia ceritaku adalah adekku Anis. Seringkali loh..dia menangis mendengar ceritaku. Ibarat nya kalo sekarang aku puppetter gitu deh. Hi… hi seru juga! Aku juga ingat suka menyewakan majalah, majalah kesukaanku waktu itu adalah majalah bobo dan tin tin. Aku juga suka baca poskota bergambar yang ada cerita si Doyok dan si Menul, hi hi hi. Acara kesukaanku tentu saja film boneka si Unyil, Aneka Ria Anak Nusantara, filem si ACI dan ceita H.C Anderson. Aku juga suka nonton filn Laura… Nah kalo fim seri malam yang ada Rebecca Gilingnya– aku suka kelewat tuh, walaupun iya waktu itu film itu lumayan terkenal dan digemari banyak anak2 SD. Lucu juga!

 

Oh iya, karena aku sekolah dua..biasanya waktu main ya sore hari dan hari Minggu. Karena kami tinggal di dekat komplek perumahan kompas, biasanya aku main di kompas…main sepeda atau galasin, Wah gak ada capenya deh. Sehabis main, ya pulang kalo sudah maghrib dan setelah itu solat maghrib..mengaji, makan malam dan solat isya sebelum tidur. Biasanya aku malas…sekali solat Isha, tapi ibu atau apa selalu mengingatkan, jangan lupa solat. Waktu itu aku mana tahu makna solat..yang aku tahu aku harus solat, kalo gak solat aku akan masuk neraka, Hii serem!

 

Oh iya, aku juga suka mandi hujan. Nah ini hal yang mewah karena harus dapat izin dari ibu. Aku ingat..aku benci sekali kalo pas pulang madrasah terus hujan, AA ku malah bilang, “Tunggu di sini ya (di gedung madrasah) aa pulang dulu ambil payung buat Neneng” Halah..gondok banget deh! Tapi entah kenapa aku selalu nurut walaupun aku pulang pakai payung dengan cemberut. Hal lain adalah nonton layer tancep, ini juga barang mewah harus dapat izin dari ibu dan harus ada orang dewasa yang menemani. Biasanya, pembantu kami yang menemani atau ikut dengan pembantu tetangga. Seru..banget! aku masih inget suka nonton film George Rudi atau Barry Prima, he he. Lucunya AA selalu boleh nonton sampai dua film dan aku hanya satu film. Eh sebel deh! Tapi entah kenapa juga..aku nurut saja. Kalau aku ingat lucu juga waktu itu…ibu selalu siapkan aku jaket, air minum dan uang jajan sedikit. Untuk jajanan, aku selalu cari kue onde-onde kecil yang didalmnya gula merah, ehm..sedap!

 

Oh ya, aku juga ingat bulan puasa ketika kecil, kami memang selalu taraweh ke mushola…sehabis buka puasa, kami solat maghrib berjamah, makan malam dan lalu solat taraweh di masjid. Aku ingat karena solat taraweh panjang dan lama..aku suka menyimpan koin di lobang2 angin batako mushola. Setiap kali rakaat bertambah, aku pindahkan koinku, dan gembira sekali rasanya bila koinku hampir sampai ujung lobang terkahir batako. Nah sehabis taraweh, ketika ada khutbah tujuh menit, aku pasti ngacir keluar dan jajan di warung, wah rasanya bahagiaaa sekali! Apalagi pas lebaran tiba, asyik…dapet uang dan punya baju baru. HI hi, lucu, waktu kecil, kalo teman2 tanya..berapa baju baru mu? Aku biasanya bilang kalo jumlah baju baruku lebih dari yang sebenernya aku punya, he he…aku menghitung juga roknya.

 

Wah tentu saja banyak lagi cerita2 masa kecil, tapi sementara inilah yang ada dalam kepalaku..yang pasti nanti akan aku sambung kembali dengan perjalanan hidupku ketika di pesantren. Kampusku Darunnjah tercinta..Sampai cerita berikutnya….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s