Mimpinya para ibu…

“Semalam aku mimpi yah!”, laporku pagi-pagi seraya meletakkan sepiring roti “French toast” di atas meja. “Seru banget!”, kataku lagi sambil menyomot roti dan melahapnya cepat. “Nyam-nyam, eh..enak”, gumamku memuji roti buatanku sendiri. “Mimpi apa?”, jawab suamiku sekenanya tanpa menoleh, sementara jari jemarinya masih sibuk menari di atas iphone.

“Jadi gini, semalem itu aku seperti berada di daerah perkantoran mewah gitu. Singkat cerita.., aku itu ditawarin kerjaan sama orang, cowok, tinggi tegap gitu badannya”, kataku bersemangat. “Terus-terus”, kata suamiku menanggapi. Dibetulkannya letak duduknya, ditatapnya wajahku serius. “Iya, dia nawarin aku kerjaan yang katanya harus mulai besok paginya. Aku akan disediain antar jemput, disediain hotel buat istirahat, lengkap dengan makan siang dan snack, plus gaji 50 juta!”, tambahku dengan mata berbinar. “Wuis, 50 juta?!, emang kerjaan apaan?!, terus gimana?”. “Engga jelas sih.., katanya bantuin design produk apa… gitu, masarin, dan macem2, gak jelas sih kerjaan apa”.

“Terus?!”, tanyanya lagi. “Awalnya aku nerima kerjaan itu. Tapi tau engga, pas aku udah mau tanda tangan kontrak dan diketemuin sama bos si cowok itu, masa aku tiba-tiba batalin kontraknya. Aku bilang kalo aku masih punya anak kecil”, kataku lagi sambil melahap sisa potongan roti yang ada di tanganku. “Nah loh?!”, ucapnya seolah-olah meminta penjelasan lebih  lanjut.  “Iya terus pas tau aku nolak, dia kecewa banget, katanya susah nyari orang kaya aku. Terus dia sama bosnya itu bujuk-bujukin aku gitu, lama… banget!. Tapi aku “keukeuh” bilang engga”, kataku menutup cerita dengan nada bangga. Suamiku tersenyum lebar, kemudian diletakkannya iphone  yg sedari tadi di pegangnya di atas meja.

“Ehm, mimpi itu mewakili perasaan dan pikiran ibu belakangan ini kali ya?”, tebak suamiku hati-hati . “Iya, jauh di lubuk hati ibu, walaupun ibu ingin kembali bekerja, ibu masih merasa berat meninggalkan Inas kan ya? Jadi situasi ibu yang tidak memperbolehkan ibu untuk bekerja legal sekarang ini banyak hikmahnya kan ya?”, lanjut suamiku. Aku menggangguk mengiyakan. Beberapa lama terdiam, aku akhirnya bicara, “Iya yah betul, aku memang masih belum bisa membayangkan kerja seharian diluar rumah ninggalin Inas, paling nanti lah kalo Inas udah masuk sekolah, aku akan lebih siap lagi”. “Seep!!” balas suamiku sambil mengacungkan jempolnya. “Ayah akan dukung 100%, dan seandainya visa ibu memperbolehkan ibu bekerja sekarang pun, ayah akan dukung. InsyaAllah untuk Inas, ada jalannya”.

“Makanya ya, gak adil memang dunia bekerja itu kalau harus mensyaratkan umur pendaftaran. Kasihan dong perempuan-perempuan yg ingin kembali bekerja setelah beberapa lama cuti karena punya anak, kesempatan mereka kan jadi hilang”, keluhku yang tiba-tiba jadi serius. “Tapi kalo usaha sendiri ya itu lain lagi, makanya dech perempuan mesti kreatif dan pinter, supaya bisa cari kegiatan sendiri, atau kalo entar ada apa-apa sama suaminya, mereka bisa siap siaga toch?!”,  tambahku antusias.

