Kekuatan dibalik ketidaksempurnaan diri

Senang aku kalau sudah berlama-lama di kantornya Ali, sepertinya ada malaikat penjaga yang membuat aku  jadi semangat baca, nulis dan kadang juga nonton, ehem!   Alhamdulillah sambil nemenin Ali yang lagi dikejar deadline, aku mendengarkan talk di sebuah situs bernama TED, yang belakangan memang jadi salah satu situs favoritku. TED menghadirkan banyak orang pintar lewat “talk-talk” nya yang bagus.

Salah satu talk yang aku nikmati adalah tentang kekuatan ketidaksempurnan diri. Topik ini di sajikan menarik oleh Dr. Brene Brown, seorang akademisi dan peneliti yang menemukan pola prilaku yang sama antara orang yang memilih untuk “mengasingkan diri” dan yang “bergaul” dengan banyak orang.  Ia menambahkan bahwa kegiatan berhubungan dengan orang lain adalah kebutuhan fitrah seorang manusia. Dan bila kebutuhan itu dinafikkan atau tidak di salurkan, maka akan meranalah orang tersebut.  Lalu, apa hubunganya judul di atas dengan kesamaan pola prilaku orang yang mengasingkan diri dan yang suka bergaul?

Menurut Brown, seseorang memiliki alasan-alasan untuk mengasingkan diri. Salah satu alasan yang paling menonjol adalah karena munculnya rasa ketidak sempurnaan orang tersebut untuk bergaul dengan banyak orang. Orang tersebut  kerap kali merasa dan berpikir bahwa diri dan kehidupannya tidak berharga, kurang keren, atau kurang menarik. Prilaku tidak menerima/mencinta diri sendiri apa adanya digambarkan sebagai orang yang  selalu berharap bisa menjadi seperti orang lain’ atau berada pada posisi/situasi orang lain. Orang tersebut juga sibuk memikirkan bahkan menyesalkan apa yang kurang pada diri sendiri . Padahal menurut Brown, sifat mau mengakui  dan menunjukkan ketidaksempurnaan diri adalah sebuah KEKUATAN  yang akan berdampak positif pada kebaikan diri sendiri dan orang lain.

Pola prilaku orang yang senang bergaul , sebaliknya, adalah sangat menghargai diri sendiri, dan menerima ketidaksempurnaan diri dengan positif. Orang tersebut jujur akan kelebihan dan kekurangan diri.  Mereka tidak memimpikan untuk menjadi orang lain, tapi mereka mampu berkata pada diri mereka sendiri “I am enough” atau “saya sempurna dengan kelebihan dan kekurangan saya”. Orang seperti ini merasa beruntung atas apa yang sudah di miliki dan capai.  Mereka tidak “malu” menjadi diri sendiri, yang  merupakan KEKUATAN untuk berbuat baik pada orang lain. Mereka bisa  mencintai , menghormati dan berbuat untuk orang lain, serta  optimis/tenang dalam menyikapi persoalan hidup.

Last but not least, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan sambil mengingatkan diri saya sendiri bahwa merasa nyaman akan diri sendiri adalah bagian dari bersyukur. Dengan mencintai, merawat, dan bersyukur pada diri sendiri, kita bisa menularkan atau membagi cinta dan perhatian kita kepada orang lain, dan itu adalah sebuah KEKUATAN. Terbuka dan menjadi diri sendiri akan membawa kita pada “senangnya” kita akan sebuah pengembaraan  ke banyak tempat dan pertemuan dengan banyak orang. Mengembara dan bergaul dengan banyak orang  akan memberi kita ruang untuk bisa dan terus belajar. InsyaAllah dengan begitu, kualitas diri kita juga akan semakin baik, dan kita akan lebih merasakan kehidupan dunia ini dengan lebih indah. Hanya Allah Maha Tahu Segala, Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s