Aku dan Jilbab; antara kebiasaan, situasi, dan substansi

Aku sadar kalau cara pandangku sekarang tentang jilbab, kerudung dengan penutup kepala kecuali wajah, tidak lagi seperti dulu ketika aku masih menjadi santri di sebuah pesantren di Jakarta, ketika aku masih kuliah di sebuah perguruan negeri swasta dan negeri, ketika aku masih belum menikah dan bahkan ketika aku masih belum menginjakkan kakiku ke luar Jakarta, pulau Jawa, atau Indonesia. Aku sadar betul bahwa pandanganku tentang jilbab sekarang sangat mungkin bertentangan dengan pandangan ayah dan bundaku, bahkan kakak dan/atau adik-adikku. Aku merasa perlu ekstra hati-hati untuk mengemukakan pandanganku kepada orang tuaku; bahkan jujur saja, aku masih bingung bagaimana cara memulai mengemukakan pandanganku.

Pandanganku mulai berubah ketika pertama kali aku berhasil mewakili kampusku di Lampung untuk menjadi salah seorang duta pemuda Indonesia ke Australia. Di program tersebut, aku melihat “kemajemukan” teman Indonesia dan juga warga Australia sendiri. Tak lama setelah menikah, aku ikut suamiku tugas belajar ke Scotlandia dan Hawaii. Saat itu, aku tidak hanya sekedar ikut suami; tapi aku bekerja apa saja, dari pekerjaan yang menekankan tenaga dan sedikit otak, sampai yang sebagian besar menggunakan otak tapi sedikit tenaga.

Ketika berada di luar negeri, aku berusaha untuk bergaul dengan berbagai kalangan, berusaha untuk menjalin pertemanan yang seimbang dengan siapa saja. Waktu di Skotlandia memang, aku masih mengenakan jilbab setiap kali ke luar rumah. Tapi peristiwa Serangan Teroris 11 September 2001 di Amerika, menjadi awal perubahan sikap dunia terhadap Islam, termasuk dengan perempuan-perempuan berjilbab. Dan oleh karena kejadian itu, ketika berangkat ke Hawaii pada bulan September tahun 2002, aku memutuskan untuk tidak memakai jilbab dengan alasan keamanan dan kenyamaan bergaul, bepergian dan bahkan bekerja di negeri orang yang baru terkena musibah terorisme itu.

Memang selama di Hawaii, banyak pertanyaan yang ditujukan kepadaku mengapa aku tidak memakai jilbab di Hawaii padahal aku memakai jilbab di Indonesia; ada yang mengerti penjelasanku, ada yang masih belum mengerti walaupun sudah aku jelaskan, dan ada yang pura-pura mengerti dengan menebak-nebak isi hati dan kepalaku.

Kemudian, dalam perjalanan mengikuti suamiku, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah program master di Hawaii, dan jilbab pun tidak ku kenakan walaupun dalam lingkungan akademis, pengguna jilbab hampir tidak mendapatkan kesulitan, yang bisa berbeda bila seorang pengguna jilbab harus lebih mobile bergaul atau bekerja di luar lingkungan kampus.

Sekarang, aku tinggal di California, hijrah dari Hawaii setelah dua tahun berpisah tempat dengan suamiku yang mengajar dan tinggal di California. Aku tetap tidak berjilbab di banyak kesempatan pergi ke luar, meskipun memakai pada saat-saat tertentu seperti ke masjid, mengikuti pengajian dengan warga Muslim lain di California, dan ketika aku ingin saja memakainya karena udara dingin, atau karena aku rindu saja dengan jilbabku.

