Mereka dan Saya tentang Natal di Amerika

Ah Natal sebentar lagi. Semarak  kota Riverside terasa sekali menyambutnya. Rumah-rumah terang benderang dihiasi banyak lampu warna warni.  Pusat kota juga dihiasi cantik oleh lautan lampu. Lengkap dengan fasilitas ice skatingnya, penyewaan kereta kencananya, musik live-nya, serta kedai-kedai kecil yang menjajakan makanan ringan. Tempat-tempat umum seperti mal, kantor, sekolah, rumah sakit, dan tempat  hiburan, kesemuanya ikut serta menyemarakkan Natal lewat berbagai hiasan dan acara khusus.  Dan tanpa terkecuali, klub ibu dan anak balita di kota ini, tempat dimana hampir setiap hari aku dan anak perempuanku yang berusia dua setengah tahun bertemu dan bermain, juga ikut memeriahkan datangnya Natal.

Ya diklub itulah, saya menjadi kenal banyak ibu-ibu di Riverside, California ini. Perkenalan yang awalnya dimulai dari mencari info di google, kemudian bertemu di darat dan saling sapa, lalu sama-sama mengawasi anak-anak kami bermain, lama kelamaan menjadi asyik karena kami sering ngobrol ngalor-ngidul. Mulai berbagi cerita tentang pengasuhan anak dan mengurus rumah tangga, sampai ke soal yang cukup privat; kepercayaan dan tradisi keluarga. Topik yang awalnya sensitif dan hati-hati untuk diungkapkan itu, perlahan justru menjadi sangat menarik untuk didengarkan dan diceritakan. Apalagi menjelang natal ini, kami jadi bisa saling berbagi dan belajar. Berikut penggalan obrolan saya dengan mereka.

“Selamat Natal, Neneng!, ups..ma’af, selamat liburan maksud saya”, kata Sarah sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Aku tersenyum membalas sambil mengucapkan Natal untuknya dan mengatakan bahwa seperti dugaannya, aku tidak merayakan Natal. Sarah minta ma’af lagi, dia bilang dia keceplosan. “Jadi kamu dan suami kamu itu Muslim Kristen, atau Muslim Yahudi?”, tanyanya kemudian. Sebuah pertanyaan yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

“Wah saya tidak tahu maksud kamu apa, tapi saya orang Islam, lahir sebagai muslimah, dan dibesarkan di tengah keluarga Islam”. Sarah mengangguk-angguk. “Tapi kamu percaya Yesus kan?, saya pernah baca sedikit bahwa orang Islampun percaya Yesus?!”, tanyanya seperti ingin mengkonfirmasi kalau saya adalah salah satu dari golongan yang ia sebut. “Iya betul. Yesus adalah Nabi bagi umat Islam, kami menyebutnya Nabi Isa. Ia adalah salah satu dari Nabi-nabi yang kami percayai. Hanya saja kami tidak percaya kalau dia anak Tuhan”, jawabku lagi. Wajah Sarah kelihatan tambah serius, “Tuhan kamu?”, tanyanya menggantung. “Tuhan saya tidak beranak dan diperanakkan. Dia Tunggal. Kami menyebutnya Allah, dari bahasa Arab, yang artinya yah Tuhan, atau God”.

Tiba-tiba Lauren yang sedari berada di dekat kami ikut bicara,“Aku senang kamu ucapkan selamat Natal ke kami walaupun kamu tidak percaya Yesus”. “Dan banyak orang tersinggung loh, kalau ucapan selamat Natal dihilangkan dan diganti dengan selamat liburan saja. Saya termasuk didalamnya”, celetuk Sarah sambil nyengir. “Ya tentu saja tersinggung. Sudah jelas-jelas kok kita memperingati kelahiran seseorang yang menyelamatkan kita, masa harus dihilangkan ucapannya. Hari kelahiran dia pantas sekali kita rayakan”, Lauren menjawab sambil mengalihkan pandangannya kearahku, seakan memintaku menerangkan sesuatu lebih lanjut, dan aku tidak tahu pasti apa itu.

