Sholat Jum’at

Sejak jam 12:30 siang, aku sudah siap-siap pergi  ke masjid.  Kali ini aku memilih memakai celana panjang hitam, baju kaos panjang merah bata, jilbab coklat kembang-kembang kesukaanku serta tasmina cantik pemberian ibuku.Tepat jam 12:40, handphone nokiaku berbunyi, “aku sudah di bawah, di garasi, ayook berangkat”, begitu kata suamiku di telpon.

Iya..apartemen kami memang ada di dataran lebih tinggi dari tempat parkir. Aku bilang, “okay..siap berangkat”, lalu aku turun, riang sekali rasanya. Belakangan memang, rutinitas sholat Jum’at di Riverside jadi hal yang indah buat aku. Rasanya seperti mau ketemu sang kekasih hati diruamhnya, kekasih yang setia mendengarkan keluh kesahku, mengerti benar siapa aku , dan tidak pernah judgmental dengan apa yang aku rasa, fikir dan lakukan. Indahnya Dia..

Anyway, ketika kuturuni anak tangga menuju mobil,  aku arahkan pandanganku ke kaca mobil depan, dimana suamiku sedang menunggu didalam. Ku lihat dia senyum-senyum sendirian, sampe ge-er aku dibuatnya.

“Kenapa tadi senyam-senyum?, ada yang aneh ya?”, belaga pilon aku bertanya. “Ah gak ada apa-apa” katanya. Heleh, aku diam sejenak dan lalu bertanya lagi, “ada apa sih?, ada berita bagus di kampus ya?”.. aku basa-basi lagi bertanya sambil berharap dia gak menahan kata-kata pujiannya. “Ah biasa aja di kampus…..kamu cantik pake baju itu, pangling, cakep banget”, he he…aku cuma mesem-mesem , akhirnya..akhirnya.  “oh okey..makasih..makasih..”, begitu jawabku sambil terus mesem-mesem.

“Yah sudah..sayang turun disini ya, aku mau parkir di belakang masjid. Kasihan kalo mesti jalan balik lagi ke mesjid, panas lagi”, begitu kata suamiku sambil tak lupa memencet tombol central lock pintu mobil dan berhenti tidak jauh dari pintu masuk mesjid. “Okey..sampai nanti ya.., nanti telponan  pas udah selesai solat ”. Begitu kataku dan sepertinya kata-kata  itu…selalu muncul di suasana yang sama,  tempat yang sama, jam yang sama di sebulan terakhir ini, Oktober-November 2009.

Alhamdulillah, sampai juga aku di lantai dua mesjid, dimana jama’ah wanita biasa melakukan solat. Ku cari shaf paling depan, agak ditengah letaknya. Sengaja memang kupilih shaf itu supaya aku bisa melihat imam dari sela2 pagar pembatas kayu itu. Seperti biasa, sebelum ceramah dan solat dimulai, aku lihat dulu sekeliling ruangan. “Ehm, sudah setengah ruangan terisi, kebanyakan oleh ibu-ibu di usia 50 tahunan ke atas”, begitu hampir selalu gumamanku. Kebanyakan dari mereka bergamis hitam atau warna gelap dan memakai jilbab seperti biasa. Sepertinya cuma aku yang bermukena cantik berbordir indah ini. Sampai-sampai agak malu aku dibuatnya, karena kalo aku sedang pakai mukenaku..aku merasa  setiap orang di mesjid melihat dan memperhatikan mukenaku yang bagus ini. “Aduhai Tuhan, aku gak ada maksud apa-apa..ini, emang begini mukena buatan Indonesia, bagus-bagus semua”, begitu kataku dalam hati.

Setelah mengambil tempat, aku juga suka celingak-celinguk sebentar, lihat-lihat kalo ketemu orang Indonesia disini. Biasanya aku suka mencirikan mereka dengan mukena bagus yang mereka pakai. Kemarin lalu, aku sudah ketemu dua orang, datang ke mesjid selalu bersama anaknya. Aku memang belum sempat banyak tanya sama mereka, baru sempat ber hai-hai-an saja. Nah kalo dengan muslimah lain, terus terang aku juga belum banyak kenal. Sepertinya salah satu cara untuk menjalin silaturrahmi dengan mereka harus dengan sikap “agresif”…bertanya duluan..menyapa duluan..dan ehm..ikut kegiatan di mesjid ini nanti. Let’s see…

Setelah ruangan agak penuh, jam satu-an, ceramah di mulai dan dikuti dengan sholat Jum’at. Dan sudah 4 kali ini, ternyata…baru satu ceramah yang betul-betul mengena di hatiku, yang tiga lainnya ya..biasa-biasa saja. Biasa saja bukan hanya karena kadang memang bahasa Inggris bapak penceramah yang kurang jelas (aih..aku kadang2 ngerasa ‘lost’, ini ngomong Arab atau Inggris ya)tapi juga karena isinya yang kurang pas buat ku. Aku merasa kurang sreg kalo denger ceramah yang sedikit ‘judgmental’ isinya, atau hanya berisi aturan/ perintah semata yang di kemukakan tanpa sebab  atau keterangan yang jelas, tanpa logika, dan  atau tanpa analogy.  Entah lah, I might be wrong, tapi pastinya..apapun isi ceramah itu, langsung atau tidak langsung memang membuat aku merenung…mikir…dan juga diingatkan akan makna hidup ini, lag…lagi…dan lagi.

Aih..sholat Jum’at, sholat Jum’at…Indahnya….



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s