Ada satu hal yang masih kurasakan berat tentang pengungkapan kejujuranku pada orang tuaku, akan aku dan pandanganku tentang jilbab. Sedikit, aku akan menulis kenapa hal ini menjadi berat.
Aku sangat menghormati keluargaku, bahkan lebih dari itu, aku sangat bangga dengan keluargaku. Aku lahir dari keluarga muslim yang bisa dibilang taat. Ayah (dulu seorang kepala sekolah Madarasah Aliyah Negeri) dan ibuku, keduanya juga adalah guru agama, aktifis mushola atau masjid di lingkungan rumahku. Tidak hanya mereka, nenekku juga memiliki madrasah kecil di kampungnya, tempat anak-anak kecil belajar mengaji, lengkap dengan majlis taklim, tempat para ibu belajar mengaji sekali seminggu. Sejak kecil, aku terbiasa dengan suara azan dan alunan Alqur’an yang bergema di rumahku. Selepas Maghrib, tidak hanya ayahku mengaji, pun kawan-kawanku semasa kecil datang ke rumahku untuk belajar mengaji pada ibu. Aku sendiri sudah belajar mengaji sejak kecil, sebelum ibu menerima teman-temanku ikut belajar. Aku ingat betul betapa ibu sungguh-sungguh mengajarkan aku, dan menekankan betapa pentingnya aku mengusai lafal dan makhroj bahasa Arab yang baik, dan memahami isi dan makna nya seiring aku tumbuh. Dan baru beberapa tahun belakangan ini, ibu akhirnya tidak lagi mengajar ngaji di rumah karena belakangan sudah ada TPA di mushola dekat rumah. Dan ibu sudah semakin sibuk dengan kegiatan sosialnya di luar rumah, dan memang aku juga berfikir cukup melelahkan kalau setiap malam ibu harus terus mengajar mengaji.

Ayahku, sesibuk apapun, selalu menyempatkan waktu sholat berjama’ah di masjid. Sekarang setelah ayahku pensiun, hampir setiap waktu sholat, beliau melakukannya di Mesjid. Ibuku pun demikian, bila Ramadhan datang, hampir setiap malam ke mushola untuk sholat Tarawih. Bahkan lebih dari itu, orang tuaku selalu merasa bertanggung jawab atas keberagamaan masyarakat sekitar. Ibundaku aktif di masjid taklim yang sudah puluhan tahun ia pimpin, dan ayahku selalu datang di pengajian bapak-bapak di Masjid, atau mengisi kultum di masjid/pengajian ibu-ibu. Aku mengagumi ayah ibuku, mengagumi keistiqomahan mereka dalam ibadah, mengagumi semangat mereka dalam bermasyarakat, dan menghormati cara pandang dan keyakinan mereka terhadap banyak hal keagamaan dan kemasyarakatan.Karena kondisi itulah, aku masih mengenakan jilbabku, ketika aku pulang mengunjungi keluarga dan kawan-kawanku di Indonesia.

Dulu aku berpikir bahwa berjilbab adalah mutlak sebuah kewajiban dari Tuhan, Allah SWT. Sejak kecil hingga menginjak remaja, aku hanya tahu bahwa berjilbab bukanlah pilihan; just taken for granted. Artinya, berjilbab dkunggap sebagai keharusan sebagai perempuan Muslim seperti perempuan Muslim yang lainnya, tanpa perlu mengetahui konteks dan alasan-alasannya, sebagai syarat mutlak untuk menjadi perempuan muslimah yang baik. Sejak kecil aku dididik untuk menutup auratku dengan rapi termasuk menutup kepala dan lehernya. Dan tidak seperti beberapa kawanku yang harus bersusah payah untuk mengenakan jilbab ketika masa SMA dulu, bagiku berjilbab bukanlah usaha yang harus ku gapai2, tidak ada rasa seperti dipaksa, bahkan hanya kenyamananlah yang aku rasakan.

Berjilbab buatku adalah hal yang sangat nyaman dilakukan dan sudah menjadi sebuah kebiasaan sejak lama. Ibuku tidak pernah menganjurkan anak-anak perempuannya untuk menggunakan celana atau rok selutut di rumah sekalipun, apalagi untuk melepas jilbabnya. Aku dan saudara perempuanku yang lain terbiasa berpakaian panjang di rumah. Waktu itu, Aku tidak pernah berfikir bahwa orang bisa memiliki berbagai macam alasan untuk berjilbab. Yang tidak berjilbab, dulu aku anggap orang yang malas dan tidak patuh menjalankan perintah Tuhan, dan aku menghakimi mereka dengan mudah sekali, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Berjilbab juga adalah bagian dari membawa dan menjaga nama baik orang tua dan keluarga.

