Pulang!

Pagi itu adalah pagi yang lain dari biasanya. Setelah menerima telepon singkat dari pamannya, Lela terduduk lemas dan kaku di kursi dekat meja telepon. Air matanya tiba-tiba jatuh tak tertahankan, mengucur deras membasahi baju daster batiknya. “Kenapa La, ada berita apa?”, tanya Munir tergopoh-gopoh keluar dari dalam kamar sambil membetulkan letak sarungnya yang hampir melorot. “Ibu mas, ibu”, jawab Lela sambil berlinang air mata. Kali ini tangisannya mengeras. Mulutnya mangap dengan bibir “menjebeng”, Lela menangis sejadi-jadinya, kali ini membasahi kaos oblong Munir, tepat di bagian perutnya.

Sambil terus memeluk istrinya, Munir juga tidak kuasa menahan tangis. Air matanya ikut mengalir, dan tangannya membelai-belai kepala istrinya. Ia tidak tahu harus berkata apa sampai Lela berdiri dan berjalan ke kamar karena suara tangisan Galih, anak lelakinya yang masih berusia satu setengah tahun. Munir mengikuti langkah Lela dari belakang, kemudian ia ikut duduk di samping Lela yang masih menangis sesenggukan. Tangan lela sibuk membuka kancing depan baju daster nya, susah sekali sampai Galih kelihatan tidak sabar dan melanjutkan tangisnya. Munir akhirnya membantu Lela membuka kancing bajunya dan membiarkan Lela menyusui buah hati mereka dahulu. Suara tangisan Galih memelan, dan kemudian hilang hingga hanya suara mulutnya saja yang terdengar sibuk menyedot susu.

“Sabar ya La”, kata Munir diikuti tangannya yang melingkar ke pundak Lela. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi karena semalam mereka memang habis bertengkar kecil soal rencana kepulangan Lela ke Solo yang tidak jadi-jadi karena Munir tidak punya waktu untuk mengantar. Munir merasa sangat bersalah. Bayangan wajah ibu mertuanya hadir di benaknya. Senyumnya dan suaranya yang khas, serta bahasa santunnya yang menyejukkan hati membuat Munir tambah menyesal tidak bisa menemani hari-hari terakhirnya ketika beliau sakit. “Ma’afin aku ya La?..”, kata Munir akhirnya pada Lela. Di peluk lagi Lela erat, jari jemarinya menggenggam pundak Lela lebih kuat. Lela hanya terdiam membisu, suara sesenggukan tangisannya masih ada dan tersisa.

“Kita pulang ke Kampung hari ini La!”, kata Munir akhirnya. “Papa akan telepon kantor secepatnya untuk minta izin hari ini. Terserah mama mau berapa hari disana, papa siap antar jemput mama”, lanjut Munir sambil berdiri dan melepas kain sarungnya. Dilipatnya kain sarung itu dan kemudian di taruhnya di atas kasur. Lela masih saja diam, tangisannya tidak lagi terdengar, dan malah senandung kecilnya yang sekarang terdengar untuk menidurkan Galih kembali. “Ma?!”, panggil Munir lembut. Di pegangnya pundak Lela dengan kedua tanganya dan di tatapnya wajah Lela dalam. Tetapi jangankan menatap balik wajah Munir, mengangguk pun tidak. Lela malah beranjak ke kamar mandi dan tidak lama terdengar suara kucuran air keran tanda Lela mengambil air wudhu. Suara adzan dari masjid Komplek tidak lamapun mulai terdengar. Munir tidak tahu harus bicara apa lagi pada Lela. Di tunggunya istrinya sampai keluar dari kamar mandi. “Ma, kita sholat Ghaib dan subuh sama-sama ya?”, pinta Munir serius. Lela kali ini mengangguk pelan sehingga perasaan Munir menjadi lega.