“Saya seorang muslimah seperti yang kalian tahu, tapi kalau Natal tiba, saya ikut juga menikmati semaraknya. Seperti yang kita lakukan di klub kita ini. Acara makan siang (potluck) bersama, acara tukar kado, acara membuat prakarya untuk hiasan Natal, dan lain-lainnya itu buat saya menarik dan baik maksudnya. Toh tidak ada juga yang berdoa atau melakukan kebaktian secara khusus di acara-acara kita kan?”, tutupku sambil memandang Lauren dan Sarah bergantian. “Betul, betul, betul”, kata Lauren menyetujui. “Saya juga memasang lampu-lampu warna warni di bagian depan rumah kami, supaya jadi cantik, dan ingin membuat para tetangga dan siapa saja yang lewat di depan rumah kami senang”.

“Waktu saya masih mengajar di SMA dulu, poin yang selalu saya tekankan pada anak-anak murid saya adalah keterbukaan dan saling menghormati perbedaan. Saya berharap anak-anak murid saya bisa seperti kita-kita ini, bicara terbuka, fair, dan tetap berteman walau berbeda kepercayaan dan tradisi”, kata Sarah tajam dengan gaya bak orang sedang mengajar. “Iya memang kita harus sering berdialog seperti ini, karena dengan dialog kita jadi kenal dan tahu, dan sadar bahwa sebenarnya kita banyak kesamaannya”, kata saya tak kalah serius.

“Tepat sekali!”, timpal Sarah diikuti anggukan Lauren. “Saya juga sebenarnya sama seperti kamu Neneng, Saya tidak mempermasalahkan perbedaan diantara kita. Apalagi kita ibu-ibu, sepatutnya memberi contoh kan ya?! Memang begitulah hukum alam, manusia dimana-mana ya berbeda. Sudah sewajarnya kita tetap berdampingan walau berbeda”, Kata Lauren seperti memberikan kesimpulan. “Nanti kalau waktunya Idul Fitri gantian kamu cerita-cerita ke kami ya?!”, tambahnya dengan wajah sumringah.

“Iya mestinya urusan ucap mengucapkan tidak perlu dipermasalahkan dong ya. Ada penganut agama lain yang mau mengucapkan Selamat Natal bagi teman Kristianinya, ya bagus sekali. Kalau tidak mau ya sudahlah, kita yang Kristen tidak perlu tersinggung”, Kata Sarah sambil tertawa. “Iya dan jangan menghakimi apa yang orang lain percayai atau lakukan”, tambah saya sambil bermimpi saya bisa mengatakan hal ini dengan lantang bukan didepan Sarah, melainkan di depan banyak orang yang sosoknya tiba-tiba sekelebat melintas di benak saya.

“Jadi kamu gak punya pohon Natal, anak kamu gak dikenalin Santa, gak ada kado-kadoan, dan sebagainya kan ya?”, sambung Lauren memastikan. “Tidak, tidak ada itu semua”.  Kami bertiga terdiam sejenak, seakan memberi isyarat untuk segera mengakhiri obrolan. Kami bertiga lalu teringat anak-anak kami, dan beranjak menghampiri mereka yang kebetulan bermain di tempat yang berbeda.

Di tempat ayunan saya temui anak saya sedang asyik menggunakan dadanya untuk main ayunan, bukan bokongnya. Saya tersenyum geli melihat gayanya. Disamping anak saya, saya lihat Ashley sedang mendorong anak lelakinya di ayunan. Ashley, ibu muda yang dulunya adalah seorang guru seni rupa di SMA, dan kebetulan sudah saya kenal sejak sebelum kami menjadi  bagian dari klub ini mengucap salam, dan dengan suara pelan dan sopan ia bicara, “Hi Neneng, saya tahu kamu tidak merayakan Natal. Tapi jujur, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sikap kamu atau orang tua Muslim di Amerika untuk memberi pengertian kepada anaknya bahwa mereka tidak merayakan Natal, dan mereka bukan orang Kristen. Karena di Amerika ini kan, walaupun Natalnya masih sebulan lagi, tapi gaung dan semaraknya sudah jauh-jauh hari. Pasti susah kan ya?”.

