Istri Rumah Tangga

Frase “Istri rumah tangga” memang gak lazim didengar di telinga masyarakat Indonesia, aku sendiri pun  hampir tidak pernah menemukan frase ini sebagai status di KTP.  Frase “ibu rumah tangga” lebih lazim digunakan, yang seakan-akan menafikkan keberadaan wanita yang belum menjadi ibu,  memilih tidak menjadi ibu, atau tidak bisa menjadi ibu karena alasan kesehatan misalnya. Tapi pada sisi lain, frase ini juga bermakna optimis bahwa setiap perempuan yang menikah pasti akan menjadi ibu. Aku berpikir, kenapa tidak di gunakan saja frase yang lebih universal saja ya.., seperti “wanita rumah tangga” misalnya?

Anyway, omong-omong soal frase, aku merasa tidak layak menyebut statusku sebagai “ibu rumah tangga”. Aku toh belum menjadi ibu dan otomatis aku tidak melakukan hal-hal di rumah tanggaku yang berhubungan dengan ibu.  Oleh karena itulah, aku lebih memilih frase “istri rumah tangga”.

Ya, aku adalah “istri rumah tangga” terhitung sejak  Juni 2009 lalu. Ini tahun pertama aku menyandang status itu di sebelas tahun usia pernikahanku, tanpa deadline pekerjaan kantor atau pun tugas kuliah. Awalnya, memang tidak mudah,  apalagi aku baru saja menyelesaikan S2 ku, dan riwayat pekerjaanku juga cukup baik.  Tapi keputusan untuk menjadi IsRT ini sudah aku pikirkan masak-masak. Aku dan suami sudah bicara panjang lebar tentang ini dan terlepas dari karena situasi , aku sudah yakin bahwa ini adalah pilihanku sendiri.

Aku, seorang  istri rumah tangga, menjadi terbiasa dengan pertanyaan,  “Ngapaian aja loe dirumah?” –“Kapan kerja lagi”—“Apa gak bosen dirumah saja?”. Weleh-weleh, aku tidak mau menghakimi apa yang ada dalam kepala orang, dan mencoba mengerti kenapa mereka bertanya begitu. Aku tidak mau pusing dengan apa pertanyaan orang, dan tidak mau membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Pastinya aku sangat menghormati setiap keputusan seorang wanita,  untuk  bekerja atau tidak, untuk melanjutkan sekolah atau tidak,ataupun  untuk menikah atau tidak. Aku yakin, masing2 wanita memiliki alasan sendiri-sendiri untuk melakukan apa yang pantas dan membuatnya bahagia.

Aku melihat status baruku sebagai sebuah kemewahan. Kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh seorang wanita yang bisa hidup cukup dan bahagia dengan satu penghasilan saja. Kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang sudah pensiun. Sebuah kemewahan yang mahal dan susah dimiliki bagi sebagian orang.

Aku seorang istri rumah tangga, memiliki otoritas penuh atas apa yang akan aku kerjakan sehari-hari.  Memiliki kemewahan berupa waktu  yang lapang dan santai untuk beribadah, membaca, menulis,  memasak , berolah raga, mengurus rumah, berkebun, dan bersosialisasi, yang dulu kesemuanya hanya bisa aku lakukan di sela-sela pekerjaan atau tugas kuliah yang banyak. Aku istri rumah tangga, yang sadar betul bagaimana memanfaatkan waktu ini untuk berusaha menjadi istri yang selalu sedap di pandang mata dan menjadi penyejuk hati. Aku juga  selalu punya cita-cita untuk menjadi seorang kaka, kawan, sahabat, anak, dan tentunya hamba Allah yang bisa berlaku ihsan dimanapun aku berada.

It is our own life, and only us, our family/husband, and God who knows how to best live with it. Salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s