Merenungi Do’a

Berdoa, ach indahnya kata itu, apalagi ketika kita membayangkan bahwa selalu saja ada Allah yang akan menjawab, mendengar, membelai, dan membesarkan kerapuhan hati dan jiwa yang aku rasa. Dengan segala ke Maha-an Nya yang Indah dan tidak berbanding, beruntung dan berbahagialah manusia-manusia yang memiliki kemesraan dengan Allah lewat berdo’a. Dan semoga..aku menjadi manusia yang terapung di dalam kekuatan Do’a. Tetapi Doa bagiku, menghadirkan misterinya sendiri. Entah karena aku yang tidak mengerti hakikat dan makna doa itu sendiri, atau memang Doa itu sendiri adalah sebuah misteri?

Memang, sudah seringlah aku mendengar nasehat kerabat, bahkan alim ulama yang menganjurkan aku untuk berdoa lebih banyak. InsyaAllah dengan Do’a, kata mereka, semua yang aku harapkan akan berhasil. Nasehat itu aku ambil tanpa peduli aku untuk menyusuri lagi apa sesungguhnya yang aku pinta dalam do’aku dan bagaimana semestinya aku berdoa. Dan apakah do’aku juga sudah bisa di rindukan Allah?

Ah, aku lantas bertanya-tanya lagi. Apakah memang aku benar-benar tahu dan yakin kalau do’a yang aku sampaikan adalah sesuatu yang memang terbaik untuk hidupku? Apakah juga yang aku doakan sudah sesuai dengan segala hukum alam yang sudah Allah minta untuk aku pelajari dan renungkan? Apakah aku sudah tidak lagi egois dalam doa-doaku?

Dan pagi ini aku termenung lagi, mengingat dan menyadari doa-doaku… yang sebagiannya adalah Doa yang egois. Aku sadari, aku seringkali hanya meminta semata, mengharap keajaiban tanpa usaha yang benar-benar maksimal, masuk akal, seimbang dan sesuai dengan Sunnah Mu. Padahal dengan alam dan ilmu pengetahuan yang terbentang luas ini, aku semestinya mampu membaca ‘tanda-tanda’ sehingga aku tidak lagi berdoa dengan keegoisanku.

Ya Allah, malam itu aku menangis, sejadi-jadinya aku menangis, berusaha dengan sangat aku meminta Engkau membimbingku untuk menjadikan hatiku ikhlas, rendah hati dalam berdoa, dan selalu sadar, penuh pemahaman akan diriku sendiri. Dan aku tahu engkau mendengar tangisanku, aku tahu Engkau selalu menyayangi aku yang kadang khilap dan tidak peduli ini. Urat nadiku bergetar, suara nafasku terdengar oleh telingaku sendiri, aku tahu Engkau begitu dekat….teramat sangat dekat. Malam itu aku merasai perubahan kata-kata dalam do’aku. Aku berusaha dengan sangat dan penuh kesadaran diri agar doa ku tidak bertentangan dengan hukum alam yang sudah Engkau buat untuk aku renungkan dan pelajari.

Dan dengan segala pertanyaanku tentang Do’a, malam itu, dan semoga malam –malam selanjutnya aku tetap dan masih berdoa. Aku berdoa karena aku lemah, aku berdoa karena aku tahu Hanya Engkau lah sahabat sejatiku yang paling mengerti dan tahu siapa aku di luar dan di kedalaman hatiku. Aku berdoa karena dayaku tidaklah seberapa dan aku tahu kekuatanMu begitu Maha Dahsyat. Aku serahkan hidup dan matiku ini padaMu, bukan pada sesiapa. Oh Allah..Tuhanku yang Penuh Kasih, Bimbinglah aku selalu untuk bisa berdoa dengan baik, sehingga Engkau tidaklah bosan mendengarku, tapi merindui suaraku dalam Do’a.

(Riverside, 8 April, 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s