Saya berpikir sejenak, kemudian menjawab kalau kebiasaan ritual di rumah sudah secara tidak langsung menjelaskan kepada anak saya apa agama orang tuanya. “Secara perlahan akan saya beri pengertian pada anak saya akan identitasnya sambil terus saya kenali dengan agama lain. Kalau tidak prinsipal, saya tidak keberatan anak saya ikut menikmati semarak Natal, ya seperti yang sering dan sudah kita lakukan di klub ini”. “Tapi bagi sebagian Muslim, ikut menyemarakkan Natal, apapun bentuknya itu, sangat tidak boleh kan? Mereka takut mereka atau anak mereka masuk neraka kan?”, katanya setengah berbisik. Lalu Ashley melanjutkan ceritanya.

“Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen yang cukup taat. Tapi saya menikahi  lelaki yang bukan Kristen. Keluarga saya senang sama suami saya, tapi mereka selalu menyayangkan bahwa Iden, suami saya bukan orang Kristen”, kata Ashley sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mereka pikir suami saya akan masuk neraka”, katanya lagi menyebut kata neraka, lagi-lagi, sambil berbisik. “Coba bayangkan Neneng, bagaimana perasaan kamu kalau ada orang yang bilang bahwa suami yg kita cintai dan mencintai kita akan masuk neraka?, sedih kan?,”.

Terus terang, saya sempat kikuk menjawabnya, tetapi lalu saya bilang bahwa memang  begitulah sikap sebagian orang; seenak hatinya menggolongkan orang lain untuk masuk neraka. “Itu urusan Tuhan, kenapa juga semua harus ditarik ke urusan surga dan neraka coba?!”, kata saya balik memberi pertanyaan. Ashley mengangguk-angguk. “Memang begitulah manusia ya. Saya tebak juga begitu di keluarga Muslim ya, mengatakan yang bukan Muslim ahli neraka, benar kan?”, tanyanya mengkonfirmasi. “Ya tidak semua tentunya sih, tapi sangat mungkin ada yang begitu”, jawab saya lagi.

“Selama ini saya cuma bisa menebak-nebak soal sifat dan pandangan orang Islam, tapi sejak bertemu kamu, saya bisa bilang kalau saya punya teman dekat seorang Muslimah”, katanya bangga diiringi senyum lebar. Di New York dulu, murid-murid saya, atau teman-teman di kampus yang muslim, tidak pernah benar-benar ngobrol sama saya. Jadinya ya saya tidak pernah punya kesempatan mengenal mereka lebih jauh. Mereka juga kelihatannya selalu bersama kelompoknya ya?”, tanyanya lagi dengan nada sama, mengkonfirmasi. “Ehm…bisa jadi begitu, dengan berbagai alasan sebagian mungkin tidak banyak bergaul dengan orang lain”, jawab saya membenarkan.

“Nah itulah karena Iden bukan Kristen, saya biasa –biasa saja menyambut Natal ini. Ada Kadoo, ya ada, hanya untuk keluarga kecil kami saja, karena itu wujud kasih sayang. Ada Pohon ya ada, karena rumah jadi cantik dihiasi pohon natal. Itu saja”,katanya tanpa beban. “Dan saya pikir Natal di Amerika ini seperti sebuah tradisi saja, tidak semua yang merayakan beragama Kristen”, tambahnya. “Tapi ngomong-ngomong kalau Idul Fitri bagaimana? , suasananya apa mirip dengan Natal?”. “Ya mirip lah, heboh dengan tradisi yang menurut saya sah-sah saja untuk dilestarikan”. “Kalau Ramadhan, bagaimana?. Saya ingat betul lohh…waktu Ramadhan kemaren, ingin sekali saya ucapkan Happy Ramadhan ke kamu, tapi suami saya bilang kalau bisa jadi Neneng tidak happy pas Ramadhan, karena kan harus puasa. Betul begitu?”, tanyanya serius. “Ya tidak apa-apa kamu bilang Happy Ramadhan, saya senang kok. Karena itu akan saya fahami sebagai support dan penghormatan”.  “Oh oke, aku ucapkan selamat Ramadhan tahun depan ya..”, jawabnya riang.

