Nilai Kesufian (Yang cocok buat saya, dan saya suka)

Walaupun sudah sejak lama saya mendengar nama Jalaluddin Rumi, tapi baru sejak tahun 2005 lah, saya tertarik dengan puisi-puisi karya beliau. Bagi saya karya Rumi adalah karya yang keluar dari hati yang bersih dan ikhlas, himpunan kata-katanya indah dan sarat makna. Rumi mampu membuat saya berpikir, merenung, bahkan melayang.

Sejak saya menyukai karya-karya Rumi, saya jadi tertarik membaca buku tentang Sufi. Buku-buku itu ada yang isinya nyangkut di kepala saya, karena cocok di hati, dan sebagiannya ada yang berlalu begitu saja. Memang begitulah saya kalau membaca buku, ibaratnya seperti menjala ikan, tidak semua ikan yang ada dalam jaring saya ambil semua, sebagiannya saya kembalikan ke laut, karena bagi saya tidak semua makhluk hidup di laut itu cocok untuk saya makan.

Anyway, dipagi yang cerah ini, ditengah gereget rindu saya pada setengah jiwa saya yang kebetulan sedang jauh physically, saya ingin menuliskan apa saja yang menempel di kepala saya tentang kesufian, yang bisa saja subjektif buat orang lain karena nilai-nilai itu mungkin hanya cocok di hati saya saja.

Oke, nilai pertama dan utama buat saya adalah bahwa saya setuju sekali dengan pandangan kaum sufi bahwa beragama itu harus dilakukan dengan penuh keikhlasan. Keikhlasan disini maksudnya adalah meresapi, meyakini, dan tentu saja melakukan ritual keagamaan dengan penuh pemahaman dan pengharapan akan keridhoan Allah SWT semata. Oleh karena prinsip keikhlasan inilah (menurut saya), kaum sufi tidak ketat dalam menerapkan cara berbusana seorang muslim/muslimah. sepanjang nilai-nilai kesopanan dan kesederhanaan dalam berpakaian sudah bisa di raih.

Bagi mereka, penampilan luar tidak sepenting apa yang ada di dalam hati dan jiwa seseorang. Malah yang saya anggap keren adalah bahwa mereka tidak ingin memperlihatkan kematang hati dan jiwa dari cara berpakaian. Bagi mereka agama bukan untuk ditunjuk-tunjukkan secara penampilan. Justru menunjuk-nunjukkan itu adalah hal yang tidak baik buat mereka, sekecil apapun bentuknya. Kematangan hati dan jiwa untuk selalu bisa mendekati Allah SWT menjadi hal pribadi; hanya urusan seorang manusia dengan Tuhannya saja.

Nilai kedua yang saya suka juga adalah bahwa kaum sufi tidak suka mengklaim sebuah kebenaran. Buat mereka kebenaran bukan milik satu kaum saja, kebenaran itu ada di mana-mana. Mereka sangat menghormati orang-orang Keristen dan Yahudi. Bagi mereka, nilai-nilai kebenaran juga ada pada kaum yang berbeda. Sikap terbuka dan inklusif kaum sufi ini adalah sikap hebat yang memang dibutuhkan di jaman sekarang, yang kalau saya perhatikan penuh dengan pengklaiman atas kebenaran diri sendiri atau golongan tertentu saja.

Berhubungan dengan itu, saya baru mengerti dan tentu menyetujui kenapa seorang guru dalam lingkaran kaum sufi, tidak suka menyuruh apalagi memaksa, dan memberikan satu jawaban saja atas sebuah pertanyaan. Dalam tradisi mereka, seorang guru memberikan jawaban lebih dari satu plus resiko-resiko dari jawaban tersebut. Guru kemudian menyerahkan pada si penanya untuk memilih jawabannya sendiri. Buat guru di kalangan sufi, hanya Allah lah yang akan memberi syafaat kepada mereka, guru hanya menyampaikan apa yang mereka ketahui dan yakini saja. Guru tidak merasa punya daya yang cukup untuk mengubah hati dan keyakinan seseorang.

