Poligami dan perempuan; topik basi tapi selalu renyah

Tulisan ini tidak mewakilkan suara hati perempuan manapun, tetapi kalau ada perempuan yang terwakilkan oleh tulisan ini, saya melihatnya sebagai sebuah kebetulan. Tidak pernah sekalipun saya menerima curhat langsung dari seorang teman perempuan yang di madu oleh suaminya, tulisan ini adalah hasil  pengamatan saya pada cerita sekilas ibu saya tentang sikap nenek ketika di madu oleh kakek saya dulu, hasil ketergantungan saya pada naluri yang subjektif, pada persepsi saya yang dangkal, dan pada cerita-cerita tak berurut pasangan-pasangan terkenal yang berpoligami . .

Segera setelah berita perceraian A Agym dengan teh Ninih yang saya dapat lewat obrolan santai dan lewat jejaring sosial, mengundang  ‘renyahnya’ tanggapan perempuan termasuk  saya.  Saya jadi penasaran untuk menuliskan kenapa poligami menjadi topik yang selalu hangat dan menarik untuk dibicarakan, walaupun itu topik yang basi. Basi karena ini bukan kali pertama saya dengar dan tertarik membahasnya. Lebih dari itu, cerita-cerita sekilas, yang tidak  langsung, tentang pasangan yang di madu juga sudah lama saya dengar dari kawan, saudara, bahkan keluarga saya sendiri.

Alasan pertama kenapa topik ini ‘renyah’ adalah karena dalam poligami, banyak perempuan yang merasa menjadi  objek atau korban dari prilaku/sikap laki-laki yang berpoligami itu. Karena menjadi objek yang dirugikan, maka tersulutlah keinginan pribadi seorang perempuan untuk bisa menjauh, menghindar, bahkan berontak dari keadaan itu. Kesemuanya bisa di mulai lewat pembicaraan santai atau diskusi serius antar sesama perempuan. Dengan berbagi pendapat dan informasi, maka perempuan bisa terkuatkan, tercerahkan, bahkan kalau mungkin akan terhindarkan dari kasus poligami.

Tidak berlebihan, bila perempuan dikatakan sebagai objek yang dirugikan atau disakiti. Seorang istri yang di madu, harus pandai-pandai menahan rasa pedih di hati (cemburu?) karena kerap kali pikirannya diselimuti oleh bayang-bayang perempuan lain . Pernyataan/pikiran-pikiran seperti …“Cantik manakah aku dengannya, menarik manakah aku dengannya, enakkan manakah masakan aku dengannya, lucu manakah aku dengannya, harum manakah aku dengannya…..” dan sederet pertanyaan atau pikiran lainnya lambat laun bisa merusak kondisi psikologis perempun itu, dan kepesakitannya lambat laun akan berpengaruh pada pengrusakan keharmonisan rumah tangganya.

Tidak hanya itu, perempuan yang madu dipaksa harus kerap kali rela membiarkan suaminya di cumbu oleh perempuan lain atau menghabiskan sebagian waktunya di tempat perempuan lain. Mereka seperti tidak memiliki hak prerogatif untuk menjadi diri sendiri lengkap dengan hati dan pikirannya. Ia harus terpaksa banyak bertoleransi pada perasaan dan pikiran perempuan lain, yang secara tidak langsung bisa berpengaruh pada kesehatan fisiknya.

Alasan kedua  adalah karena ada sebagian (kecil?) pasangan poligami yang kelihatannya adem, ayem, dan ditengah kontoversinya, selalu muncul pasangan berpoligami baru, lagi dan lagi. Sebagian besar perempuan yang tidak bisa melihat ini sebagai kenyataan, ingin menafikkan nya  dengan berbagai macam alasan. Alasan-alasan tersebut bisa bernada merendahkan perempuan yang dimadu itu, atau bisa menjustifikasi kondisi rumah tangga orang lain. Kalimat-kalimat serupa seperti, “ya…cuma keliatan dari luarnya aja lah, emang perempuannya aja yang ‘desperate’, paling juga entar ‘ancur, dst, dll”.. bisa kmuncul bernada tidak dapat di toleririnya tindakan poligami.

Bagi rumah tangga yang menemukan poligami sebagai pilihan baik, sepertinya memiliki alasan yang tidak bisa di temukan, dirasakan, bahkan di empati oleh orang rumah tangga lain. Kita, dan saya didalamnya cenderung menilai sesuatu berdasarkan apa yang kita rasa, pikir, alami, dan percayai saja. Bisa saja, tindakan poligami adalah jalan untuk menyelamatkan keutuhan rumah tangga, poligami juga bisa menjadi alasan melindungi, mengangkat martabat, atau membahagiakan seorang perempuan.  Contoh kasus misalnya, bila ada seorang istri yang sakit-sakitan secara fisik, dan tidak dapat lagi melaksanakan kewajibannya dan menerima haknya sebagai istri, karena rasa cintanya pada suami, istri tersebut bisa  meminta suaminya untuk mencari wanita lain. Dalam kasus yang lain misalnya, istri pertama bisa juga mengikhlaskan suami menikahi wanita lain, bila suami memang menikahi wanita kedua yang lebih tua, atau lebih tidak beruntung kondisi finansial  dengan alasan membantu atau mengangkat martabatnya.

Kondisi rumah tangga seseorang memang tidak bisa dilihat oleh orang lain dari luar semata. Pilihan berpoligami atau tidak seyogyanya adalah urusan pribadi rumah tangga itu sendiri. Apalagi bila mereka tidak merepotkan atau melelahkan keluarga besarnya dan kerabat. Berapa lama sebuah rumah tangga poligami bisa bertahan  dan kemudian hancur juga bukan urusan orang lain. Setiap rumah tangga memiliki iramanya sendiri. Konsep dan peleburan cinta dalam rumah tangga yang satu, bisa sangat berbeda dengan yang lainnya. Orang diluar rumah tangga itu, hanya bisa menebak-nebak, dan tebakan mereka bisa salah.

Menurut saya, surat Annisa ayat 129 yang di sebut dalam Al’Quran tentang poligami itu sangat humanis. Dalam ayat itu Allah memahami sifat laki-laki yang memiliki hasrat seksual untuk berpoligami, tapi pada saat yang sama Allah juga memahami keterbatasan seorang laki-laki untuk bisa berlaku adil. Oleh karena itulah Allah menganjurkan seorang laki-laki untuk beristri satu saja, kecuali bila ia bisa bersikap adil.

Terus terang, sulit buat saya membayangkannya, bila saya misalnya, menjadi istri yang dipoligami. Tapi sesuai persepsi dan pengertian saya yang terbatas, saya mengagumi dan menghormati perempuan-perempuan yang tetap “tenang” walaupun di poligami. Entah apa yang bermain di kepala dan hati mereka, yang pasti saya hanya bisa berucap, “Semoga kasih sayang Allah selalu menaungi mereka, sehingga mereka selalu kuat, hebat dan bisa bahagia”. Walloohu’Alam Bishowab!

2 thoughts on “Poligami dan perempuan; topik basi tapi selalu renyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s