Karena Cinta

Enggak tahu kenapa pagi itu hati Nala mumet banget. Liat bantal kursi yang letaknya rada mencong sedikit, dia sebel. Liat gelas kotor yang tergeletak di meja kerja mas Dodi, dia gak suka. Sampe vas bunga yang udah lama sekali menghiasi  meja tamupun, sekarang kelihatan norak. “Warna bunga plastik dan bentuk vasnya bener-bener gak nyambung”, begitu kata Nala dalam hati.

Mulut Nala manyun, senyum sumringah dari bibirnya hilang, seperti tenggelam ditelan ombak.  Pagi itu, enggak ada sapa renyah dan hangat di pagi hari buat Dodi. Gak ada acara buka jendela depan dan samping pelan-pelan sambil menghirup udara pagi yang jernih. Gak ada sholat subuh yang tenang. Semuanya berasa gak enak, sepet, plus asem. Nala masih ingat semalam kalao Dodi masih ada di kamar kerjanya ketika Nala memutuskan untuk tidur.

Dodi nanggepin sikap Nala datar-datar aja. Padahal Nala kepengen sekali ditanya Dodi, kepengen ditegor, di apain kek, jangan di diemin seperti yang Dodi lakukan sekarang. Tapi mood Dodi juga enggak lagi terang. Susana hatinya juga kusam. Becandaan khas pagi-pagi Dodi yang suka bikin Nala ketawa seperti tersapu angin, hilang. Padahal Nala enggak pernah lupa, gaya lawakan mas Dodi yang original lah, yang bikin Nala jatuh hati. Dan lama-lama, 4 tahun yang lalu, Nala masih ingat, semua tentang Dodi jadi menarik, senyumnya, cara berpakainnya, suaranya, semuanya bikin Nala kepengen banget dipacarin, kemudian dinikahin.

Yeap!,  setelah beberapa lama Nala dan Dodi saling diam, akhirnya….Brak-brik-bruk, kerompang!, suara berisik piring beradu piring di westafel membuat Dodi sedikit kaget. Tanpa senyum dan dengan langkah yang gontai, ia akhirnya menghampiri Nala dan bilang… “ Kamu kenapa sih Nal, kalo ada apa-apa,  ngomong dong! jangan brak-brik-bruk di dapur sendirian kaya gitu!” Suara Dodi terdengar ketus di telinga Nala. Nala tidak menjawab, menoleh saja tidak, ia malah terus mencuci piring bekas makan tadi malam, dengan busa dan air yang banyak, dan gerakan yang cepat dan tidak hati-hati. Pagi itu, di sebuah komplek perumahan sederhana, di rumah kecil dan asri, suara piring beradu piring, suara gelas beradu gelas, suara penggorengan beradu piring, terdengar nyaring tak beraturan.

Ehm…sebetulnya Nala senang ditegor  Dodi duluan. Memang dengan membuat suara berisik di dapur itulah, Nala menunjukkan keinginannya untuk disapa Dodi. Tapi teguran pertama Dodi malah Nala abaikan. Sekarang Nala geregetan kepengen di tegur lagi. Kalo bisa kali yang kedua jangan sambil ketus, begitu pikir Nala. Tapi ternyata Dodi cuma nanya sekali, dia malah langsung masuk ke kamar kerjanya sampe waktu sarapan pagi lewat hampir 15 menit.

Nala, masih dengan susana hati yang kusam, tetap membuat sarapan seperti biasa. Kali ini dia buat sarapan sendirian. Padahal biasanya hampir setiap pagi Dodi ikut menyiapkan sarapan. Menuang jus atau membuat kopi adalah bagian Dodi. Nala paling suka kopi buatan mas Dodi, rasanya pas banget, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit.

Ehm…entah apa yang membuat hati Nala sedikit meluluh, segera setelah sarapan siap, Nala menghampiri Dodi ke kamar kerjanya. “Mas, udah waktunya sarapan”, singkat dan cepat Nala langsung ngelongos balik lagi ke dapur. Duduk sendirian, tidak menunggu Dodi, Nala mulai meneguk kopinya pelan-pelan, sambil berharap Dodi cepat datang ke dapur.

