Perenungan menjadi seorang Ibu

Blog ini hampir terlupakan. Saya terlena oleh kesibukan baru yang betul-betul tidak ingin saya nomor duakan, yaitu menjadi ibu.  Pekerjaan lain menjadi nomor dua atau kesekian setelah hadirnya Inas, anak perempuan kami yang lahir pada tanggal 30 Mei 2011.

Inas, telah memberi banyak….buat saya dan suami. Bukan hanya kebahagiaan dan keceriaan di dalam rumah karena tingkah dan gayanya yang lucu, tetapi juga pelajaran berharga tentang hidup dan kehidupan. Dan kalaupun ada kata yang lebih maknanya dari kata “keajaiban”, mungkin saya akan menggunakannya untuk menggambarkan bagaimana pengaruh Inas buat saya, suami saya, dan keluarga besar saya. “Ah ma’af, mungkin saya terlalu membesar-besarkan”…tapi begitulah adanya, Inas is like the world to us.

Inas, diusianya yang menginjak 14 bulan, telah membuat saya merenung banyak hal yang sebelumnya tidak mampir atau hanya lewat begitu saja di kepala saya. Dan ketika sekarang, ia sedang tertidur lelap, dan saya punya waktu untuk memainkan jemari saya di atas keyboard, saya ingin menguraikan apa yang menjadi perenungan saya.

Yang pertama, Inas mengajarkan saya bahwa hidup itu bukanlah untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Setiap hari, segera setelah ia bangun dari tidur, kalimat “what would my day be like, Mommy?”,  seperti hadir di wajahnya yang manis. Saya sebagai ibu, dan tentu saja ayahnya, adalah yang paling berperan dalam mewarnai hari-harinya. Apakah Inas akan senang, akan belajar, akan makan dan tidur baik, akan bermain macam apa, semuanya tergantung pada saya dan ayahnya. Ah iya….“Semoga ibu dan ayah, bisa ya nak…bisa membuat hari-hari mu indah dan berkesan”.

Yang kedua, Inas juga telah menegur saya untuk menjadi manusia yang baik, dan lebih baik lagi dari hari ke hari. Bagaimana tidak, langsung atau tidak langsung…tingkah laku dan ucapan saya akan membekas di dalam hati dan pikirannya. Saya akan menjadi contoh tauladan buat Inas. Misalnya, saya yang awalnya sering lupa membaca Do’a ketika akan mengerjakan sesuatu, atau khilaf mengucapkan magic words; terimakasih dan tolong, sekarang berusaha untuk tidak lupa atau khilaf lagi. Berharap Inas bisa mencontoh yang baik-baik dari orang tuanya. Bahkan lebih jauh lagi, Inas mengingatkan saya juga untuk “berprestasi” lagi, untuk semangat lagi mengejar cita-cita saya yang belum kesampaian. Saya berharap semoga saya bisa menginspirasinya kelak. selanjutnya

Yang ketiga adalah bahwa benar Inas telah menyambung silaturrahmi banyak kawan dan saudara saya. Dengan adanya Inas, saya yang awalnya tidak faham betul bagaimana bahagianya di kunjungi saat punya bayi, atau di beri ucapan berkenaan dengan anak, sekarang jadi lebih faham dan sadar. Bukan hanya itu, Inas telah menjadi topik pembicaraan yang tidak pernah kering diantara saya, saudara maupun kawan. Dan tanpa bermaksud membuat luka, bila kalimat saya berlebihan tentang Inas, saya sungguh merasakan bahwa kehadiran Inas tidak hanya memberi kebahagiaan buat saya dan suami semata, tetapi juga bagi keluarga besar saya.

Inas juga telah mengajarkan saya pentingnya menjadi pribadi yang pema’af. Inas, dengan segala usaha dan tingkahnya untuk belajar memahami dan menikmati dunia yang besar , luas dan kompleks ini, telah menunjukkan pada saya bahwa menjadi pema’af itu benar-benar sifat mulia yang meneduhkan jiwa. Saya dituntun oleh  Inas untuk menjadi manusia yang bisa menerima manusia lain apa adanya. Bukan karena ada apa-apanya. Bisa memaklumi dan mema’afkan orang lain bahwa adalah Sunnatullah kalau setiap manusia tidaklah akan mampu menjadi baik selamanya, atau menyenangkan  orang lain seterusnya.

Inas juga menggiring saya untuk bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur setiap harinya. Memandangi, menggendong, menemani dan segala jenis kegiatan yang saya lakukan bersama Inas meninggalkan kesyahduan yang dalam. Kehadirannya menyadarkan saya bahwa saya beruntung. Dengan keadaan saya dan suami yang seperti sekarang, saya disadarkan bahwa betapa banyak orang lain yang tidak punya “kekayaan” untuk bisa membesarkan keluarga atau anak mereka dengan fasillitas yang cukup, bahkan bisa dibilang lebih dari cukup.

