Bijak memilih kata-kata

“Apa semua yang kita rasa dan pikirkan perlu kita ungkapkan bang?”, tanya Rani yang tiba-tiba muncul  dari pintu garasi. Arif yang sedang asyik mencuci motornya menoleh sebentar. Raut muka Rani kelihatan serius, alisnya berkenyit, kepalanya miring kekanan sedikit, seakan-akan meminta Arif menjawab dengan cepat, singkat, padat.  Arif malah tersenyum kecil, dan tidak langsung menjawab. ”Bang!!?”, kali ini suara Rani agak keras, setengah kesal dan merajuk.

“Iya Ran… jawabannya tergantung”, kata Arif sambil terus menyemprotkan air dari selang ke ban belakang motor. Motor Arif kotor sekali pagi itu karena kemaren  sore dalam perjalanan pulang ke rumah, motornya tidak sengaja  masuk ke kubangan becek yang ada di belokan gang Haji Syukri. “Yah ginilah akibatnya kalo bengong sedikit di jalan dan kekencengan bawa motor Ran, padahal tiap hari lewat situ, biasanya abang selalu bisa ngindarin kubangan itu, tapi kemaren malah kejeblos”, jawab Arif ketika Rani bertanya kenapa motor nya kotor dan sepatunya basah kuyup.“Tergantung gimana maksudnya?” kali ini kedua tangan Rani di lipat di depan dadanya, alisnya tambah berkenyit.

“Ya tergantung dengan siapa kita bicara, dimana kita bicara, dan apa maksud pembicaraan kita. Emangnya kenapa kamu nanya begitu ?”, Arif akhirnya menoleh lama ke Rani, kemudian mematikan air keran, dan menunggu respon Rani selanjutnya.   “Ehm, bukannya kita harus bicara jujur bang, jangan ada yang di pendem-pendem dalam hati, supaya sehat gitu jiwa dan raga kita?”, Rani menanggapi dengan pertanyaan kedua, bukan menjawab pertanyaan Arif.

“Iya tergantung itu contohnya begini, kalao kita sedang musyawarah untuk kebaikan suatu urusan dalam keluarga, tempat kerja, atau masyarakat misalnya, ya kita mesti terbuka, tenang, dan tahu cara menyampaikannya juga dengan cara yang baik”.  “Tapi Kalau tujuannya untuk diri sendiri saja, misalnya ya….untuk kepuasan diri sendiri, ya kurang baik”. Arif menjawab pelan-pelan, kemudian berjalan mengambil lap kain warna kuning, yang dibelinya khusus untuk mengelap motor.

Sambil mengelap-ngelap, Arif melanjutkan pembicaraannya sementara Rani masih berdiri di pintu garasi.  Kali ini Rani mulai menyandarkan badannya ke daun pintu. “Berbicara itu kan kebutuhan manusia , kebutuhan untuk menyampaikan dan untuk didengarkan oleh orang lain. Tapi sebaiknya berbicara juga harus seimbang”. Rani mengangguk-angguk sebentar, “Seimbang gimana bang?” tanyanya kemudian.

“Iya, kita mesti mau juga mendengarkan. Mesti hati-hati memilih kata-kata karena orang yang kita ajak bicara kan belum tentu sependapat atau mengerti dengan apa yang kita bicarakan”. Kalimat Arif berakhir dengan satu tiupan kencang ke arah kaca spion bagian kiri. Motor Arif sudah kelihatan mengkilap sekarang.

Rani masih menyender di pintu, kali ini dia tersenyum senang. Senang bukan hanya melihat motor Arif yang sudah bersih, tapi juga senang karena puas mendengar jawaban Arif. Rani kemudian mengambil  sabun dan busa pencuci motor yang dipakai Arif barusan. Detakkannya barang-barang itu di dalam ember di pojokan garasi. Arif memanaskan motornya sebentar, mematikan mesinnya,  dan kemudian menyimpan motornya di garasi.

Keduanya lalu masuk bersama-sama ke dalam rumah lewat pintu dapur. Arif menaruh tangan kanannya di pundak Rani, Rani membalas mengandengkan tangan kirinya ke pinggang Arif. “Iya bang ya, memang kita mesti hati-hati bicara ya bang, jangan sampai lidah dan kata-kata menusuk perasaan orang lain, apalagi sampai membuat jarak dan memutus silaturrahmi”, kata Rani dengan suara pelan dan tenang. “Ya kamu udah tau lah itu, cuma kita memang kadang-kadang lupa ya, mungkin seringan lupanya dari pada ingetnya. Santai aja Ran…yah sesekali khilaf gak apa apa, asal jangan lama-lama”. “He he he, okeh bang”.  Rani tertawa kecil, alisnya tidak lagi berkenyit sekarang, cuma kepalanya masing mengangguk-angguk tanda setuju.

Riverside, 22 Februari 2011

~We have a right to say what we feel and think, but we sometimes forget to listen or to initially put ourselves in somebody else’s shoes before we talk. Finding a balance in between those two is not always easy. But we can always try~

5 thoughts on “Bijak memilih kata-kata

  1. hai .. dah lama g kasih komen, pa kbr ? eh, tulis dong ttg dunia pendidikan di US, terutama ttg sistem-nya, apa bedanya dg di UK dan Ind. Lg ngumpulin bahan nih…tks ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s