Kegembiraan dalam Halloween

Semalam, tanggal 31 Oktober 2013, setelah rencana makan diluar batal, aku, suamiku, dan anakku yang masih berusia dua setengah tahun menikmati waktu berleha-leha dan bercengkrama di ruang tengah. Dengan perut yang masih terasa kenyang setelah akhirnya aku memutuskan masak cepat dan kami makan di rumah, serta kaki yang masih terasa sedikit lelah setelah berjalan mengelilingi rumah tetangga, tiba-tiba pertanyaan muncul dikepalaku, “sebenarnya arti dan latar belakang Halloween itu apa sih?”…

Dan setelah beberapa tahun aku ikut serta meramaikan acara Halloween ini, aku jadi baca-baca sedikit asal usulnya. Bahwa Hallowen berasal dari tradisi memperingati yang telah mati masyarakat Pagan dan sebagian (tidak semua) kaum Kristen di Ireland dan Scotland, yang menyebar sampai ke Amerika. Di Amerika, Halloween telah menjadi kebiasaan budaya saja, tanpa ada unsur keyakinan keagamaan apa-apa. Terlepas dari perdebatan boleh tidaknya ikut Halloween itu, selama ini aku dan suami memang melihat acara Halloween ini sebagai sebuah budaya Amerika yang menyenangkan, lucu, dan menjadi ajang silaturrahmi yang penuh tawa. Tidak sama sekali terpikir kalau acara ini mendekati pada “kemusyrikan” karena dipandang mengagumi atau menyembah sosok hantu misalnya, atau sebuah kesia-siaan belaka. Sama sekali saya dan keluarga tidak sedang menyekutukan Tuhan. Toh tidak ada sesuatupun atau seorangpun yang memaksa atau mengharuskan seseorang yang tinggal di Amerika untuk ikut meramaikan Halloween. Ini adalah pilihan seseorang atau keluarga, karena yang paling penting, siapa yang merayakan tidak menggangu atau membahayakan orang lain yang tidak merayakan.

“Bagaimana acara Halloween tidak menyenangkan coba?!”. Ibarat acara karnaval di acara tujuh belasan di Indonesia, ketika anak-anak memakai kostum pilihan mereka sendiri atau pilihan orang tuanya, dan kemudian membuat orang yang melihat tersenyum dan ikut bergembira, acara Hallowenpun hampir sama.  Mulai siang hari hingga malamnya, di sekolah, di perpustakaan, di kantor-kantor, di mall-mall dan di rumah-rumah tentunya, anak-anak sudah mulai mengenakan kostum mereka. Dan kostum ini tidak melulu harus sesuatu yang serupa dengan hantu atau makhluk menyeramkan lainnya. Malah untuk anak-anak, jarang sekali yang memakai kostum seperti itu. Anak-anak biasanya pakai kostum hewan kesayangan atau tokoh kartun favorit mereka.

Menurut saya ketika anak-anak di beri kesempatan untuk menggunakan kostum sesuai pilihan mereka sendiri atau disesuaikan dengan kesukaan mereka oleh orang tuanya, maka anak tersebut diberi ruang untuk berimaginasi. Dan berimaginasi, layaknya seperti bermain sandiwara atau mendengarkan cerita, dapat meningkatkan daya kreatifitas dan inteligensi seorang anak. Saya percaya, dan seperti yang pernah saya dengar dari salah seorang dosen saya di kelas “Buku cerita untuk anak-anak”, orang tua sebaiknya jangan membatasi jenis buku bacaan anak. Tetapi biarlah mereka berimaginasi seluas-luasnya dengan berbagai cara, dengan catatan, tetap selalu diawasi dan diberikan informasi sesuai perkembangan umur, dan rasa ingin tahunya.

Selain menyenangkan dan memberi ruang berimaginasi, acara Halloween juga memberikan ruang untuk berkreasi bagi para orang tua, remaja, atau orang dewasa. Dalam hal ini, mereka tidak perlu memaksakan diri untuk membeli kostum, apalagi yang mahal. Apa saja yang tersedia di rumah bisa diberdayakan. Pelastik besar, bahan-bahan sisa yang tidak terpakai, bahkan barang-barang bekas yang dijual di toko bekas pun bisa dijadikan bahan untuk membuat kostum. Teman saya yang ibu-ibu contohnya, dengan imaginasi dan kreatifitas yang jauh lebih baik daripada saya, mampu membuat kostum robot untuk anak lelakinya yang berusia dua setengah tahun. Ada pula yang menambah aksesori di baju main sehari-hari anaknya dengan menambah stiker sehingga kelihatan seperti kostum liliput. Ada yang hanya menggunakan slayer atau topi dan sepatu bot sehingga anak-anak mereka seperti koboi. Dan ada pula anak-anak perempuan yang hanya memakai baju rok mekar yang sudah mereka punyai tetapi memakai bondu berbentuk mahkota, tanduk, atau antenna serangga. Saya benar-benar kagum sama ibu-ibu yang kreatif seperti mereka.