Sekarang aku berpendapat lain, memakai jilbab adalah salah satu cara untuk mencapai nilai-nilai kebaikan, kesederhanaan, keanggunan, dan kesopanan. Tetapi itu bukanlah satu-satunya cara, dan ukuran kesopanan dan kesederhanaan itu bisa sangat berbeda-beda di berbagai tempat, apalagi bila ukuran itu di bandingkan di dua negara. Berjilbab bisa pula menjadi tanda unjuk rasa kesolehan and kemewahan. Bila berjilbab, tidak mampu menggugurkan nilai-nilai yang ingin di perlihatkan kepada Allah SWT, dan atau menumbuhkan nilai-nilai kebaikan tersebut, aku pikir berjilbab menjadi sia-sia, dan bahkan membawa ketidakbaikan. Aku sekarang berpikir, bukanlah berjilbabnya yang penting, tapi apakah jilbab bisa menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dan kesopanan itu, dan apakah tanpa berjilbab seseorang perempuan Muslim tidak mampu mengusung nilai-nilai kebaikan itu?

Aku sering memperhatikan bagaimana sebagian masyarakat suka menilai seseorang hanya dari cara berpakaiannya saja. Menurutku, sebagian masyarakat senang pamer kesolehan pada manusia yang lain. Mereka tidak adil dalam menilai dan memperlakukan seseorang, hanya dari tampilan luar semata. Mereka juga merasa bahwa hanya apa yang diyakini dan dilakukanlah yang benar, dan sangat senang sekali bila dipuji karena kesalehan dan atau pakaiannya.

Sebagian pandai menghakimi akan benar-tidaknya sesuatu, tanpa mencari tahu alasan dan latar belakangnya. Alangkah miris menurutku bila ada perempuan berilmu dan terkenal, dan berpakaian sopan menurut ukuran masyarakat pada umumnya tapi tanpa jilbab, orang tidak berkata apa-apa, mereka menghormati ilmu dan kesopanannya. Tapi bila ada perempuan yang kurang beruntung, bila mereka miskin harta atau berpendidikan rendah, atau bersuamikan lelaki yang kurang bertanggung jawab, berjilbab dilihat lebih baik buat mereka. Dan bila ada artis atau seseorang yang memakai jilbab, sebagian orang akan mengatakan, “aih’kamu terlihat lebih cantik kalau berjilbab”. Walah, apa coba? Kenapa harus faktor cantiknya yang dilihat, bukankah justru maksud berjilbab adalah menutupi kecantikan fisik? Dan apakah jilbab betul-betul bisa menutupi kemenarikan seorang perempuan?

Menurutku, kalau sudah cantik secara fisik, tetaplah cantik seorang perempuan tersebut secara fisik, baik ditutupi kepala dan dadanya ataupun tidak. Justru kelakuan, gaya dan suaralah yang bisa menjadi senjata atau alat untuk menggoda, berjilbab atau tanpa berjilbab. Aku merasa bahwa ukuran nilai kesopanan dan kesederhanaan tidaklah harus dengan berjilbab. Apalagi di jaman sekarang ini yang notabene pakaian muslimah menjadi sangat fashionable dan sering tidak mengindahkan nilai-nilai kesederhanaan dan kesopanan.

Dari berbagai pengamatan dan pikiranku ini, aku sendiri memang tidak melepas jilbabku ketika pulang. Aku masih mempertimbangkan perasaan orang tuaku. Aku takut sekali bila aku melepas jilbabku; aku bisa membuat “sedih” ayah ibuku. Buat aku sekarang, tidak berjilbab ketika pulang seperti sedang menghilangkan karakter diri yang empati pada perasaan orang tua, dan karakter diri sebagai seorang pengguna jilbab sejak kecil. Aku tetap menjadi seperti yang keluargaku inginkan dan seperti juga yang aku rasai kenyamanan memakainya ketika ada di Indonesia dan di tengah-tengah keluarga. Ketika di Indonesia, kalau aku tidak berjilbab, aku merasa tidak menjadi diriku sendiri secara fisik. Memang cuma itu alasannya. Tapi dibalik dandanan fisik itu, dibalik jilbab itu, cara berpikirku tentang jilbab sekarang sudah berubah.

Entah sampai kapan aku menunggu waktu untuk mengutarakan apa yang aku yakini pada ayahanda dan ibundaku. Ketakutanku untuk menyakiti mereka terlalu besar dan sampai sekarang belum bisa dilumpuhkan. Buatku sekarang, ku tidak lagi mau menghimbau, menyuruh apalagi memaksa orang untuk berjilbab, seperti yang pernah aku lakukan dulu. Yang penting bukan lah apa yang nampak dari luar secara fisik, tapi nilai-nilai baik apa yang sedang seseorang usahakan untuk terpatri didalam diri seseorang.

