Tidak mau lagi berkawan dengan Excuses

“Aku tidurnya malam, gak bisa bangun pagi, boro2 baca..nulis..apalagi jalan pagi”, “aku gak dikejar apa-apa kok, waktuku banyak, gak mesti cepet2 ngerjain-nya”, “aku udah tua..malu lah, masa udah tua baru sekarang belajar nyetir, belajar computer, belajar nulis lagi”, “aku gak biasa tuh ngerjain gituan, makan gituan, mikirin gituan”, “walah— acara favoritku di TV pas banget tayang, aku gak bisa ngerjain itu sekarang”, we ke ke ke..prikitiw prikitiw….masih banyak lagi excuses-excuses yang buat hari kita berlalu begitu saja..BENG! tidak terasa waktu kita akan habis…dimakan usia, waktu dan bahkan kematian.

Aku tentu salah satunya, akrab sekali berkawan dengan excuses yang tidak pernah ada habisnya. Aku sering lupa kalau waktu tidak akan pernah kembali, dan semangat tidak akan abadi bersemai dalam diri kalo kita tidak memompanya sendiri.  Aku berpikir pasti ada cara buat melawan excuses-excuses itu. Salah satunya adalah dengan selalu berpikir kedepan tanpa lupa memaknai yang sedang kita lakukan sekarang. Berpikir apa sebetulnya yang kita cari dalam hidup ini, dan apa sesungguhnya yang membuat hidup kita menjadi lebih bermakna.

Mencari makna hidup dan apa yang kita benar –benar kita cari dalam hidup ini memang tidak mudah; abstrak dan banyak sekali bentuknya. Oleh karena itu aku percaya pada proses memilah-milah mana yang lebih penting sekarang dilakukan dan mana yang bisa di tunda belakangan. Toh, memang sunatullah juga, manusia tidak akan berjalan bersamaan, masing2 punya jalan hidup dan pase-nya sendiri-sendiri. Pintar memilah-milah kegiatan dalam hidup untuk sebuah tujuan, menjadi penting karena dengan begitu otak kita juga jadi ikutan tersistem, pikiran lebih tenang, dan InsyaAllah jadi mudah melakukan suatu pekerjaan.

Cara lain untuk melawan excuses adalah menyadari bahwa kita memiliki tanggung jawab penuh atas diri kita sendiri. Bahwa hanya kita yang mewarnai pelangi kita sendiri dan Cuma kitalah  yang akan paling dalam merasakan efek apa yang akan terbentuk dari setiap pijakan dan langkah yang kita ambil dalam kehidupan kita. Allah tentu akan menemani langkah kita, dan tentu saja kita harus selalu berserah diri dan tak pernah lepas mencari ridhoNya.

Cara terakhir (mungkin masih banyak lagi) yang bergelayut dibenakku adalah dengan secara kontinyu menilai diri sendiri dari waktu kewaktu. Bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh manakah kita berlayar, dan apakah layar sudah dikembangkan? Adalah penting sehingga kita bisa menilai  apakah kita akan bisa sampai ketepian  atau malah akan kembali berputar-putar di tengh lautan tanpa arah tujuan.

Semoga semua cara2 diatas dapat membantu kita mengusir excuses, tidak mau lagi berkawan dengan meraka dan siap menjalani hidup penuh makna dan hadiah2 indah yang kita ciptakan sendiri.

Oh Tuhan, Sang Maha Tahu Segala…Bantu aku jalani kehidupan ini….Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s