Pagi itu beruntung tetangga mereka, pak Didot, siap meminjamkan mobil dan menyediakan supirnya. “Ini saya sewa pak sekalian supirnya”, kata Munir pada pak Didot. “Tenang aja Nir, kamu pulang sama istri dan anakmu hati-hati dijalan ya. Bang Karna udah tahu jalan ke daerah sana. Percaya saja sama dia”, jawab pak Didot santai. “Iya, apalagi bawa Galih, kasihan kalo harus naik bis Nir, anak kecil begitu, ibu minta ma’af ya gak bisa nemenin. Sampaikan salam saja sama bapak dan keluarga di Solo”, tambah ibu Sri istri pak Didot ramah. “Makasih pak,.. bu, saya pamit dulu, biar saya kasih tahu Lela kabar ini dan minta dia supaya siap-siap sekarang”, jawab Munir sambil beranjak pulang. “Jangan khawatir sama rumah kamu ya, ibu akan jagain dan siramin pot-pot bunya nak Lela”, kata bu Sri lagi sambil menganggul menjawab lambaian pelan tangan Munir.

Pagi itu disupiri bang Karna, mereka bertiga berangkat menuju Solo. Kota yang banyak meninggalkan kenangan buat mereka berdua itu sudah hampir lima bulan terakhir tidak mereka kunjungi.  Tepatnya ketika mereka memutuskan hijrah ke Jakarta karena pekerjaan baru Munir. Munir masih ingat betul betapa “ngotot”dirinya untuk tinggal pisah jauh dari rumah mertuanya, merantau ke Jakarta, membawa anak dan istrinya. Lela yang anak semata wayang bapak dan ibu Sangaji, menghadapi dilema saat itu, mau tidak mau harus ikut pergi meninggal kan orang tuanya.

“Mas engga tega apa ninggalin emak sama bapak disini?”,tanya Lela seakan meragukan keputusan Munir. “Mas engga perlu kok bantuin ibu dan bapak ngurusin usaha batiknya kalau memang mas engga suka, asal kita jangan tinggal jauh-jauh aja dari mereka mas?!”, kata Lela setengah merajuk. “Aku gak bisa La, bukan hanya soal bisnis batik, aku pikir ada baiknya kita pergi merantau berdua merasakan pahit manisnya hidup hanya bersama keluarga kecil kita saja”, jawab Munir cepat seperti tanpa menghela nafas. “Ijazahku jadi sayang kalo gak dipake modal buat cari kerjaan yang aku mau La”, katanya lagi menambahkan. “Lagian sudah cukup kita tinggal setahun di rumah orang tuamu ini. Mereka akan baik-baik saja kok. Kan disini ada bi Yarsih yang bisa jagain emak dan bapak kalo ada apa-apa. Kalo kangen, kita tinggal telepon, dan tentu aja kita bisa pulang sesekali. Beres kan?”, kata Munir seolah meminta Lela untuk tidak lagi berdalih. Dan akhirnya didukung oleh nasehat ibu dan bapak pula untuk menuruti suami, Lela pergi ke Jakarta bersama Munir dan Galih yang waktu itu masih berusia setahun. Tinggal di rumah kontrakkan milik pak Didot dan bu Sri, menjalani hidup sebagai seorang istri dan ibu di Jakarta, kota besar yang tidak begitu ia kenal.

Lima bulan di Jakarta, Munir memang benar-benar semangat di kantor barunya. Pekerjaannya sebagai teknisi komputer di perusahaan waralaba terbesar di Jakarta itu benar-benar membuat nya bangga. Walaupun harus berangkat jam 5 pagi dan pulang jam 7 malam, Munir hampir tidak pernah mengeluh soal pekerjaanya. Motor Honda yang ia beli kontan dari hasil tabungannya selama bekerja di perusahaan batik mertuanya dulu itu menjadi teman barunya yang handal. Uang kontrakkan sudah ia bayar lunas setahun, dan perabotan rumah tanggapun sudah ia lengkapi dalam jangka waktu dua Minggu. Bahkan Munirpun beberapa kali meminta Lela untuk tidak menerima bantuan dari orang tuanya barang sepeserpun untuk melengkapi isi rumah. Kehidupan mereka cukup baik, dan Lela juga makin merasai romantika kehidupan keluarga kecilnya di rantau; terasa lebih bebas, dan fokustanpa campur tangan sana-sini. Apalagi, tanpa kehadiran pembantu, Lela jadi lihai memasak dan mengurus rumah. Dan memilih tinggal di rumah untuk sementara adalah pilihan sadarnya karena ia berencana menjadi full time penyalur resmi usaha batik orang tuanya di Solo setelah Galih genap dua tahun nanti.

