Ketika saya sudah mulai bosan dengan Facebook

B.O.S.A.N, begitu kata yang muncul di kepala saya ketika saya sudah mulai mencium aroma kerutinan dan/atau kepura-puraan melebur jadi satu. Kadang-kadang, aroma itu bisa begitu dahsyat, sampai saya benar-benar berhenti dan pergi, dan bisa juga hanya sekelebat saja sehingga saya masih bisa bertahan tinggal. Kalau saya berhenti dan pergi, biasanya saya sudah tidak lagi merasakan manfaat apa-apa, tapi kalau saya tinggal, saya harus yakin bahwa saya bisa mengambil sarinya yang manis, sehingga saya bisa merasakan kebaikan dan keindahannya dengan sepenuh hati saya.

Ini bukan kali yang pertama saya merasakan kebosanan terhadap sesuatu (maklumlah manusia). Saya pernah merasa bosan dengan masakan saya sendiri yang hanya itu-itu saja, pernah merasa bosan dengan keluhan kawan saya yang hanya itu-itu saja, pernah merasa bosan dengan isi khutbah sholat Jum’at yang selalu penuh dengan amarah dan ejekan terhadap golongan lain, bahkan saya pernah merasa bosan dengan belanja di supermarket yang isinya hanya itu-itu saja. Nah semua kebosanan itu biasanya selalu bisa saya obati, bisa dengan mencari pilihan dalam bentuk yang lain, atau saya menghias, memolesnya dengan warna yg sesuai dgn karakter diri saya.

Ada beberapa alasan kenapa saya menjadi bosan dengan hal-hal yang saya sebutkan di atas, kepanjangan kayaknya kalo saya menulis semua detailnya. Tapi kali ini saya akan coba merangkum alasan kenapa saya bosan dengan Facebook. Ya, Facebook, tempat saya bertemu lagi dengan kawan-kawan lama saya dan tetap menjalin hubungan dengan kawan-kawan baru saya, ups bahkan dengan saudara-saudari sekandung saya, dan keluarga besar saya, adalah memang amazing, hebat!. Hebat karena Facebook benar-benar telah mempertemukan saya kembali dengan kawan-kawan lama saya yang sudah ‘hilang’ entah kemana. Tapi di balik kehebatannya, Facebook memiliki ciri dan berpotensi membosankan, buat saya khususnya.

Saya bosan dengan Facebook karena:
1. Isinya cuma melulu status teman-teman yang kadang hanya “itu-itu” aja.

2. Saya kadang kurang suka di tag NOTE. Saya tidak mau diganggu oleh bacaan atau berita yang bukan saya pilih sendiri untuk saya nikmati atau pelajari. Dan suka merasa tidak enak karena meremove NOTE mereka (Tega nian memang saya). Tapi well, kadang saya juga seneng membaca NOTE2 yang menarik. Ada beberapa kawan yang inspiring buat saya kok.

3. Saya mencium bau ke-akuan (the culture of ME) yang hebat dalam lingkungan facebook, yang bisa saja melemahkan rasa sensitifitas atau empati saya pada perasaan atau keadaan orang lain. Saya takut terjerumus kedalamnya.

4. Saya merasa bahwa waktu yang saya gunakan untuk membuka/membaca status teman-teman saya di Facebook telah mengurangi waktu pribadi saya untuk bisa melakukan hal lain yang lebih manfaat.

Empat alasan itu sudah bisa mewakili alasan kebosanan saya, dan saya mau untuk bisa mengobati kebosanan saya dengan cara yang baik, tapi tetap tidak menghilangkan manfaat facebook itu sendiri.

Saya juga masih menikmati seneng nya mendapatkan pesan intim atau perhatian dari sahabat-sahabat saya lewat inbox. Malah sahabat-sahabat dekat saya, atau saudara perempuan saya yang juga sahabat saya, bukan orang yang aktif di facebook, tapi mereka rajin mengontak saya lewat inbox atau imel, dengan berita-berita intim yang saya tunggu-tunggu kehadirannya. Saya seneng janjian chatting dengan mereka, dan saya menikmati hubungan jarak jauh yang sesekali tapi intim ini.

Ya, ketika saya mulai bosan dengan facebook saya memilih untuk menghias saja hubungan saya dengan facebook, bukan memutuskannya. Saya menghiasnya dengan cara yang saya anggap baik dan pas. Saya akan mengurangi masuk ke HOME di facebook untuk membaca status kawan-kawan saya. Saya akan mengurangi frekwensi dan lebih berhati-hati dalam menuliskan “What is in my mind” di facebook saya, karena takut membosankan orang lain dan takut salah memilih kata sehingga bisa menyinggung perasaan orang lain. Dan tentu saja saya akan mengurangi frekwensi saya mengunjungi facebook.

Saya akan melihat bagaimana kelanjutannya nanti, apa Facebook masih mengantongi mudhorot dan manfaat yang serupa atau berbeda di masa datang. Saya akan tetep mengkritisi diri saya sendiri, bukan menyalahkan kehadiran teknologi. Yang pasti saya seneng bisa bersilaturrahmi dengan kawan-kawan saya, ya..secukupnya saja, sewajarnya saja, sepanjang nilai-nilai manfaat masih bisa di pertahankan. Saya fikir, untuk facebook, less is more karena kalau keseringan bertemu, rasa kangen jadi susah muncul. Padahal rasa kangen itu indah, dan saya tidak mau keindahan itu memudar. Salam Silaturrahmi.

4 thoughts on “Ketika saya sudah mulai bosan dengan Facebook

  1. rasa yang sama…yg pada akhirnya membawa jari2 tangan saya membuka tulisan anda.. saya pernah bosan dan berhenti dg satu nama..e..malah buka akun lagi dg nama yg berbeda.. sampai punya akun tiga..saya bahkan mencurigai diri tlah kecanduan dunia maya..,,tp begitulah saya.. saat saya suka baca.. semua buku2 yg menarik perhatian saya lahap semua.. saat suka nyanyi-nyanyi.. karokean di rumah sepanjang hari sampai kayak org gila..pokoknya..rasa2 seperti itulah..sdh jd karakter saya mungkin ..kalo suka segala sesuatu yaa harus benar2 masuk2sekalian merasakan basahnya..(bisa di ibaratkan begitu)…trims ternyata..pembosan ada temennya juga yaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s