Keniscayaan Manis Pahitnya Kehidupan

Sudah satu minggu ini saya minum obat, resep dari dokter  yang katanya bagus untuk meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh saya. Obat itu berbentuk tablet, berwarna hijau, dengan bentuk segi tiga, ber diameter kecil. Satu kali teguk air saja, obat itu sudah hilang, meluncur lewat tenggorokan. Sarinya mengalir ke tubuh saya dengan cepat, membuat lidah saya berhenti bekerja untuk sementara.

Tapi tetap saja, walaupun obat itu meluncur cepat, hakikat rasanya adalah pahit. Kepahitannya beralasan, ia berbuah manis. Menurut dokter, zat besi yang terwujud dalam obat pahit itu membantu mebentuk sel darah merah dalam tubuh saya, yang sejatinya akan membuat saya lebih berenergi dan sehat. Sel darah merah itu tidak hanya mencegah jatuhnya beberapa helai rambut dari kepala saya, ia juga menguatkan tulang belulang di tubuh saya.

Karena rasa obat dan manfaatnya itu, saya jadi menganalogikannya dengan rasa di dalam kehidupan ini, yaitu rasa manis dan pahit. Kedua rasa itu akan saling melengkapi.  Kehadiran rasa yang satu tidak bisa sempurna terbentuk atau terasakan, bila rasa yang satunya belum terwujud atau terlewati. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah memang untuk merasakan manisnya kehidupan,  seseorang harus merasakan kepahitan terlebih dahulu? Bukankah ada juga sebagian orang yang hidup tanpa melewati kepahitan tapi langsung merasakan manisnya saja?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya memulainya dengan satu kalimat bahwa, “kepahitan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan”. Tanpa diundang pun, keberadaan orang-orang di sekitar kita atau  lingkungan tempat dimana kita tinggal dan bekerja misalnya, bisa mengundang rasa pahit. Rasa pahit itu memang ada yang bisa kita cegah, tapi ada pula yang kita tidak mampu  menolaknya. Apalagi dengan keterbatasan yang dimilki manusia pada dalamnya misteri kehidupan ini, rasa pahit kadang datang tanpa bisa dibendung.

Menurut saya, rasa manis akan sesuatu hal yang terjadi pada diri kita akan lebih terasa indahnya bila kita sudah merasakan pahitnya terlebih dahulu. Seorang pelajar yang susah payah mendapatkan beasiswa untuk sekolah misalnya, akan lebih merasa puas dan bahagia ketimbang seorang pelajar yang bisa bersekolah dengan biaya yang sudah tersedia dari orang tuanya. Seorang  lelaki yang sudah bersusah payah untuk mendapatkan cinta seorang wanita, akan lebih merasakan manisnya “hubungan cinta” ketimbang lelaki yang mendapatkan cinta seorang wanita sambil “main-main”.  Dan tentu saja masih ada lagi contoh lain.

Disisi lain, saya tidak memungkiri bahwa rasa manis juga bisa di rasakan tanpa melewati kepahitan terlebih dahulu. Tapi buat saya, rasa manis itu kalah indah dengan rasa manis yang didapatkan melalui kepahitan. Rasa manis dan pahit itu adalah sunnah Tuhan. Karena mengakui dan mengagumi sunnah Tuhanlah,  maka saya percaya bahwa kehidupan yang indah itu adalah kehidupan yang kadang pahit. Ia tidak statis, tidak melulu berputar-putar  di zona yang aman. Ia diwarnai usaha yang kadang membuat fisik, raga, dan jiwa kita lelah, diiringi air mata yang kadang susah berhenti, ditemani doa yang sepertinya tidak kunjung di jawab oleh Tuhan. Oleh karena itu saya memilih  “menikmati” rasa pahit kehidupan ini. Bagaimanapun, suatu saat nanti. bila Tuhan sudah meridhoi, saya meyakini bahwa saya akan menjelang dan menikmati rasa manis yang sempurna sesudah kepahitan. Salam.

4 thoughts on “Keniscayaan Manis Pahitnya Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s