“Ibu sakit mas”, kata Lela suatu malam, sekitar 14 hari sebelum telepon dari pamannya ia terima pagi itu. “Sakit?!”, balas Munir singkat. “Iya, ibu sakit serius kali ini. Bi Yarsih bilang kakinya tiba-tiba engga bisa di pake jalan”, balas Lela dengan wajah khawatir. Jemarinya di remas-remas, sementara alisnya menukik tajam ke bawah. Ia terdiam menanti jawaban Munir. “Mungkin emak hanya reumatik biasa itu, minta di urut sama bi Yarsih aja, besokan juga baik lagi”, Munir menjawab tanpa memandang wajah Lela. Ia memang baru pulang dari kantor dan masih belum siap bicara hal-hal serius malam itu. Kalimatnya bermaksud menenangkan Lela tetapi juga ia memang tidak mau direpotkan dengan pikiran buruk kondisi kesehatan ibu mertuanya. “Ini beda mas, ibu gak biasa-biasanya ngeluh sakit kaki begitu. Mas juga kan tau ibu adalah orang yang paling aktif mondar-mandir sana-sini, ngurus ini itu di rumah”, kata Lela lagi sambil mengikuti suaminya yang ngeloyor masuk ke dalam kamar. “Yah sudah kamu jangan berpikir macam-macam dulu, kamu telpon balik saja secepatnya, tanya sendiri kabarnya gimana”, kata Munir lagi sambil membuka baju kantornya dan menggantinya dengan kaos oblong dan celana pendek. “Udah mas, aku udah telpon, ibu malah bilang aku engga usah khawatir, katanya itu cuma kecapean biasa”, jawab Lela memelan. ‘Tuh kan, ibu sendiri aja bilang begitu, Yah udah..kamu tenang aja dulu. Kita tunggu perkembangannya ya”, kata Munir seakan ingin mengakhiri percakapan malam itu.

Besok paginya Lela masih terbayang wajah ibunya. Perempuan yang masih aktif mengurus diri dan suaminya di usia 60 tahunan itu adalah sosok wanita yang sangat berarti buat dirinya sejak dia berusia 5 tahun. Lela masih ingat betul bagaimana ia diambil dari panti asuhan dan dibawa pulang kerumah ibu dan bapak Sangaji untuk kemudian tinggal dan menjadi anak semata wayang mereka. Kejadian yang seperti mimpi itu tidak pernah ia lupakan. Masih tajam terbayang di benaknya ketika ia harus membereskan pakaiannya dan pamit pada kawan-kawannya di Panti sementara bapak dan ibu Sangaji sudah menunggu di kantor panti bersama ibu Sumi, ketua Panti,  yang sudah juga ia sudah anggap sebagai ibunya sendiri. Wajah mereka berdua terlihat gembira. Dan sampai sekarang Lela masih merasakan indahnya pelukan dan ciuman ibu Sangaji untuk yang pertama kalinya. Matanya berkaca-kaca, “Lela, kamu sekarang tingal sama bapak dan ibu ya?”, kata ibu Sangaji lembut. Jemari tangannya yang halus kemudian membimbing Lela naik ke mobil kodok warna merah marun. Diikuti pak Sangaji dari belakang yang membawa koper Lela. “Lela boleh peluk dan cium ibu Sumi lagi kalau mau”, kata bapak Sangaji. Seakan tahu perasaan Lela, bapak Sangaji meminta sambil mengangguk-angguk beberapa kali. Kala itu Lela merasa ada ikatan batin yang kuat antara dirinya dengan keluarga Sangaji. Mereka seakan-akan tahu dan mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Lela akhirnya berlari kebelakang, memeluk ibu Sumi sekali lagi dan mencium tangannya. Dari kaca jendela mobil, Lela melambaikan tangannya lagi, dan ibu Sumi membalasnya hingga lambaiannya hilang di balik pohon besar yang ada di ujung gang.

