Filosofi memasak…

Gara-gara ngerasa baru ajah masak buat makan malem, kok udah mau masak buat makan siang lagi, aku jadi kepikiran.ehm.. kira-kira apa sih yang bisa aku dapetin dari masak-memasak ini?

Apa iya..memasak itu hanya tanda cinta sama keluarga? Supaya bisa makan jadi enak, sehat dan terjamin kebersihannya? Supaya bisa menghemat uang belanja gitu? Untuk nyalurin hobi? Untuk menghibur diri relaksasi ? Untuk terapi kesehatan jiwa ? Atau malah untuk mencari uang, menambah penghasilan gitu?

Satu, gabungan atau semua alasan yang sudah aku sebutin…pasti ada benarnya ya; aku udah ngalamin dan ngerasain. Cuma karena aku percaya bahwa alam, atau sesuatu yang sangat kecil sekalipun bisa mengajarkan kita akan hidup, aku percaya bahwa kegiatan memasakpun bisa mengajarkan kita akan hidup. Begini nih hasil puteran otakku..kenapa aku percaya kalo memasak itu juga ada filosofi-nya.

Pertama, Ketika aku masak terus nemuin satu bumbu yang kurang, aku biasanya tidak ambil pusing/bingung terlalu lama. Aku bisa dengan santai ganti bumbu yang tidak ada dengan bumbu yang lain, dan hasilnya…. rasa masakanku bisa sama enaknya, atau bahkan lebih enak.

Nah dalam hidup pun begitu, hendaknya aku gak perlu repot dan susah hati kalau dalam perjalanan hidupku, ada hal yang dirasa kurang. Kalaupun iya kurang, InsyaAllah selalu ada jalan lain atau suasana lain yang bisa kita ciptakan sendiri yang buat hati kita “senang”, bahkan lebih senang. Jangan-jangan, malah banyak Blessing in Disguise-nya (Hikmah).

Kedua, Sehabis masak, biasanya..aku seneng…banget!! Aku boleh lah berbangga dengan masakanku sendiri karena ternyata rasa masakanku sama enaknya atau malah lebih enak dari makanan di restoran. Buktinya tuch, misua doyan banget masakan aye, he he.

Untuk yang ini, aku percaya bahwa aku tidak perlu membanding-bandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Karena bisa sangat mungkin, hidup ku jauh lebih enak dari hidup orang lain. Dan bisa jadi kalau aku ada di posisi orang lain, atau sebaliknya..aku maupun orang lain itu, bisa sama-sama tidak bahagia.

Ketiga, Kalau aku memasak sambil cemberut atau males-malesan, biasanya masakanku gak enak pula rasanya. Dan bukan cuma aku yang ngerasa gak enaknya, yang ikut makan masakanku pun ngerasain gak enak nya juga.

Nah, memang kok, segala sesuatu yang dimulai dengan baik, dengan semangat, rasa ikhlas, apalagi kalau ditambah dengan rasa cinta, InsyaAllah akan berbuah baik pula. Barokah perbuatan baik-ku, bukan hanya untuk aku sendiri, InsyaAllah semoga..orang-orang di sekitarku ikut merasakan berkahnya juga.

Keempat, Kalau aku mulai masak tanpa Bismillah…atau dengan buru-buru, biasanya..ada ajah yang salah. Boleh jadi aku ‘kepotong’, boleh jadi ada yang tumpah lah, atau ada yang pecah lah, macam-macam pula akibatnya!

Untuk yang ini, aku percaya banget..mindfulness ketika melakukan sesuatu itu emang penting supaya kita tidak jatuh, atau malah jatuh lagi ke lubang sama. Sadar dalam melakukan sesuatu, gak bengong..dan memulainya dengan Bismillah, InsyaAllah bisa membawa kita pada ketenangan dan kehati-hatian dalam melakukan suatu pekerjaan.

Sementara cuma empat point aja yang ada dalam fikiranku. Kalau entar kepikiran lagi, aku akan tuliskan dan tambahkan kemudian. Tapi kalo kebetulan ada yang mau nambahin, silahkan saja. Udah ya, mau masak dulu nich…he he (–

2 thoughts on “Filosofi memasak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s