Masyarakat Indonesia; masyarakat berbudaya komunal (?)

Awalnya saya enggan bergabung di acara makan malam bersama kolega-kolega suami , yang kesemuanya adalah professor di kampus US akhir pekan lalu. Saya agak lelah malam itu karena siang harinya saya memecahkan rekor berjam-jam seliweran diluar kamar hotel sendirian. Saya window shopping, photo-photo, dan membaca/menulis di dua café di pusat kota Santa Barbara di California. Tapi karena jatah tempat dan makanan saya sudah dipesan sejak awal, plus saya juga senang berkumpul dan bertemu orang-orang baru yang pintar, saya melihat ini sebagai sebuah “kemewahan”  yang tidak baik di tolak. Bess! saya dan suami akhirnya tiba di restaurant mewah dan indah bernama “Boat House”, yang letaknya persis di pinggir pantai. Ditemani semilir angin, deburan suara ombak, gemerlapnya lampu-lampu malam, dan hangatnya tiang pemanas (heater), saya mulai menikmati percakapan-percakapan bermutu yang membuat saya berpikir, terangguk-angguk, dan tertawa geli.

Topik beragam sepanjang menu pembuka di sajikan sampai menu penutup dihidangkan membuat waktu berjalan cepat. Pembicaraan mengalir terus dari mulai bicara soal cuaca, makanan, cinta, film, agama, perkawinan dan anak, facebook, studi perdamaian, studi perpustakaan dan perpustakaan, sampai budaya komunal kebanyakan masyarakat Asia, khususnya Indonesia. Diantara topik-topik itu, topik terakhir cukup menggelitik buat saya.

Saya tidak dapat memungkiri bahwa salah satu ciri masyarakat Indonesia memang adalah budaya komunalnya. Kebanyakan orang Indonesia (sepanjang pengamatan saya) memang tidak menemukan kenyamanan bila harus sendirian, apalagi bila berada di tempat atau lingkungan yang baru/asing, dalam waktu yang cukup lama. Di Indonesia sendiripun, kebanyakan mereka adalah bagian dari grup/kelompok tertentu, dan memiliki lingkaran pertemanan tertentu.

Contoh jelas dari budaya komunal ini terlihat dari keikut sertaan hampir semua orang Indonesia di situs jaringan sosial Facebook. Tidak cukup mereka membentuk grup-grup virtual tertentu di Facebook, grup-grup lainnya juga menular di dunia nyata.  Saya mencium bahwa ketika seseorang tidak menjadi bagian dari sebuah grup/kelompok  tertentu,  orang tersebut merasa “tertinggal”, terasingkan, dan bahkan akan merasa bersedih hati.  Tidak hanya itu, saya juga jarang melihat orang Indonesia jalan-jalan sendirian di tempat umum, seperti di Mall atau bioskop. Di café pun misalnya, tidak seperti di Amerika, saya juga jarang melihat orang asyik sendirian membaca atau menulis. Kebanyakan dari mereka setidaknya berdua, bertiga atau bergrup.

Contoh lain yang harus di buktikan kebenarannya adalah bagaimana sebenarnya nelayan di Indonesia pergi melaut. Ketika saya ditanya, saya terdiam sejenak kemudian menjawab tidak tahu.  Tapi karena saya merasa seperti “dipaksa” menjawab, saya akhirnya bilang: “mungkin berdua ya, mengajak nelayan lain untuk teman ngobrol”. Well, I dunno for sure.

Anyway, budaya komunal masayarakat Indonesia ini  tercipta bukan tanpa alasan. Ia bisa merupakan wujud dari ajaran agama, atau nilai adat istiadat yang sudah turun menurun.  Dalam agama Islam misalnya buah manis silaturrahmi selalu diulang-ulang oleh para kyai dan ustadz. Sementara adat istiadat banyak suku di Indonesia memang bersifat komunal. Komunal bisa bermakna  tetap bersama-sama dalam keadaan sedih maupun senang, ber sama-sama dalam berjuang, dan saling bergantung satu sama lain. Alasan lain mungkin juga karena masih tersisanya mental terjajah yang mengakibatkan sebagian masyarakat Indonesia inferior atau merasa tidak aman dan nyaman bila sendirian, atau tinggal lama di negeri asing dalam waktu lama. Dan bila budaya ini sudah mengkristal menjadi sebuah mentalitas, efek negatif nya tidak mudah untuk di rubah. Akan tetapi efek positifnya, bisa di berdayakan.

Efek negatif budaya komunal adalah sulitnya seseorang “bergembira”, berkembang atau muncul dan bersinar di tempat yang asing. Budaya komunal juga melahirkan sikap ketergantungan seseorang terhadap afirmasi /penilaian orang lain sehingga takut bersikap dan berpikiran menurut apa yang ia percayai.  Budaya komunal membuat orang terperangkap, terkadang oleh nilai yang ia sendiri tidak faham tapi tetap menyetujuinya.

Sementara efek positifnya, menjadi dasar tingginya rasa nasionalisme masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat Indonesia bisa dengan mudah terbakar rasa nasionalismenya dan sigap merapatkan “barisan” bila misalnya, terhina secara langsung atau tidak langsung oleh bangsa lain. Idealnya, budaya komunal ini bisa menjadi “senjata tajam”, merapatkan barisan untuk bersama-sama saling meyemangati, membantu, dan bekerja sama memajukan bangsa  yang terus memiliki cita-cita terbaik ini. Wallohu’Alam Bishowab!

6 thoughts on “Masyarakat Indonesia; masyarakat berbudaya komunal (?)

  1. wp nya bagus. yaa kisarannya yg brmanfaat bgt buat dibca sma anak muda zaman skrg dan kbtulan ak lgi ad tgas ttg sosiologi dan nemu wp ini. pengalaman yg mnkjubkan ka. klo bleh tanya, ap kka prnah mnulis novel?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s