Sementara saya sendiri? Ehm.. sudah dua tahun belakangan ini saya justru tidak pernah membeli apalagi membuat kostum khusus untuk anak saya. Di tahun pertama Inas merayakan Halloween, seorang kawan asal Indonesia mengirim baju ikan Nemo untuk Inas yang ternyata adalah kostum bekas dipakai anaknya dulu. Satu lagi kawan yang orang Amerika malah menawarkan meminjamkam kostum bunga matahari untuk dipakai Inas karena anaknya yang kebetulan seusia Inas sudah memiliki kostum hadiah dari keluarganya. Di tahun kedua juga serupa, seorang kawan memberikan Inas baju kunang-kunang, dan itupun adalah baju bekas anak perempuannya yang sudah tidak cukup lagi. “Saya akan kembalikan nanti setelah selesai”, uajar saya pada ibu itu. “Oh tidak perlu. Berikan saja pada teman-teman lain untuk bisa dipakai lagi tahun depan”, katanya ramah. Hebat kan? Saling berbagi dan menyalurkan kepada yang lain. Dan ternyata hal ini adalah kebiasaan yang sudah cukup lama berlangsug di kalangan ibu-ibu disini. Dari berbagi dan menyalurkan kepada yang lain, silaturrahmi jadi lebih dekat.

Bicara soal silaturrahmi, Halloween juga menjadi salah satu ajang bersilaturrahmi karena di hari tersebut pintu-pintu rumah tetangga terbuka. Para pemilik rumah dengan senang hati menerima siapa saja – termasuk anak-anak dan bahkan bayi- yang hadir memakai kostum, dan kemudian memberi permen-permen atau candy. Saya, suami, dan anak saya jadi bisa bertemu tetangga dan mengucapkan salam karena di Amerika hidup bertetangga tidak serupa dengan di Indonesia. Disini, kita tidak bisa begitu saja berkunjung, tetapi juga tidak bisa begitu saja membangun rumah tanpa memikirkan keindahan rumah tetangga atau lingkungan sekitar.  Ada aturan berlaku yang dibuat oleh pemerintah lokal soal membangun rumah, dan ada aturan tidak tertulis yang dilakukan seseorang/keluarga untuk menjaga privasi tetangga nya. Tetapi walaupun begitu, bila kita memerlukan bantuan tetangga kita bisa meminta mereka lewat telpon dulu misalnya, dan tetap menjaga hubungan dengan bertelepon, saling bertukar salam lewat kartu ucapan, atau berkunjung sebentar. Karena itulah, Halloween menjadi moment sangat baik untuk bertemu dengan para tetangga dalam keadaan riang gembira.

Semalam, kami bertiga memutuskan untuk mengelilingi rumah tetangga saja dan tidak membuka pintu rumah kami. Mungkin lain waktu saya bisa berbagi tugas dengan suami. Saya di rumah, dan suami yang berkeliling misalnya. Tetapi semalam buat saya memang indah. Kami berhenti sebentar di tengah-tengah jalan beberapa kali saling menegur dan bercengkarama dengan orang-orang yang tinggal di lingkungan kami. Saya senang, suami senang, dan Inas juga menikmati acara melihat kostum-kostum lucu, dan menerima permen dan coklat-coklat kecil.

Begitulah pengalaman saya berhalloween di sini. Saya melihat ikut Halloween sah-sah saja, asal tidak berlebihan, tidak memaksakan diri, tidak membahayakan apalagi merugikan orang lain, dan bisa mendatangkan kebaikan. Pagi ini saya ingin menyampaikan salam damai bagi teman-teman dan keluarga di mana saja berada, baik mereka yang merayakan atau tidak merayakan Halloween.  Mari saling menghargai dan merayakan perbedaan sebagai rahmat Tuhan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s