Orang Tua dan Generasi Cinta Membaca

Masyarakat Indonesia harus terus membangun budaya cinta membaca. Banyak orang berpendapat, keterbatasan dana pemerintah dan kesulitan akses bacaan menjadi sebab kurangnya minat dan budaya baca masyarakat. Namun, saya berpendapat,  kesadaran dan peran kaum pendidik dan orang tua tidak dapat diabaikan.

Di tengah semakin mudahnya akses pada internet, utamanya di kota-kota besar, anak muda kita lebih memilih sibuk di jaringan pertemanan social seperti Facebook dan Twitter daripada membaca buku dan mengakses sumber-sumber ilmu pengetahuan. Di sekolah, kegiatan-kegiatan membaca seperti lomba meresensi buku, atau kegiatan Book Club masih jarang dilakukan.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, minat membaca di kalangan remaja pun menurun. Menurut National Endowments for the Arts, sebuah organisasi non-profit yang bergerak untuk memajukan ilmu pengetahuan,  jumlah remaja Amerika usia tujuh belas tahun yang tidak pernah membaca untuk hobi atau hiburan meningkat dari sembilan persen di tahun 1984 menjadi empat belas persen di tahun 2004.

Namun di Amerika tantangan ini tidak berarti para pendidik, pustakawan  dan orang tua, lepas tangan. Mereka menjadi penggerak konsisten mengembangkan minat baca di dunia anak-anak dan remaja. Perpustakaan-perpustakaan umum menjadi ruang yang menghidupkan budaya membaca sejak kecil, seperti program cinta membaca yang rutin dan semarak.

Sebagian para pendidik, pustakawan dan orang tua di Indonesia juga sudah mengupayakan generasi cinta membaca seperti yang dilakukan oleh lembaga-lembaga non-profit seperti Forum Cinta Membaca dan Yayasan Pustaka Kelana. Namun ini jauh dari cukup.

Peran orang tua dapat dimainkan dalam berbagai cara.  Berikut beberapa langkah yang bisa dimulai atau di galakkan kembali. Menurut Bernice Cullinan (2000), cara  pertama, menaruh buku di banyak tempat di rumah, terutama di tempat mudah dijangkau oleh anak-anak. Dengan begitu buku menjadi bagian yang normal sekaligus penting bagi kehidupan anak-anak. Seperti layaknya mainan, buku mendatangkan kesenangan dan hiburan bagi anak-anak.

Orang tua juga bisa menyediakan waktu khusus membacakan cerita kepada anak-anak, baik cerita dari buku yang mereka pilih sendiri atau dari buku yang orang tua pilih. Ketertarikan anak terhadap sesuatu berubah seiring dengan waktu dan umur mereka. Anak-anak lebih suka membaca buku yang mereka pilih sendiri daripada buku yang dipilihkan orang lain. Upaya ini tidak hanya menumbuhkembangkan daya imaginasi dan memperkaya kosakata anak, tetapi juga dapat mempererat ikatan kasih sayang orang tua dan anak.

Orang tua juga tidak perlu gusar atau bosan bila anak-anak selalu meminta dibacakan buku yang sama berulang-ulang, karena imajinasi anak-anak akan berbeda dan berkembang dalam setiap bacaan. Kebiasaan mengulang sesuatu adalah wajar di masa-masa pertumbuhan dan perkembangan. Anak belajar memahami, menikmati, dan larut dalam kegiatan sehari-hari seperti tidur, makan dan mandi.

Cara lain adalah membawa buku ketika dalam perjalanan. Buku yang selalu tersedia di rumah dan ketika dalam perjalanan mengunjungi dokter, atau rumah saudara bisa menjadi penghibur bagi anak-anak di tengah perjalanan membosankan atau melelahkan. Buku juga bisa menjadi media mengajarkan sesuatu kepada anak. Orang tua dapat menghubungkan kejadian-kejadian sehari-hari atau kesukaan anak dengan buku-buku di pasaran. Misalnya, bila anak sedang gundah karena kehadiran adik bayi, orang tua bisa membelikan buku cerita tentang itu di toko buku. Atau bila anak bermain bola, orang tua bisa memberikan buku tentang bola.

Orang tua juga dapat mengajak anak-anak ke perpustakaan atau taman bacaan terdekat, dan memberi dukungan keterlibatan mereka pada kegiatan yang ada di tempat tersebut.  Kalau perlu dan memungkinkan, orang tua bisa bekerja sama dengan pihak sekolah atau lingkungan tempat tinggal membudayakan cinta membaca. Orang tua yang mengerti akan pentingnya membaca dan memiliki ide-ide kreatif untuk mewujudkannya melalui kegiatan di sekolah atau di lingkungan masyarakat, bisa menjadi penganjur cinta membaca bagi orang tua lainnya dan juga masyarakat umum.  Dan bila suatu komunitas sudah memiliki visi yang seragam akan pentingnya membaca, tidak mustahil ide-ide kreatif dan cerdas bermunculan.

Tidak dapat di pungkiri betapa besar peran orang tua bagi kelangsungan budaya membaca di tanah air. Orang tua tidak hanya menjadi dapat menjadi contoh, dengan cara menunjukkan kecintaan kepada buku dan membaca, tetapi juga dapat menjadi  penggerak, penyemangat, bahkan teman membaca yang baik bagi anak-anak di rumah.

Di zaman teknologi informasi seperti sekarang, di tengah beraneka ragamnya video games, berbagai macam acara TV, dan bermunculannya tempat-tempat hiburan atau mal yang menawan, peran orang tua untuk menciptakan generasi membaca di rumah, menjadi sulit. Akan tetapi, dengan niat baik, disiplin yang tinggi, komunikasi  dan metode mendidik anak yang baik, didukung pihak sekolah, masyarakat umum, dan pemerintah, orang tua di mana saja berada dapat mengkaitkan dan menghubungkan faktor eksternal  untuk memperkaya dan mempermudah upaya membudayakan cinta membaca kepada anak-anak.

Riverside, 1 Juni, 2010

Neneng Syahdati Rosmy, volunteer Perpustakaan Publik, Riverside, California, dan Perpustakaan  Rivera, University of California Riverside. Alumnus Master of Library and Information Science, University of Hawaii at Manoa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s