Dulu, ah..saya hanya bisa membayangkan bagaimana orang tua saya membesarkan saya. Tapi sekarang, saya bisa lebih merasai bagaimana orang tua saya membesarkan saya. Iya, kalau saya adalah anak yang mudah dirawat, dan nyatanya saya termasuk yang keras kepala. Dari ini, saya belajar tentang empati. Bagaimana berempati pada situasi orang lain. Bukan hanya soal menjadi orang tua, tapi juga menjadi yang lainnya. Bahwa, membayangkan saja tidak cukup, mengalami, atau mencari tahu lewat ilmu adalah lebih baik untuk dapat berempati pada kondisi orang lain.

Ah tentu saja, kata kuno yang sering terdengar dalam proses membesarkan anak, adalah sabar. Inas membawa saya pada zona sabar yang seharusnya selalu bisa saya diami. Tanpa kesabaran, rasa marah akan mudah sekali muncul, dan tanpa sabar pula, rasa frustasi akan cepat datang. Menjadi ibu di jaman sekarang di tengah kondisi yang berbeda dengan di jaman dahulu, atau mungkin lebih banyak tantangannya, tidaklah bisa dibilang mudah. Tentu saja, apapun itu…termasuk menjadi ibu, bisa dibawa mudah, atau di mudah-mudahkan. Tapi ah…sayang sekali bila itu terjadi pada saya, perempuan di atas usia 35 tahun yang rindu akan kehadiran seorang anak sejak lama. Saya berusaha dan berusaha dan tentu saja usaha saya harus dibarengi dengan rasa menikmati.

Yang kedelapan, sebelum saya beranjak ke dua perenungan saya yang terakhir, saya juga belajar dari Inas bahwa saya harus hidup yang hidup. Hidup yang hidup buat saya adalah hidup yang tidak sekedar melewati waktu dari hari-kehari dengan begitu saja. Tapi hidup yang sehat, yang bermakna, dan yang di idam-idamkan setiap bangun pagi. Rasa malas dan ngantuk saya sekarang tidak hanya berefek ke diri saya sendiri, tapi juga pada Inas. Entahlah, saya seperti telah mentransfer energi negatif bila saya  menemani Inas dengan keluhan atau keengganan. Saya bisa merasakan keceriaan Inas, bila saya juga sedang ceria, dan sebaliknya.

Yang kesembilan, Inas telah mengajarkan saya untuk percaya, atau tepatnya lebih percaya pada kekuatan yang Maha Kuasa, Malaikat dan tentu saja Do’a. Ketika saya harus khawatir, Do’a dan kehadiran Tuhan dan Malaikat mampu menentramkan saya. Saya merasa Inas diapit oleh dua malaikat yang selalu menjaganya dari mara bahaya. Saya merasa bahwa setiap sedotan air susu yang ia minum, akan lebih tarasa manfaatnya bisa setiapnya diiringi dengan dzikrulllah. Saya merasa bahwa saya juga harus menjaga dan berusaha untuk selalu dekat dengan Tuhan, karena saya dan Tuhan adalah partner yang paling cocok untuk menemani Inas hingga ia dewasa nanti.

Yang terakhir yang juga kuno dan terkesan lebay, adalah tentang cinta. Cinta,cinta, cinta…. Ah, karena Inas, saya dan suami saya tidak bisa mendefinisikan maknanya. Merangkainya lewat ciuman, pelukan dan kata-kata seperti tidak mampu mewakili cinta.  Cinta seperti  sebuah batu yang dilempar ke dasar laut dan tenggelam jauh kedalamnya. Saya dan suami diajak untuk mengikuti dan berselam bersamanya, terus..jauh sampai ke dasar lautan. Yang pasti, dekatpun kami merindukan Inas, apalagi bila kami jauh, suaranya, tingkahnya, wajahnya, bahkan desahan nafasnya  menggerayangi kami kemana kami pergi.

Ah Inas, Inas…saya, dan suami saya pastinya berharap bisa sehat terus, dan punya rezeki dan kemampuan untuk menemani Inas hingga Inas dewasa nanti. Semoga kami tidak terlena dan terbuai oleh kasih sayang kami pada Inas sampai kami lupa mendidik Inas agar menjadi manusia yang santun. Sekian saya akhiri tulisan perenungan saya menjadi ibu. Semoga bahasa saya yang saya gunakan tidak menuai iri hati, dengki, perih atau semacamnya bagi yang membaca. Tolong ma’afkan keawaman saya bertutur. Saya percaya kehadiran seorang anak hanyalah salah satu cara yang membuat manusia merenung akan hidup dan kehidupan, masih banyak cara dan faktor lain yang membuat manusia untuk merenung dan berbahagia.

Salam cinta dari saya, ibu-nya Inas.

Riverside, 24 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s