Aku sekarang juga merasa lebih luwes dan terbuka pada orang lain yang berbeda keyakinan dan pendapat. Aku melihat bahwa keberagaman dalam keyakinan akan sesuatu kebenaran memang patut untuk dirayakan. Aku lebih tertarik melihat pada kesamaan berbagai keyakinan dibandingkan melihat perbedaannya. Aku yakin bahwa jalan kebenaran bisa banyak bentuknya, dan bukan lah urusan ku untuk menghakimi kebenaran atau kesalahan orang. Aku yakin bahwa penghakiman terhadap sesuatu hanya akan berbuah perselisihan, dan Aku tidak ingin bibit-bibit itu ada di dalam hatiku, bibit menghakimi yang hanya menggeser hati manusia untuk saling mengenal, apalagi untuk mencintai. Salam…

Bila dengan satu atau berbagai cara tulisan ini sampai kepada orang tuaku. Aku memohon kepada Tuhanku yang Pengasih , Sang Pemilik Jiwa….tolong kuatkan mereka bila ini menggores luka di hati mereka. Aku sungguh teramat sangat mencintai mereka. Aku berdoa semoga aku termasuk golongan orang-orang yang menghormati sesiapapun, dengan ikhlas, menghormati mereka yang memutuskan untuk berjilbab dan memutuskan untuk tidak berjilbab. Mohon ma’af bila ada salah kata dalam tulisan ini. Salam hormat dan damai untuk para Muslimah dimana saja berada.

16 thoughts on “Aku dan Jilbab; antara kebiasaan, situasi, dan substansi

  1. Gitu ya teh alasannya. Dalam hal ini kita berbeda. Bagiku jilbab bukan untuk pamer kemewahan dan kesalehan, namun untuk mengendalikan diriku sendiri sehingga aku selalu dapat mengontrol segala tindakan untuk menuju ke jalan yang baik. Terserah orang mau berfikir apa tentang aku dan jilbabku, hanya satu niat bismillah segala resiko siap dihadapi mau dijauhin sekitar, mau dianggab sok, mau di ledekin, mau dikucilkan, mau dikeluarkan dari pekerjaan, insyaALLAH insyaALLAH tetap kokoh. Mudah mudahan amin.
    Tapi berbeda tentu tidak apa-apa bukanlah perbedaan yang harus di tonjolkan namun kesamaan. Bukankah di dunia tidak ada manusia yang sama. ..
    Keep to write teteh sayang…. senang baca tulisan teh neneng.. miss u again.

  2. Menurutku … JUJUR ttg tujuan kita berjilbab, itulah kuncinya. ‘Couse jujur merupakan ekspresi hati nurani yang ngga bisa direkayasa oleh AKAL PIKIRAN yang sering terkotori dengan NAFSU, sehingga kadang sulit membedakan keduanya. Jadi, mau pakai jilbab , mau lepas atau kd2 pakai kd2 nggak, selama kita jujur dengan diri kita is okay2 aja. Sebab, sejauh yang saya tahu, difinisi jilbab toh msh debatable, ada yang mengartikan seluruh badan, kecuali mata, ada yg berpendapat muka boleh kelihatan, atau bahkan cukup pakai kerudung. Lalu, bgmn dg para wanita yang mengaku muslim, yg. akhir2 ini banyak tampil dengan pakaian full tertutup, tapi …masya alloh ! ketatnya itu yang bikin nafas lelaki ngos2an …

    Salut untuk 2 mahluk Tuhan yang tetap sama2 mempertahankan pandangan masing2 tanpa menanggalkan nilai2 silaturahminya….miss u both..

  3. Please read the book: Differentiate or Die karya Jack Throut

    Tidak boleh menghakimi apa yang bukan menjadi haknya, that’s good. tetapi akan sangat menyedihkan jika prinsip-prinsip seseorang menjadi berubah karena peng”hakiman” pihak lain. Kenyataannya didunia ini yang terjadi adalah “saling menghakimi” dan hakim yang benar adalah disaat kita mengungkapkan apapun tanpa rasa takut dari manusia dengan segala kuasanya, dan hakim yang akan menang saat ini adalah mereka yang menguasai “jendela” dunia, dan yang keluar darinya adalah sebuah kebenaran …

  4. Kalau pendapat saya yg awam bila mmg membahayakan jiwa tdk apa2 melepas..misalnya, ancaman kekerasan..
    Tp bila tdk ya kembali ke keyakinan msg2. Sy kbtln memiliki kawan yg berjilbab, bekerja di Eropa, dan alhamdulillah dia baik2 saja. Sekedar berpendapat krn berproses adlh milik msg2 individu..tentunya semua berharap proses ke arah yg baik…salam kenal..

