Bila lalai dan agar tidak lalai mengucapkan Terima Kasih

Bukan tidak ada alasannya kenapa saya ingin mengurai kata Terima Kasih. Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk diapresiasi, diingat, atau disayang oleh manusia lain. Dan Kata terima kasih adalah kata yang ajaib; bisa mewakilkan atau mewujudkan rasa-rasa tersebut. Pemberian yang kelihatannya normal, apalagi wajib dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, dan kemudian dibalas dengan ucapan terima kasih, akan membuat hubungan memberi dan menerima menjadi lebih syahdu dan indah. Suatu contoh misalnya, ucapan terima kasih seorang anak kepada orang tua, bisa mengurangi beban orang tua yang sedang berjuang mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Oleh karena itu, muncullah pertanyaan dalam benak saya tentang bagaimana caranya agar saya tidak lalai mengucapkan terima kasih dan tidak kesal atau marah bila orang lain lalai berterima kasih pada saya.

Cara pertama menurut saya adalah dengan membiasakan diri untuk selalu mengucapkan terima kasih pada kebaikan orang lain. Pembiasaan itu akan menjadi bagian dari diri seseorang, dan bila seseorang sesekali lalai berterima kasih, maka otak dan hatinya akan memiliki “lubang” yang harus segera ditambal. Bila ia lupa untuk langsung berterima kasih, ia akan segera mengucapkannya kemudian .

Cara yang kedua adalah dengan berusaha merasakan berada di situasi/posisi orang lain. Bila seseorang membantu kita secara materi misalnya, kita sebaiknya membayangkan dan ikut merasakan bagaimana orang tersebut harus berpikir dan berkompromi dengan diri dan keluarganya untuk membantu kita. Dan cara yang terakhir adalah dengan terus menanamkan pengertian dan kesadaran bahwa berterima kasih kepada orang lain adalah berarti berterima kasih kepada diri sendiri. Berterima kasih pada diri sendiri, berarti juga menyayangi dan memperlakukan diri sendiri dengan baik.

Dan bila orang lain yang lalai, saya merasa sebaiknya kita diam sebentar dan tarik nafas dalam-dalam. Dengan begitu, jiwa akan menjadi tenang. Dan jiwa yang tenang akan memunculkan reaksi yang berbeda dan cenderung baik. Daripada mengumpat misalnya, lebih baik kita maklumi, maafkan, dan menyadari bahwa memang tidak setiap orang memiliki sikap, cara, dan pengetahuan yang berbeda terhadap sesuatu. Seseorang harus membersihkan lagi niat nya dalam berbuat baik, dan menyerahkan penilaian kepada Tuhan semata. Walloohu’Alam Bishowab.

2 thoughts on “Bila lalai dan agar tidak lalai mengucapkan Terima Kasih

  1. Hal yang sering dianggap remeh namun mengambil peran penting dalam kehidupan … ( eh ngomong2 …kenapa sikh artikel sebagus ini ngga dikirim ke media publik populer shg bisa dibaca berbagai khalayak ? )

  2. Makasih atas komennya mas Wahyu.

    Iya, semoga suatu saat ada kesempatan…- Saya sudah sangat senang bila yang kebetulan mampir ke blog ini, mendapatkan ‘sesuatu’, semoga…sesuatu itu baik sifatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s