Buat saya hal ini baik, karena jangankan anak kecil, manusia dewasa pun tidak suka jika disuruh-suruh. Dengan pemahaman dan keinginan dari hati seseorang sajalah, sesuatu bisa dilakukan dengan sangat baik, bermanfaat untuk diri sendiri dan juga bagi orang lain. Cara memberikan jawaban lebih dari satu, menurut saya, secara tidak langsung menyuruh seseorang untuk berpikir dan mencoba memahami lagi apa dan kenapa sebuah pertanyaan bisa keluar. Bukan hanya itu, memberi kesempatan seseorang untuk berpikir, berarti juga memberi kepercayaan kepada orang tersebut akan kehebatan otak, hati dan jiwanya sendiri.

Nah nilai kesufian ketiga yang saya suka adalah bahwa kaum sufi menyebut tentang pentingnya bekerja seakan-akan manusia hidup untuk selama-lamanya, dan menekankan ibadah ritual seakan-akan manusia akan mati besok. Saya lupa apakah ini sebuah hadits sohih atau pepatah Arab saja. Tapi kalimat ini tidaklah asing buat saya, dan dari dulu saya setuju sekali dengan ini. Kaum sufi, kalau begitu memang tidak memisahkan sama sekali antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka, sebaliknya menekankan manusia untuk menjadi hebat dan professional dalam melakukan pekerjaan di dunia. Menurut mereka, yang juga penting dalam menjalani kehidupan ini adalah kesadaran diri kita bahwa semua yang kita lakukan selalu ada kaitannya dengan sang Maha “Center of the Universe”, Allah SWT, dimana saja dan kapan saja. Semua yang dilakukan dalam hidup juga adalah ibadah, adalah cara dan ekspresi kita mengabdi dan bersyukur pada Allah SWT. Subhaanallah Indah sekali ini.

Ya, tiga nilai itulah yang memang cocok dengan apa yang saya percayai. Kaum sufi dan nilai-nilainya, tidak lagi begitu asing dalam pengetahun saya sekarang. Tentu masih banyak nilai-nilai lain yang dengan kecetekkan otak saya, saya masih belum ‘melihat’nya atau bisa merangkumnya dalam kata2 yang baik.

Sebanyak apapun buku yang saya baca dan bila saya mampu menuliskannya kembali sebisa saya, saya teteplah seorang manusia yang lemah, penuh dengan ketidak pedulian. Hanya Allah lah yang bisa menilai dan menghakimi saya, sambil saya terus berusaha dan berdoa agar apa yang saya sudah share ini, bisa membawa manfaat bagi yang membaca, walau manfaatnya mungkin hanyalah seperti selembar benang. Salam Hangat!

(Riverside, April 13, 2010)

2 thoughts on “Nilai Kesufian (Yang cocok buat saya, dan saya suka)

  1. Syukur bahwa saudaraku;anda telah menerima ttg adax kehidupan cara dan gaya merka kaum sufi, yg perlu kita pahami bahwa cara hidu mereka bukannya sebuah aliran atau kelompok yg lahir atas satu paham tertentu, melainkan proses; pejalananx tumbuh dan lahir dari rasa cinta dan rasa ingin tahu atas tabir hidup yg dihadapi dari pengalamanprosesx alamia kehidupan garis ini ;selalu muncul pertanyaan pertanyaan dan pertanyaan kemudian dijawabx sendiri atau didiskusikan dengan alam ,kalau ditelusuri gaya hidup dan ungkapanx sungguh subyektif tetapi itu benar adanya, dasar yg paling kuat dalam pijakan mereka adalah kebenaran ttg ketauhidan ALLAH ini merupakan komitmen yg paling dasyat dan berkeyakinan bahwa alam ini dikuasakan kepada mereka dan mereka memperlakukan alam ini sebaimana mereka menjaga seorang bayi sehingga perlu untuk dilindungi;nah ini realitas namun atas kerendahan dan komitmen yg kuat dari hati keyakinan dan kebiasaan beribadah yg selalu menyertakan kehadiran ALLAH dan kuasaNYA,semua itu dikembalikan pula padNYA dengan waktux selalu mengingat ALLAH atau bezikir tanpa henti dalam sadarnya terkecuali berhenti diwaktu tidurx, namun keasyikan dan zikirx sdh merupakan ruhx sehingga zikirnya menyatu dengan ruh;jiwanya sehingga mereka ini tidurnyapun berzikir yg lelap adalah jazadnya sedangkan jiwanya tetap dalam memuji san ILLAHI, Mahabenar ALLAH dg SEGALA FIRMANNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s