“Well tapi women got to do what they got to do lah. Banyak kan perempuan yang udah terlanjur punya karir bagus lalu punya anak belakangan, dan sayang banget emang kalo harus ngelepas pekerjaannya. Dan masing-masing perempuan beda-beda kondisinya. Apa yang mereka percayai sebagai sebuah kebaikan buat dirinya, plus keluarganya, ya masing-masing beda juga dong”, tambahku lagi. Nada suaraku mulai menurun, seakan ingin memberikan kesimpulan pada obrolan yang sebenarnya tidak perlu disimpulkan.

“Iya bu, ayah setuju sama ibu. Ma’afin kalau sekarang ibu dulu yang support ayah ya?. Ayah makasih banget sama ibu”, katanya lembut. “Nanti, kalau sudah waktunya ibu kerja lagi, ayah akan support ibu. Tapi ngomong-ngomong ibu masih inget engga apa yang ibu pelajari waktu kuliah dulu?!”, tanyanya tiba-tiba. “Haiyah, Ya lupa-lupa inget lah, tapi kalo di mulai baca lagi, InsyaAllah sih bisa inget”, jawabku setengah yakin.

Lalu kami berdua saling memandang, terdiam, menyiratkan persetujuan kalau sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan dari mimpiku semalam. Kemudian terdengar suara suamiku memanggil anakku, “Inas, Inas”, katanya sambil beranjak mendekati Inas yang sedang asyik bermain masak-masakan.  Tidak berapa lama aku ikutan larut bersama mereka. Wajah Inas kelihatan senang dan ceria pagi itu walaupun ia masih belum mau juga membuka mulutnya untuk sarapan. “Inas..kamu maunya sarapan apa sayang?!”, tanyaku mencoba tenang walaupun sebenarnya  sedikit khawatir.

“Okey sampai nanti sore ya. Bye Inas, bye ibu!”, kata suamiku riang.  Setengah badannya muncul dikaca pintu mobil sebelum akhirnya menghilang di balik tembok tinggi gedung kampus . Pagi itu setelah sarapan dan bermain sebentar bersama, aku mengantarkan suamiku ke kampus tempatnya mengajar, dan kemudian melaju ke klub ibu dan anak. Menghabiskan waktu bersama para ibu lain yang juga memiliki anak balita. Rutinitas yang aku nilai sebagai sebuah kenikmatan plus kemewahan. Karena tidak hanya menyediakan sarana bagi anak-anak untuk bermain, tapi juga bagi para ibu; mereka bisa bertemu, bercengkrama dan bertukar pikiran tentang banyak hal.

Menariknya pagi itu, walaupun tidak langsung bicara soal mimpi, pembicaraan seputar ibu pun muncul.  Sebuah topik yang selalu basah dan hangat untuk di perbincangkan di hampir di setiap pertemuan. “I had an embarrassing moment yesterday, Neneng. I was like so tired, and responded to my daughter’s calling like, yeap, yeap!! with a high and annoying tone, while she is actually just wanted to tell me something sweet”, adu Deanna sambil memegangi jidatnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Well, we are all have that moment”, timpal Karen diiringi senyum dan tawa kecilnya. Aku mengiyakan dan tidak lama kami bertigapun larut dalam obrolan menarik sambil tetap waspada mengawasi anak-anak bermain.

