Ritual Pagi..

Aku terbangun lagi dari tidur malam yang hampir selalu indah. Kadang terbangun oleh suara alarm handphone suamiku yang selalu berdering di jam yang sama setiap pagi, atau karena tubuhku sudah merasa cukup beristirahat. Segera setelah mataku terbuka, mulut dan hatiku sejenak menyebut nama Tuhan…berlega hati bahwa hari ini aku masih di beri kesempatan untuk menjalani sisa-sisa waktu hidupku. Selimut lembut berwarna hijau yang ukurannya pas-pasan untuk kami berdua itu aku tingkapkan. Dia teman tidur sejati kami yang semakin lembut setiap harinya setelah sekian kali dicuci. Tidak terlalu besar, tapi pantas di beri ajungan jempol karena dia menjadi selimut favorit kami. Selimut yang lebih besar ukurannya, lebih mahal harganya, dan lebih indah motifnya kami simpan di lemari, dan setiap kali kami ingin memberi selimut baru yang sama dengan si Hijau, kami selalu lupa. Akibatnya..selimut hijau menjadi satu-satunya kekasih kami saat tidur.

Setelah kantuk kami hilang, kami terbangun dan bergeser ketepi kasur,  kaki kami julurkan kebawah, mencari sandal selop rumah yang terbuat dari bahan selimut/kain wol. Sandal kami makin tua, kainnya makin hari makin terasa tipis saja. Kami berjalan ke kamar mandi tepat disebelah kamar tidur kami. Kamar mandi indah yang tembok dan porselinnya berwarna putih tulang, berkarpet kecil warna hijau, terlihat bersih, harum..lengkap dengan lukisan dan  satu buku yang tergeletak di rak kecil berjudul “ Between Sea and Sahara”. Niatnya buku itu akan kami baca di dalam, tapi nyatanya hanya bisa bertengger sebagai hiasan belaka. Entah kapan buku itu kami baca. Tapi setiap kali aku melihat buku itu, aku seperti melihat raut harapan disana, “kenapa pula engkau simpan daku sendirian disini, kalau engkau tak mau menyentuhku. Tolong..pindahkan saja aku ke rak buku bersama yang lain?”. Aku mendengar suara pilu-nya, tapi aku diam saja..sambil berkata, “sabar ya..suatu saat engkau akan kami sentuh”. Kejam sekali aku, ugh!

Perlu menunggu beberapa menit untuk menghangatkan air sebelum kami kami bergantian mengambil air wudhu lewat kran air diatas bath tub. Bath tub atau kolam besar yang seringkali menjadi lantai bak mandi kami dan sesekali  menjadi kolam air, tempat dimana kami bercengkrama sambil menikmati luapan busa, hangatnya air, dan wanginya bubble bath.  Entah mengapa, tentu salah satunya karena perbedaan musim, kami hampir tidak pernah menggunakan air dingin untuk berwudhu. Tidak seperti di tanah air, panas atau ketika musim hujan sekalipun, air dingin hampir tidak pernah menjadi masalah. Kemudian kami sholat berjama’ah, memulai hari dengan Bismillah, berharap hari ini bermanfaat. Kami berdoa dengan doa yang hampir sama setiap hari, berharap mendapatkan anugrah, kebaikan, kemudahan, kesehatan bagi kami, orang tua dan keluarga. Alhamdulillah, aku berbahagia bisa berdiri melakukan solatku, solat yang kadang2 kulalui dengan sepenuh hati dan kadang2 kulalui hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Sholat yang juga dihiasi dengan bacaan Alqur’an yang hampir sama bunyi ayatnya. Surat2 pendek yang kuhapal dulu ketika aku kecil atau ketika aku di Pesantren.

Sholat berjama’ah juga adalah moment indah dihimpitan hari. Aku menikmati alunan ayat Alqur’an yang suami ku lantunkan. Aku menikmati syahdunya doa-doa yang dia panjatkan. Aku menikmati suasana ini, dan kalau Tuhan memberi aku hadih berupa arjuna-arjuna atau bidadari-bidadari kecil, aku bertekad bahwa aku ingin mereka merasakan kenikmatan yang sama. Kenikmatan menjadi “powerless’ dan hanya bergantung pada Tuhan semata, sebagai pelindung, penguat, dan pendengar segala asa dan nestapa. Segera setelah solat, lipatan mukena, sajadah dan sarung kami simpan di laci lemari kayu. Laci memang berfunsi sebagai tempat pakaian di sini, aku sendiri baru mengetahui dan menggunakannya ketika aku menginjakkan kakiku di luar negeri untuk pertama kalinya, sekitar 15 tahun yang lalu.

Solat subuh selesai, kami menuju dapur. Kubuka kulkas, kuambil susu cair dalam botol plastik dan kutuang susu kedalam mangkok. Tak lupa kuberi potongan strawberry didalamnya. 45 menit susu kupanaskan, dan ku biarkan suamiku menaruh sendiri serealnya karena aku tidak mau menuang terlau banyak atau terlalu sedikit. Gemericik, seperti air kolam di hujani batu kerikil, aku menikmati  tumpahan sereral ke dalam mangkok. Sementara aku menikmati  oat meal panas yang kucampuri dengan susu, potongan strawberry/pisang. Sarapan yang hampir sama setiap hari buat suamiku, sementara aku suka berganti-ganti jenis sarapan.

Ritual pagi kami, disini di bukan tanah air kami. Tanah yang kami pilih untuk kami singgahi dalam beberapa tahun saja. Tanah yang memberi kami harapan, tanpa menafikkan banyaknya harapan juga di tanah air. Tanah yang memberi kami petualangan dengan riak-riaknya, yang juga bumi Allah. Ritual pagi, indah bila dimaknai dengan indah, dan bisa saja menjadi ‘sangat biasa’ bila hanya dilalui begitu saja tanpa makna. Aku berharap bisa memberi makna pada setiap kejadian..Tuhan, berikan aku kemampuan mencari makna dalam kehidupan ini…Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s