Lela memang pantas di cemburui banyak kawan-kawannya di Panti kala itu. Ketika kebanyakan dari mereka memimpikan memiliki keluarga sendiri, Lela adalah yang di pilih dan di minta oleh keluarga Sangaji. Keluarga yang menyayangi Lela sepenuh hati itu adalah keluarga penghasil kerajinan batik yang tokonya ada di Pasar Klewer Solo. Keduanya sibuk menjadi pengrajin sekaligus penyalur tetapi selalu punya waktu untuk Lela. Mereka merawat dan membesarkan Lela dengan cinta yang amat besar. Memfasilitasi bakat melukisnya dan mendukung dirinya ketika ia memutuskan untuk kuliah di jurusan seni rupa dan desain, ISI Solo. Dan seperti sudah tertera di garis tangan Tuhan, Lela memang menyukai seni melukis batik dan bercita-cita untuk membantu usaha orang tuanya ketika ia dewasa dan berkeluarga nanti.

Dan sejak menerima telpon pertama tentang sakitnya ibu hingga hari-hari berikutnya Lela jadi sering melamun memikirkan ibunya. Dan Munir masih saja kelihatan tidak terlalu bersemangat mengantar Lela pulang secepatnya. “Aku, bisa pulang sendiri kok mas!”, kata Lela selesai makan malam. “Jangan La, tunggu aku aja ya, Jum’at ini kita berangkat, lagipula emak sudah agak baiikkan kan sekarang?”, tanya Munir sambil mengunyah ikan balado yang dimasak Lela tadi siang. Lela mengangguk pelan. “Dua hari lagi, dua hari lagi aku pulang mak”, katanya dalam hati. Hatinya agak berbunga sekarang dan sudah membayangkan bertemu dan memeluk emaknya. “Kamu tenang aja, emakmu makin hari makin membaik kok. Sudah bapak bawa ke dokter. Nanti kalau Munir sudah agak santai, kamu bisa kesini sama Galih. Kamu bener gak mau bapak kirimin mas Toto supaya jemput kamu?”, kata bapak di telpon. “Engga pa, engga usah. Lagian kan mobil Kijang bapak suka di pake usaha juga”, jawab Lela berdalih. “Nanti biar Munir yang atur teknisnya ya pa”, jawab Lela lagi tenang. Di dalam hatinya ia tidak akan menyampaikan ide bapak nya utuk mengirim mas Toto pada Munir. Suaminya itu tidak akan setuju bila Lela menerima bantuan dari orang tuanya. Sikap Munir memang agak berbeda setahun belakangan, khususnya setelah Galih berusia enam bulanan.  Entah apa yang membuatnya berubah. Yang pasti Munir tidak mau lagi di bantu orang tua Lela sama sekali.

Tetapi Kamis pagi itu, yang hanya selisih sehari dengan rencana kepulangan Lela. Ibu malah tidak bisa lagi menunggu dirinya pulang. Ia yang malah pergi meninggalkan Lela untuk selama-lamanya menghadap sang Khalik. Pulang ke haribaan Tuhan yang mungkin sudah rindu padanya. Rindu pada ibundanya yang memang orang baik. Manusia yang memiliki hati sejernih air embun di pagi hari. Senyum yang bak rembulan, sejuk di pandang dan membuat hati tentram itu adalah wanita istimewa, seorang Ibu, istri, kawan, dan saudara perempuan yang hebat dan sangat pemurah.