Tidak lama Dodi datang. Ia langsung duduk dan mengunyah roti pelan-pelan. Matanya tidak menatap  Nala, pandangan nya lurus ke bawah, menatap piring. Nala hanya melirik Dodi sebentar, dan kemudian bilang, “Mas, aku tuh sebenernya gak marah sama kamu, aku cuma kesel, aku gak tahu kesel sama siapa, mungkin sama keadaan aja mas”, Nala akhirnya bicara. Wajahnya masih menatap piring, kemudian air matanya menetes satu-satu.

Lihat Nala seperti itu, hati Dodi luluh, sambil berdiri, dan Nala masih duduk, dipeluknya Nala erat-erat, kemudian di kecup kepala dan keningnya. “Nal, aku gak mau kamu sedih, kenapa kalo kita bicara soal keluarga besar kita, beberapa kali diantara kita suka ada aja yang tersinggung. Kamu suka emosi, aku juga suka gitu, dan kita suka ngelantur ngomong kemana-mana. Kamu tau kan… aku sayang banget sama keluarga kamu, aku juga tahu kamu tuh sayang banget sama keluargaku, gak mungkin aku dapetin istri yang hatinya sebaik dan semulia kamu”. Dodi terus saja bicara sambil memeluk Nala, kali ini pelukan Dodi makin erat. Mata Dodi juga agak berkaca-kaca.  Dodi paling engga bisa lihat Nala sedih, cintanya pada Nala gak terkalahkan oleh apapun. Buat Dodi, siang akan terasa gelap, dan dingin malam akan menggigit sakit kalo pagi hari diawali dengan tangisan Nala.

“Kita bisa omongin lagi semua baik-baik ya Nal, pelan-pelan, dengan hati jernih, tanpa saling buruk sangka. Kita kan selalu bisa kaya gitu, hanya beberapa  kali saja kok kita jadi cekcok kaya semalem.  Toh udah hampir 3 tahun ini kita nikah, kita selalu bisa ngadepin semuanya sama-sama” Dodi mencium lagi kepala dan kening Nala untuk kedua kalinya.

“Ya udah, sekarang kita terusin sarapan ya, nanti abis pulang kantor, kita makan di luar aja, kita ketemuan dimana gitu, di tempat favorit kamu dech, di café yang ada air mancur dan kolam asri kesukaan kamu, gimana?”. Nala mengangguk, melepas pelukan Dodi, kemudian melanjutkan sarapan. Dodi sekarang duduk, kemudian menambahkan kopi ke gelas Nala. Suasana hening sebentar, kemudian…

“Mas, aku maunya makan di Café Srikandi aja ya, aku suka sama soto ayamnya, harganya juga gak begitu mahal, lagian di sana tuch pelayannya sopan-sopan, ada satu loh mas yang inget namaku kalo aku datang”. Kata Nala kemudian. Kali ini mata Nala menatap Dodi. “Ah mata Nala yang indah dan jernih memang selalu indah dipandang”, begitu pikir Dodi sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. “Yeap, biar aku yang pesen tempatnya nanti ya, kamu tenang aja, tunggu aku aja di kantor, biar nanti aku jemput,  okeh?” Dodi kemudian menimpali, kali ini suara Dodi lebih riang. Senang hatinya karena air mata Nala sudah hilang.

Pagi itu seperti biasanya, Nala dan Dodi berangkat sama-sama ke kantor. Macet dijalan tidak lagi terasa menyebalkan. Dodi mulai melawak lagi, Nala seperti biasa menimpali, bahkan lebih lucu dan konyol . Dodi hampir selalu terpingkal2 dengan lawakan2 Nala. Pekerjaan kantor yang menumpuk terbayang di kepala Nala, tapi Nala tidak khawatir. Ia tahu semua bisa ia selesaikan dengan baik. Dodi juga sama, dikepalanya juga sudah terbayang deadline yang harus diselesaikan, tapi Dodi tetap santai. Ia yakin, itu semua cuma perlu waktu, dan akan selesai cemerlang nanti sore.  Ini masih jam setengah delapan pagi, tapi Dodi dan Nala sudah membayangkan makan malam di café Srikandi. Menikmati makan malam berdua saja, ditemani suara gemericik nya air mancur dari kolam kecil dan obrolan santai penuh cinta, Ahhh….indah!

(Riverside, 17 Februari 2010)

~ When you marry someone you marry the family too. It’s OKAY. It is our family anyway, who we turn too, when we are having hard times~

~Keep the love between you and your spouse strong, nothing will beat that weapon to have a happy marriage, it’s the key, the master key~

2 thoughts on “Karena Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s