Merenungi makna, bentuk, dan ukuran keadilan…

Saya tidak menyesal memutuskan untuk menonton film berjudul “the Next Three Days (2010)” yang disutradai oleh Paul haggis beberapa hari yang lalu. Film ini tidak hanya menawarkan cerita yang menegangkan dan seru, tetapi juga ironis dan mampu membuat saya berpikir lagi tentang makna kata “adil”.

Dalam film ini, pencapaian keadilan digambarkan sebagai proses yang sangat sulit, bahkan tidak mungkin. Ternyata untuk meraih keadilan, seseorang atau suatu lembaga hukum sekalipun tidak bisa meraihnya hanya dengan berdasarkan bukti-bukti rasional semata. Lebih dari itu, film ini menggambarkan bagaimana ketidakadilan juga dapat menciptakan suatu kemungkaran. Orang yang merasa diperlakukan dengan tidak adil, akan sangat mungkin untuk berbuat jahat atau tidak adil pada orang lain/pada lingkungan sekitarnya.

Saking menariknya kata adil, saya jadi ingin menuliskan pemahaman saya tentang makna adil. Apa kah definisi keadilan itu? Dan bagaimanakah bentuk dan ukurannya?

Ehm, berdasarkan kamus bahasa Arab, dari mana kata adil itu sendiri berasal. Adil artinya adalah “Wadho’assyai fii mahallihi” atau menempatkan sesuatu pada tempatnya/sesuai fitrahnya. Terjemahan ini dapat ditafsirkan bahwa keadilan itu bukan berarti sama percis atau seimbang, baik bentuk maupun ukurannya. Keadilan dapat di genggam bila masing-masing orang atau sesuatu merasa tidak di dzalimi atau di rugikan, melainkan diperlakukan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan atau fitrahnya. Keadilan juga adalah wujud penghargaan seseorang/lembaga pada keunikan kondisi orang/lembaga lain. Ia tidak memihak tanpa alasan logis, tidak mendukung tanpa sebab yang jelas, apalagi sampai menganiaya tanpa bukti yang benar.

Salah satu contoh praktis penerapan keadilan di dalam keluarga misalnya, adalah sebagai berikut. Bila dalam satu keluarga ada 5 orang anak yang masing-masingnya sudah dewasa, berkeluarga, dan mandiri, sementara pada saat yang sama mereka harus membiayai /mengurus orang tua mereka yang sudah tua, maka jelas masing-masing anak itu memiliki kewajiban yang sama. Dan untuk membagi kewajiban itu secara adil, maka masing-masing anak bisa membantu orang tua mereka sekemampuan mereka masing-masing, idealnya yang paling terbaik menurut ukuran masing-masing anak, baik secara finansial maupun waktu.  Dengan demikian, tidak ada salah satu anak yang merasa terbebani, karena kewajiban di tanggung bersama-sama sesuai kemampuan masing-masing.

Sedangkan di dalam Alqur’an, kata adil juga banyak disebut. Di surat Al-Maidah ayat 42 misalnya, Allah menyuruh manusia untuk berlaku adil.  Sementara di ayat 8 pada surat yang sama, manusia juga di perintahkan untuk berlaku adil sekalipun sedang terjadi permusuhan.  Dan pada surat Annisa ayat 135, Allah juga memerintahkan orang-orang yang beriman untuk selalu berlaku adil tanpa pandang bulu atau ikatan darah sekalipun. Secara literal, saya memahami  bahwa Allah sungguh-sungguh menempatkan prilaku adil sebagai salah satu prilaku mulia yang Ia cintai. Ayat-ayat ini memang tidak jelas menggambarkan bentuk keadilan tersebut, akan tetapi karena Allah tahu sifat manusia yang cenderung “curang”, yang juga mudah terpengaruh oleh ikatan emosional/kekeluargaan,  maka jelas apapun bentuknya, keadilan harus tetap dan selalu ditegakkan dalam kondisi dan lingkaran lingkungan apapun.

Pertanyaan menggelitik selanjutnya adalah bagaimana agar manusia itu bisa senantiasa bisa bersikap adil, dan apakah keadilan di dunia itu benar-benar ada?

Saya pribadi, jujur lah kadang pesimis akan terjadinya keadilan murni di dunia ini. Terlepas dari adanya lembaga hukum yang diisi oleh orang-orang yang katanya melek hukum, saya kadang tidak yakin apa suatu putusan yang berlaku pada suatu hal, sudah benar-benar adil. Tapi walaupun begitu, sebagai bagian dari anggota masyarakat, kita seyogyanya mempercayai pemerintahan yang ada, sambil terus mengkritisi kalo kita menemukan hal-hal/putusan yang  ‘curang’. Dan pada saat yang sama, kita juga harus terus berusaha untuk senantiasa berlaku adil pada orang-orang terdekat kita. Pada hal-hal kecil disekiling kita, apalagi pada hal-hal besar yang sedang kita tempuh.

Kehidupan di dunia ini, sifatnya hanya sementara, apa pula yang akan kita bawa untuk bekal mati nanti melainkan rasa gundah dan sesal selama hidup bila kita tidak bersikap adil pada sesama? Dunia ini sudah pelik, dan akan makin pelik bila dinodai oleh ketidak adilan. Mari kita sama-sama terus mengasah hati dan fikiran kita sehingga teranglah jiwa kita selalu. Jangan “jalan” hanya melihat kedepan saja, jangan “berlari” sendirian saja. Mari sama-sama kita belajar, berlaku dan berkata dengan adil, dan jangan lupa berdoa untuk mau dan bisa terus belajar.  Walloohu’Alam Bishowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s