Tanpa angan..

Saat

Sajadah lambat terhampar

Gorden dibiarkan rapat

Lampu sebentar dipadamkan

Suara weker dimatikan

Selimut panjang di badan

 

Ketika

Tidak lagi perduli

Apa akan dibuat hari ini

Bagaimana esok hari

Bernyanyi atau berseri

Menangis atau meratapi

 

Di masa

Badan tak bereaksi

Jiwa tak lagi wangi

Keduanya cukup melakoni

Hanya wayang menjadi

Tak ada gairah, sepi

 

Sewaktu

Cuma hanya menghitung

Yang datang dan berlalu

Cuma hampir rampung

Karena hanya menyusun

Yang berwarna abu-abu

 

Pada

Acuhkan alam

Lupakan sekitar

Tinggalkan norma

Tak pikir sesama

 

Akhirnya

Kelopak mata basah

Suara merdu jadi jeritan

Karena sang angan

Sudah sampai

Tidak mau lagi berputar

 

Pada sesiapa

Tanya menggema

Kenapa sang angan

Harus selalu berputar

Bisakah berdiam

Untuk sejenak,

Kenapa pula

Harus selalu menang?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s