Tapi di pertemuan sebelumnya, salah seorang ibu, sebut saja namanya Katie, berikrar di depanku bahwa dirinya bertekad kuat untuk membuka dan mengembangkan bisnis lukisannya segera setelah kedua anak balitanya masuk sekolah, “Bayangkan coba Neneng, apa kata kedua anakku nanti kalau mereka tahu ibu mereka hanya seorang ibu rumah tangga?”. Aku sempat bingung dengan kalimatnya, “ah tidak ada salahnya juga kan menjadi ibu rumah tangga seumur hidup?”, gumamku dalam hati.  Tapi setelah beberapa lama  aku menimpali pernyataannya  hati-hati, “Oh ya anak-anak tentu akan sangat bangga ya memiliki ibu yang terus semangat mengejar mimpi-mimpinya. Secara tidak langsung kamu menginspirasi mereka juga kan?”.  Katie mengiyakan. “Aku engga mau anak-anak lelakiku memiliki pemahaman bahwa perempuan itu tugasnya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sementara hanya laki-laki yang bisa berkembang”, tambahnya lagi sambil menggendong dan menyusui bayinya. “Wanita pintar memang harus terus berkembang dong, apapun bentuknya itu. Dan wanita yang pintar itu idealnya juga bisa “pintar” ketika harus berada di rumah kan?”,  kataku mencoba membesarkan hatinya. Katie lagi-lagi setuju dengan responku. Lalu ia tanya kabar kegiatan menulisku yang aku lakukan di sela-sela waktuku.

“Aku masih terus corat-coret, tapi naskah cerita ku sudah dua kali ditolak nie”,  ucapku jujur. “Neneng, everybody has to go through all those steps before all good things happened!”, jawab Katie menyemangati. “Well, you know…I am reading this one novel and one page is like, really really good, I feel like my writing is bad, real bad, I need to work harder, and harder, read more, write more. Well, no wonder mine is rejected, it ‘s not good”, kataku merasa bodoh bercampur sedih. “See, you never know until you try, we just have to try what we want to happen in our life, don’t we?”, tambah Katie berapi-api. “Yea, then you know after you try whether you should continue or you should just quit”, jawabku nyinyir. Dan tiba-tiba rasa kecewa menggelantung di hatiku. “Never give up, Neneng!, the important thing is that you tried, and keep trying!”, lanjut Katie mencoba menyemangati. “You know, I am jealous that you make a time to write”, katanya lagi membesarkan hatiku.

“Kalau aku nie, sudah bertekad untuk kembali mengajar lagi nanti!”, celetuk Suzie, ibu dua anak yang terkenal paling rajin jogging diantara kami tiba-tiba . “Kalo sekarang-sekarang ini aku gak mau ninggalin anak anakku dulu, engga siap aku kalau harus “juggling” sisa waktuku di rumah untuk nemenin anak-anak. Kalo kamu gimana?.”, tanyanya padaku. “Ah ya, kalau sudah waktunya aku juga kepengen kembali bekerja”, jawabku . Lalu ada lagi Mary, seorang ibu dua anak yang justru sudah mulai berbisnis kosmetik dan menjualnya di pasar lokal. “Saya senang bisa menyalurkan hobi saya bikin ramuan kosmetik sendiri, sesekali saya sibuk di rumah, dan seminggu sekali saya jualan. Gak kebayang kalau harus seperti dulu, kerja di luar rumah seharian, bakal repot banget saya. Lagipula saya gak mau kehilangan momen ngeliat langsung perkembangan anak-anak saya”, komentarnya yakin diikuti persetujuan ibu-ibu yang lain. “Membayangkan kembali bekerja setelah sekian lama vakum mengerikan juga ya?, tapi kalau anak-anakku sudah besar, aku butuh bekerja lah. Bisa bosan aku sendirian dirumah”, timpal Lisa serius. “Ya memang asyik kalo bisa membantu finansial suami ya, rasanya lebih nyaman dan bebas kalau belanja”, celetuk Cindy diikuti tawa kecilnya.

Jennifer yang sedari tadi hanya mendengarkan, kemudian ikut bicara, “dulu waktu awal-awal ketika aku masih bekerja, gajiku habis buat bayar “nanny”, apalagi anakku tiga begini. Akhirnya aku memilih jaga anakku sendiri aja lah. Awalnya aku sempet depresi beberapa minggu setelah “resign”, tapi lama-lama aku terbiasa, dan menikmati jadi ibu rumah tangga. Dan sekarang, aku malah keenakan, ha ha”. Ibu-ibu yang lainpun jadi ikt tertawa mendengar pengakuan Jennifer. “Kalau aku kerja, aku cuma senang dapat “paycheck” setiap bulan, that’s it!, I don’t think I like my job tho”, katanya lagi tanpa aling-aling.