Orang lain mungkin tidak tahu kemana uang hasil usaha orang tuanya tersalurkan. Dan mungkin hanya Lela lah yang selama ini paling tahu. Selain banyak membantu keluarga besarnya, mereka adalah donatur tetap yang paling banyak menyumbangkan uang setiap bulannya ke panti asuhan tempat Lela tinggal dulu. Biaya operasional panti, dan biaya sekolah anak-anak panti menjadi tidak tersendat-sendat karena bantuan dari ibu dan bapak Sangaji. Menariknya, mereka tidak pernah menceritakan hal itu kepada keluarga besar mereka. Mereka adalah dermawan yang rendah hati. Bahkan kepada para pekerja pengrajin batik di rumah pun, mereka sangat baik. Sampai-sampai kebanyakan dari mereka sudah bekerja kepada orang tua Lela hingga bertahun-tahun lamanya.

“Ibu sudah tidak ada Lela”, kata bapak pelan berbisik di telinga Lela. “Kita harus ikhlas dan sabar ya”, lanjutnya lagi memeluk Lela erat. Air mata bapak jatuh menetes terasa di pundak Lela. “Ma’afin Lela ya pak”, kata Lela pelan. Bapak hanya mengangguk-angguk pelan tanda mengerti. “Jangan ada penyesalan apa-apa nak. Kamu adalah yang paling membuatnya bahagia selama hidupnya”, kata bapak lagi sambil menggiring Lela menuju kamar ibunya. Kamar yang rapi dengan kshur berseprei batik dan berkelambu putih berenda itu sekarang sudah kosong. Lela masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang sambil memandangi photo keluarga yang di pajang di dinding kamar. Di photo itu Lela masih berusia tujuh tahun. Lela masih ingat betul ketika ibundanya memilihkan baju untuk di pakai di photo dan menguncir rambutnya. Di photo itu, Ibu dan bapak duduk di bangku sementara Lela berdiri di tengah. Tangan kanannya memegangi jemari ibundanya. Wajah ibundanya kelihatan cantik dan bahagia sekali di photo itu. Dengan kerudung berenda yang menempel di sanggul nya. Dan kebaya putih yang manis serasi dengan kain batik hasil lukisannya sendiri. Bapak juga terlihat bahagia dan ganteng, lengkap dengan kaca mata nya yang berbingkai hitam, dan sepatu hitamnya yang mengkilap.

Lela kemudian berdiri dan mengambil photo itu. Di dekapnya photo berbingkai kayu itu ke dadanya. Air matanya kemudian menetes lagi. Dan entah kenapa tiba-tiba ada angin semilir mengitari kamar, dan bau wangi ibunya merajai hidungnya. “Alloohummagfirlahaa, Warhamhaa, Wa’afihaa, Wa’fu’anhaa”, kata Lela dalam hati. Diusapnya wajahnya, di simpannya kembali bingkai photo itu ke dinding kamar. Ia kemudian beranjak keluar menemui bapaknya yang sedang bercanda dengan Galih di ruang tengah. “Kita akan ke makam sore ini nak, kamu yang kuat ya, akan banyak tamu yang datang juga hari ini dan mungkin dalam waktu seminggu ini. Hati-hati jaga kesehatan. Ingat siapa yang akan mengurus Galih kalau kamu sakit nanti?!”, kata bapak mengingatkan. Ia seperti sudah ikhlas menerima kepergian ibu. Dari raut wajahnya Lela masih melihat duka yang tersisa. Duka yang dibalut cinta sejati yang akan bertahan sampai nanti, abadi.

Riverside, 6 September 2013

#Ditulis ketika menghibur diri rindu dengan ibundaku. “Jangan terlalu berpikir keras pada sesuatu yang di luar kemampuan kita”, begitu nasehat seorang sahabat. Dan kematian orang kita cintai adalah sesuatu yang di luar kuasa kita mengetahuinya. Semoga Allah menjaga ibundaku, ayahku, dan mempertemukan kami kembali dalam keadaan sehat, Amien…#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s