Kesempurnaan Rumah Tangga

Belum lama setelah kami membeli rumah, ada seorang kawan yang mengucapkan selamat atas rumah baru kami sambil juga berkata bahwa kebahagiaan kami baru akan sempurna bila ada seorang anak hadir di antara kami. Dia bilang kalau kami baru akan tahu dan menyadari betapa bahagia rasanya memiliki seorang anak, kalau kami sudah memilikinya, yang menurut dia adalah icon kesempurnaan sebuah rumah tangga.

Menanggapi ucapan tersebut, dengan bijak dan enteng suamiku menjawab, “oh iya..makasih, Alhamdulillah walau belum diberi anak pun, kami sudah merasa bahagia”. That’s it, tidak ada lagi diskusi, apalagi basa-basi . Sementara saya, pikiran saya berputar, perasaan saya tergelitik, membuat saya bertanya-tanya dalam hati, berpikir sendiri hingga pertanyaan-pertanyaan berikut muncul melingkari saya. Apa sih sebetulnya definisi dengan kesempurnaan rumah tangga? apakah benar bahwa hanya dengan kehadiran seorang anak kandunglah kesempurnaan rumah tangga baru bisa di capai? Dan apakah kesempurnaan itu sendiri sesungguhnya bisa di capai?

Sebelum saya menjawab pertanyaan saya sendiri, saya memang lebih dulu memperhatikan, membaca, bahkan merasakan sendiri kehidupan rumah tangga yang Alhamdulillah sudah saya jalani selama 11 tahun ini. Dari semua itu, saya mengambil kesimpulan bahwa setiap rumah tangga itu memang memiliki warnanya sendiri-sendiri. Masing-masing memiliki hambatan, prestasi, bahkan bentuknya sendiri-sendiri. Bicara soal bentuk rumah tangga, di jaman sekarang ini, khususnya di Amerika , sudah bermunculan rumah tangga pasangan gay/lesbian yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia khususnya memang kelihatan aneh.

Nah karena keberagaman warna rumah tangga itulah, maka saya menarik benang merah bahwa definisi kesempurnaan rumah tangga pun tidak hanya satu, tapi bisa bermacam-macam. Tentu saja, bila sebuah rumah tangga hanya melulu menitik beratkan “self image’ atau tergantung dengan apa kata orang kebanyakan, maka gambaran sempurna sebuah rumah tangga adalah…suami bekerja dengan gaji besar, istri di rumah atau bekerja paruh waktu dengan gaji lumayan, ada anak-anak yang sehat, ada pembantu, ada rumah sendiri, ada kendaraan sendiri, dan kalau bisa rumah tangga tersebut bisa membiayai kebutuhan keluarga besar istri atau suami . Well, mirip dengan yang di gambarkan di dalam “American Dream” gitu lah.

Akan tetapi kalau dilihat per-rumah tangga, maka setiap rumah tangga memiliki definisi sempurna yang berbeda-beda, yang bisa saja tidak sempurna di mata orang lain lho’. Contohnya ya seperti apa yang saya sudah ceritakan diatas. Kawan kami itu bisa saja menganggap rumah tangga kami kurang sempurna karena belum/tidak ada anak didalamnya , atau sebuah rumah tangga bisa dianggap kurang sempurna karena masih tinggal di rumah orang tua misalnya. Tetapi anggapan kawan kami atau orang lain terhadap rumah tangga lain misalnya, bisa saja salah. Kenapa? karena jawaban dari pertanyaan tentang kesempurnaan sebuah rumah tangga, sekali lagi, hanya bisa dijawab oleh pasangan rumah tangga itu sendiri. Semua tergantung dari bagaimana sebuah rumah tangga mewarnai dan mengukur kesempurnaan rumah tangganya sendiri-sendiri secara material, spiritual, psikologikal dan atau sosial.

Ukuran kesempurnaan itu tentu saja bisa di ukur dari berbagai faktor. Kehadiran anak kandung misalnya, buat sebagian rumah tangga adalah satu-satunya ukuran kesempurnaan. Tentu saja ukuran ini tidak salah, tapi anggapan bahwa belum/tidak adanya kehadiran seorang anak dalam rumah tangga jelas-jelas tidak dapat membuktikan bahwa rumah tangga tersebut tidak/kurang sempurna. Kehadiran anak kandung adalah salah satu saja, bukan berarti satu-satunya. Rasa Cinta yang tulus tanpa alasan mengapa, saling mendukung yang hebat, saling pengertian yang dalam antara suami istri, adalah juga ukuran kesempurnaan sebuah rumah tangga. Bahkan hubungan seksual yang baik antara suami istri pun adalah salah satu wujud kesempurnaan rumah tangga.

Lantas, kalau ukurannya banyak dan beragam, apa kah kesempurnaan itu sendiri bisa di capai? Menurut saya jawabannya tergantung dari seseorang/rumah tangga itu sendiri. Merasa sempurna, menurut saya adalah bukan ketika kita memiliki segala yang sudah fitrahnya kita sukai seperti harta, kendaraan, dan anak2 misalnya (Al-Qur’an juga menyebut itu kok) atau mendapatkan apa yang sudah lama kita cita-citakan misalnya. Merasa sempurna adalah ketika kita semakin ikhlas, sabar dan tetap yakin akan pertolongan Allah dalam segala keadaan yang menimpa kita. Dan di saat yang sama, tentu saja tetep berusah semaksimal mungkin untuk mendapatkan apa yang seseorang/rumah tangga pikir baik dan berharga dlam hidup/rumah tangganya itu. Kesempurnaan juga adalah ketika seseorang/rumah tangga bisa memaknai setiap kejadian, setiap anugerah/rezeki dalam hidupnya dengan selalu mengaitkan itu semua dengan alam, makhluk Allah lainnya, dan dengan Allah sendiri tentunya…, merasa BERSATU dengan Allah SWT. Dan bila itu semua sudah tercapai, maka tidak ada lagi rasa takut dalam menjalani kehidupan ini , kecuali takut pada Allah SWT. Dan aku, aku sendiri masih dalam perjalanan mencapai sempurna, mungkin sudah dekat…atau masih sangat jauh…..entahlah, Hanya Allah lah yang Tahu (Wallohu A’lam Bisshowab).

(Riverside, 30 Maret 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s