Arti Rumah

Perjalanan mencari rumah memang banyak membuat aku belajar banyak hal. Tidak saja soal seluk-beluk teknis membeli rumah dari mulai meminjam uang sampai memahami surat kontrak pembelian, aku juga berulang kali disengaja atau tidak berfikir tentang apa sebenarnya arti rumah buat aku dan suami dan kenapa kami memutuskan untuk membelinya.

Tentu saja ditengah kondisi ekonomi yang tidak jelas seperti ini, aku banyak juga membaca kalo tahun ini bukan tahun yang pas untuk membeli rumah. Sampai dua tahun kedepan, aku pun membaca kalau harga rumah akan terus menurun. Para pembeli rumah pemula seperti kami disarankan untuk menunda membeli sampai harga benar-benar down.  Ada juga artikel yang mengatakan kalo biaya berhutang dengan bank akan lebih besar ketimbang biaya menyewa rumah. Dalam hal ini penyewa dilihat lebih beruntung dibandingkan pembeli.

Akan tetapi di lain pihak, aku juga membaca kalo tahun ini adalah tahun yang tepat untuk membeli rumah. Bukan hanya karena banyak orang yang menjual rumahnya dengan harga murah karena ekonomi turun, tapi janji pemerintah untuk memberi uang sejumlah $8000-15000 bagi pembeli rumah pemula, memang sangat menggiurkan.

Diantara berita baik dan buruk tersebut, ada satu berita yang cukup ‘menantang’ buat aku dan suami. Berita tersebut sangat berhubungan dengan rencana kami kedepan..bahwa membeli rumah tahun ini adalah tindakan yang tepat asalkan..kami mempunyai pekerjaan yang aman, uang muka yang cukup, uang gaji yang pas untuk membayar kredit, dan juga keinginan untuk tinggal di rumah yang kami beli paling tidak untuk lima sampai sepuluh tahun kedepan.

Hm..let’s see…sampai sejauh ini, kami memang belum memutuskan akan tinggal di mana kami dalam lima tahun kedepan. Karena kedua pilihan baik pulang atau tetap tinggal sama-sama menjanjikan kehidupan yang baik buat kami. Masalahnya adalah kami memang harus pandai mencari kelebihan apa yang kami dapat di salah satunya. Kelebihan yang tentu saja tidak bersifat materi, tetapi lebih pada pencarian makna atas kehidupan kami berdua.  Dan bila kami bicara soal financial, tentu saja membeli rumah di Riverside, adalah sebuah komitmen yang besar. Tidak hanya karena harga rumah-nya yang memang nahal, tetapi juga resiko2 pembayaran rumah lainnnya seperti pajak, asuransi, dan pemeliharaan juga harus kami pertimbangkan masak-masak.

Anyway, sampai saat ini kami berdua tidak pernah berhenti berdiskusi tentang rumah. Sudah pula kami hitung2 pengeluaran setiap bulan-nya, he he..mahal. Dan sudah pula kami fikirkan apa arti rumah itu buat kami. Sampai saat ini, kalo kami hanya berfikir soal investment, kami bisa saja kecewa suatu saat nanti. Toh siapa pula yang tahu apa yang akan terjadi dengan ekonomi di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Para ekonom bisa saja berargumentasi dan menebak-nebak, tapi siapa yang bisa memastikan semua.

Kami berfikir, rumah adalah surga..tempat dimana kasih sayang..ketenangan, kedamaian, berkah dan tentunya produktifitas bisa di bangun dan di pertahankan selama-lamanya dengan niat yang baik. Kami harus siap dengan segala resiko, bila suatu saat memang uang yang kami bayar untuk kredit sama saja dengan harga menyewa. Kami harus terus berfikir positif, anyway…ini hanyalah rumah sementara, rumah fana didunia. Tempat kami yang kekal adalah di akhirat nanti. InsyaAllah kalau kami berusaha ciptakan surga di dunia dengan niat dan cara yang baik, Allah pasti akan meridhoi dan membantu kami dengan cara-Nya. Dan bila sudah tiba saatnya kami pergi ke akhirat, di tempat yang kekal..InsyaAllah…syurga Allah bisa kami kunjungi dan tinggali. Amin…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s