Makna Perkawinan Bagi Wanita: Phase terakhir, Rahmat, atau Petaka

Suatu kali aku melihat tayangan iklan tentang cincin perkawinan di salah satu channel televisi di Amerika. Kalimat komersial di iklan tersebut cukup menggelitik buatku. Dalam iklan tersebut digambarkan beberapa lelaki melamar perempuan dengan sebuah cincin indah, sementara perempuannya melonjak-lonjak kegirangan, “Enjoy the rest of your life”, begitu kalimat komersialnya. Aku kemudian, biasalah, berfikir, “ah perempuan, dimana-mana sama ya, memang sebagian besarnya, idealnya, benar-benar kepengen dinikahi oleh lelaki yang dicintai dan mencintainya, berharap mereka bisa hidup bahagia selamanya dalam perkawinan”. Dan yang menjadi pertanyaanku kemudian adalah, “Apa iya, perkawinan buat wanita adalah phase terakhir di kehidupan dunia fana ini, dan apakah perkawinan memang menjanjikan kebahagiaan abadi buat wanita?”. Aku ingin mencoba menjabarkan jawabannya di rentetan parapraph selanjutnya.

Ok, kalau kedua pertanyaan itu langsung dijawab tanpa mikir panjang, aku, kamu dan kebanyakan orang lain, mungkin akan bilang, “Ya Enggak lah, semuanya kan tergantung”. Ya betul, aku setuju jawaban itu. Seseorang punya jalan hidup yang berbeda-beda, standar kebahagiaannya pun bisa berbeda-beda. Ada wanita yang mungkin memilih hidup sendiri untuk bisa leluasa menjaga orang tuanya yang sakit-sakitan misalnya, dan kemudian ajal menjemputnya sebelum menikah. Ada wanita yang baru menikah sebentar, kemudian menjadi janda, dan memilih untuk tidak menikah lagi karena cintanya hanya untuk suaminya yang sudah meninggal dan berharap akan bertemu suaminya lagi di Akhirat nanti.

Dan untuk kenikmatan perkawinan pun bisa dirasakan berbeda bagi setiap wanita. Ada wanita yang menjadi bahagia karena prestasi karirnya makin membaik walaupun sudah menikah; menikmati kesibukan bersusah payah menyeimbangkan karir dan kehidupan rumah tangga. Tapi ada yang justru sebaliknya; melihat karir di luar rumah tidak lagi penting setelah menikah, melainkan menggantinya dengan bentuk karir yang lain. Lalu, kalau memang kenikmatan perkawinan bagi wanita itu berbeda, tergantung apakah kenikmatan itu bisa di capai? Apakah perkawinan bisa juga menjadi petaka?.

Perkawinan bisa menjadi rahmat buat wanita, bukan hanya karena ia merasa tercukupi kebutuhan lahiriyahnya saja. Ada kebutuhan yang jauh lebih berharga dari itu, yaitu kebutuhan spiritual, sosial, dan intelektual. Dalam perjalanan perkawinan, idealnya seorang wanita dapat menemukan jalan untuk bisa mengenal dirinya sendiri lebih dan lebih lagi; makin mantap mengetahui apa yang ia maui dalam hidup, dan apa yang dianggap penting dalam hidup nya sehingga dengan begitu ia mampu mendekat terus dengan Tuhan-Nya. Hal ini hanya bisa di capai bila suami yang penuh cinta kasih bisa mendengarkan dan ikut mendukung mewujudkan keinginan hati seorang istri sebagai pribadi. Seorang suami bisa menjadi sahabat terbaik yang paling tahu siapa istri nya, dan apa yang paling membuat istrinya bahagia.

Tetapi sebaliknya, bila dalam rumah tangga, selalu saja ada kompetisi yang tidak sehat antara suami istri, baik dalam studi, karir atau kehidupan sosial. Tidak adanya suami yang penuh cinta memahami kebutuhan spiritual, sosial, intelektual seorang istri sebagai pribadi, apalagi bila dilengkapi dengan tidak adanya rasa saling ketergantungan (emosi khususnya) satu sama lain, rumah tangga ini bisa menjadi petaka buat wanita. Seorang wanita, akan merasa terjebak dan terkubur dalam kekakuan formalitas rumah tangga. Ia bisa jadi akan merasa dirampas jati dirinya, dan menjadi budak saja dalam melakukan peran sebagai istri. Pekerjaan rumah tangga yang sudah menjadi kewajibannya, bisa terasa seperti hukuman dan siksaan saja.

Tentu saja, terlepas dari bisa menjadi rahmat atau petakanya sebuah perkawinan bagi seorang wanita. Semuanya sangat tergantung dari kedua belah pihak. Kesuksesan diri kedua belah pihak secara pribadi, sangat tergantung satu sama lain. Seorang laki-laki, tidaklah akan bisa bekerja dengan tentram, tanpa cinta, dukungan dan doa dari istri. Pun begitu sebaliknya, seorang wanita tidak akan merasa bahagia bila kebutuhannya untuk sukses tidak diperhatikan bahkan diabaikan sama sekali. Rasa ketergantungan emosi satu sama lain, antara suami dan istri seyogyanya harus selalu dapat di hadirkan.

Semantara Soal waktu dan bentuk kenikmatan/kebahagiaan sebuah rumah tangga sangat berbeda antara antara satu dengan lainnya, karena prioritas, irama, bahkan tantangan sebuah rumah tangga pun bisa berbeda-beda. Semua itu, menurut saya, tidak akan pernah lepas dari keterikatan sebuah rumah tangga dengan Tuhan nya. Karena Dia lah sebuah rumah tangga terlahir, dan idealnya warna rumah tangga selalu bersanding dengan ridho Tuhan.

Perkawinan buat wanita bukanlah phase terakhir dari kehidupan, ia justru adalah awal dari kehidupan yang baru. Seperti lazimnya sebuah phase yang baru, maka pandangan seorang wanita yang sudah menikah akan sesuatu bisa saja berubah, bahkan “warna” wanita itupun akan ikut berubah. Wallohu’Alam Bisshowab!

(Riverside, 19 April 2010, Tertulis setelah menerima banyak curhat dari sahabat dan kerabat yang sudah menikah dan merasa galau).

4 thoughts on “Makna Perkawinan Bagi Wanita: Phase terakhir, Rahmat, atau Petaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s