“Iya kita memang beruntung punya pilihan untuk jadi IRT, banyak kan “single mother” yang harus berperan ganda, atau yang suaminya memang harus di bantu?!”, tambah Pat serius. “Kerja atau tidak kerja semua baik, semua tergantung kondisi, dan atau pilihan seseorang atau keluarga masing-masing. Tiap keluarga beda-beda romantika nya kan?!”, kata Pat lagi diikuti anggukan yang lain. Dan tiba-tiba, “Zoe, get back here! 1, 2, 3”, teriak Jennifer memecah suasana damai perbincangan kami. Jennifer kemudian mengejar Zoe yang terus berlari ketengah lapangan. Kulihat Inas juga melakukan hal yang sama, berlari mengikuti Zoe. Aku ikutan berlari menghampiri Inas yang sempat berhenti ketika ku panggil. Tanpa kata penutup, diskusi kecil kami kemudian berakhir. Sementara sinar matahari yang makin terasa panas masih setia menemani.

Sepulangnya dari “play date”, sambil menyetir, pikiranku melayang ke diskusi pagi bersama suamiku dan obrolan para ibu di pertemuan yang lalu. “Pikiran dan perasaan ibu-ibu dimana-mana pada prinsipnya serupa ya, ingin terus berkembang tapi tetap ingin menomorsatukan keluarga. Kalaupun berbeda, itu cuma caranya saja. Dan cara itu banyak di pengaruhi situasi keluarganya sendiri, lingkungannya, budayanya, atau kepercayaannya”, gumamku dalam hati. “Sekarang pertanyaannya bukan mana yang lebih baik antara bekerja atau tidak bekerja, tetapi pilihan sadar apa yang membuat seorang ibu bahagia sehingga ia bisa menikmati hari-harinya dan melihat segala sesuatu dengan kaca mata syukur dan damai di hati. Karena seorang ibu yang bersyukur dan bisa berdamai dengan pilihannya sendiri adalah ibu yang baik. Kalau ia baik, ia akan baik kepada dirinya sendiri, kepada keluarganya, dan kepada lingkungannya”, gumamku lagi.

Senyumku kemudian mengembang. Kulihat Inas dari kaca spion sedang asyik duduk di “car seat” nya sambil memperhatikan jalan. Celotehnya sesekali keluar dengan suara khasnya yang selalu merdu terdengar di telingaku. “Inas, Inas, you are so precious. I can’t thank you God enough to have you now”, tak terasa kesyahduan hadir hingga mataku sedikit basah.

Ya begitulah, begitulah cerita mimpiku dan sekelumit cerita tentang mimpi para ibu yang lain. Mimpi yang hadir di malam hari dan mimpi yang sedang menggantung dan menunggu untuk di gapai kembali. Iya, mimpi para ibu, adalah mimpi yang lahir dari hati. Mimpi yang akan tersemai tanpa melukai orang di sekeliling mereka yang dicintai. Selamat bermimpi para ibu, teruslah bermimpi, dan jangan berhenti. Karena dengan mimpilah hidup akan lebih hidup lagi dan berseri. Salam Mimpi!

(Riverside, Oktober 3rd, 2013) ~nama2 teman diatas adalah nama samaran~

7 thoughts on “Mimpinya para ibu…

  1. thanks for sharing, Neneng. honest, genuine, reflective and yet fun to read.
    women like me, we have a similar dream…. a reversed one, i guess.

    • You have no idea how happy and humble i am knowing that you read this! Thank you for all the compliments!

      Ehm, a reversed dream?!.. And I wish nothing but the bestest of luck to your dream. You know what? You reflect my kind of dream;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s