Sampai Maut Menjemput

Seperti kain panjang kering yang dipaksa keluar dari kerongkongan berkulit tipis

Begitu aku membayangkan sakitnya nyawa di ambil oleh yang Maha memiliki

Seperti hembusan nafas yang lepas, ringan, terbang berseri dibawa angin pagi

Begitu aku melukiskan senangnya melepas rindu, akan bertemu kekasih hati

 

Tidak tahu dimana aku nanti berdiri, merinding aku menerka-nerka kedatang ajal

Entah kapan, dimana, dan sedang apa, tak mampu aku menebus kedalaman masa

Sungguh kerdil aku, berdiri di tepi lautan tenang sekalipun, aku bisa terbawa gelombang

Sungguh lemah aku, bahkan berada di tempat paling tinggi sekalipun, aku bisa terjungkal

 

Gila memang, mengingat kata maut saja aku kadang terlalaikan, bagaimana pula aku bersiap?

Mendengar gemuruh datangnya saja, aku sudah pontang-panting, bagaimana pula aku menghadang?

Ya, aku merasai bahwa maut memang bukan kawan, tapi tidak mustahil ia menjadi sahabat  terdekat

Mengingat & mendekapi maut, mengingatkan kita akan kebersihan raga, kebeningan hati , juga jiwa

Aku dan maut, suatu saat akan saling mencari dan semoga merindui, menggiringku melihat senyumMu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s