    • Betul, saya setuju. Saya hanya share pengalaman, dan pengalaman berpengaruh pada pemahaman. Berjilbab adalah salah satu cara seseorang untuk menjadi lebih baik, tapi bukan satu-satunya cara. Terima kasih sudah mampir, salam kenal kembali.

  5. Sependapat dan senasib dengan mbak Neneng. Saya juga tinggal diluar negeri tapi tetap memakai jilbab (namun tetap memaki celana jeans atau dan sering bertanya tentang makan jilbab itu sendiriSetiap hari ditempat umum, saya berpapasan dengan perempuan yang berpakain seksi . apalagi dimusim panas. Terkadang ada yang nggak memakai bra cuma baju tipis. Eh, berarti saya noleh kan ya? He..he..he… Tapi saya heran, kenapa laki-laki disini bersikap biasa saja, tidak peduli bahkan tidak menoleh. Jadi menurut saya, beda antara berpakaian seksi dan berpakain sopan itu terletak dipikiran yang dipengaruhi oleh konteks/tempat(social dan budaya). Mungkin, jika dipindah, perempuan-perempuan yang nggak pakai bra tadi berjalan dijalanan diIndonesia gimana ya? (he..he..he..)

    Saya punya teman dosen perempuan bukan Asia, berencana mengikuti konferensi diIndonesia, Sebelum berangkat dia menelpon saya hanya untuk memastikan baju yang sebaiknya dia pakai. Karena saya tahu payudaranya agak gede, saya bilang hati-hati memilih baju atasan. Konferensi diIndonesia cenderung formal dan sebaiknya memakai blus, rok dan sepatu.Tapi roknya sebaiknya dibawah lutut. Tidak boleh memakai tank top. Saya salut sama beliau, berusaha menyesuaikan tempat dan busana. Meski saya tahu sehari-hari dikampus dia cendurung berpakain yang menurut kita seksi.

    Kita dibesarkan dengan ajaran tentang aurat perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi oleh agama dan budaya setempat. Bahwa perempuan menutup aurat dengan berjilbab mungkin bukan keharusan untuk sebagai pendapat ulama Islam. Tapi dimana kita berpijak, dimana kita tinggal berpengaruh terhadap bagaimana kita berpakaian dan berprilaku dan berpikir. Kita tidak hidup sendiri, tapi hidup dalam kelompok. Menerima aturan tertulis ataupun tidak tertulis barangkali itu yang menjadi pedoman bagaimana kita bisa tetap berada dan diterima dalam lingkungan kelompok tersebut. Termasuk plihan untuk memakai jilbab.

  6. Jika itu membahayakan jiwa & keselamatan dg berjilbab..mungkin masih bisa dimaklumi & Allah maafkan. Tapi jika tidak masalah, sebaiknya tetap berjilbab. Ini bukan budaya / kebiasaan muslimah, tetapi dalam rangka taat pd Allah Sang Pencipta dan Rasulullah panutan kita.
    Perintah Allah dlm Al Quran : (Al Ahzab:59) – Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Anyway, thanks a lot atas tulisan2 budaya & kerja di Amerika. Ini membuka wawasan saya, sbg salah seorang yg kadang berfikir pengin kerja di Amerika, tapi masih ragu & mungkin tidak mampu.

  7. Assalamu’alaikum, Mbak Neneng. Saya senang sekali membaca tulisan Mbak ini. Memang diperlukan keluasan pemikiran dan kerendahan hati untuk bisa menyikapi segala sesuatu dengan bijak. Sayangnya, tidak banyak orang di tanah air ini yang bisa bersikap seperti itu. Tidak banyak yang bisa atau mau mengerti. Lebih banyak ‘saklek’ yang berujung menghakimi.

    Oh, ya, omong-omong, saya menemukan link ini: Jurnal tentang Nalar Ijtihad Hijab Menurut M. Quraish Shihab http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/MUSAWA/article/view/880

    Menarik sekali untuk dibaca dan sangat menambah wawasan.

    Terima kasih sudah berbagi cerita, Mbak.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s