“Jadi tidak ada Natal buat kamu, tidak ada kado-kado, tidak ada Santa juga kan ya?”, Laurie ikutan nimbrung.  “Ada yang kamu sukai tidak dari natal?”, tanyanya lagi. Tapi belum sempat saya jawab dia sudah mulai bicara.  “Aku suka semua yang berbau natal, makanannya, lagu-lagunya, lampu-lampunya, kado-kadonya, walaupun saya akui saya juga harus hati-hati memberi kado untuk anak saya. Apalagi tahun ini dia masih kecil, belum dua tahun, dan saya berencana untuk tidak memberikannya kado. Dia tidak butuh apa-apa”, tutupnya pasti. “Ya sama, saya juga suka semaraknya, lampu-lampunya, dan ide saling memberi di kala natal”.

“Ah ya saling memberi. Nah itu dia, itu yang ingin saya tanamkan pada anak saya bahwa Natal itu bukan soal mendapat hadiah saja tapi berbagi kebahagiaan khususnya pada mereka yang kurang mampu”. “Saya juga akan memberi kado secukupnya saja, jangan sampai keterlaluan. Kalau misalnya usianya masih dua tahun tapi sudah di kasih mobil-mobilan mini elektrik yang harga paling murahnya $200, mau dikasih apa lagi nanti pas usia tiga tahun dan seterusnya coba?”, katanya meminta persetujuanku akan penilaiannya pada saudara iparnya yang memberi kado anaknya serupa itu.

Saya tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju. Pikiran saya melayang ke romantika Idul Fitri, khususnya tentang silaturrahmi, yang kadang-kadang ada dilemanya. “Tapi memang perlu pemikiran, waktu, biaya dan tenaga untuk menyambut Natal ya, khususnya membeli kado untuk keluarga dan sahabat?!”, tanya saya pada Laurie. “Betul itu, dan menariknya saya selalu saya belanja di akhir waktu, padahal lebih baik kalau saya mencicil  membeli kado. Paling tidak saya tidak terburu-buru dan bisa lebih enjoy”, jawab Laurie jujur. Saya tersenyum, senang akan gayanya yang ceplas ceplos, tapi juga terkenal baik hati.

Dan bicara soal baik hati, plus bijaksana, saya tiba-tiba teringat tetangga depan saya, seorang wanita tua berusia 60 tahunan yang tinggal sendirian karena suaminya sudah  sangat sakit dan harus diurus di panti jompo. Ia begitu perhatian pada kami, khususnya pada anak kami. Setiap hari Thanksgiving, Ulang Tahun, dan Natal, ia membanjiri anak kami dengan kartu ucapan selamat dan berbagai macam hadiah. Kasih sayangnya pada anak kami hampir serupa dengan perhatiannya pada cucunya sendiri yang saya lihat sering datang berkunjung kerumahnya. Ah Jenny, nama wanita tua itu, ia begitu menggugah perasaan kami. Kehangatan sikapnya membuat kami merasa ada di kampung halaman sendiri. Cukup lama saya tertegun, mengingat kebaikan Jenny, sampai Sarah memanggil kami untuk siap merapat ke meja penuh hidangan.

Sebelum merapat kami mengajak anak kami masing-masing, bersiap-siap menikmati makanan yang terhidang di atas meja. Makanan yang kami bawa dari rumah masing-masing dan kami nikmati bersama-sama di alam terbuka, di taman umum yang bersih, indah, dan nyaman. Kemudian suara anak-anak dan ibunya riuh rendah terdengar di dekat meja hidangan. Hari itu, beberapa hari menjelang Natal, semuanya terlihat ceria dan senang, berkumpul bersama menjelang Natal, terlepas dari perbedaan dan cara masing-masing merayakan dan memaknainya.

Riverside, California, 24 Desember 2013.

~Nama tokoh di tulisan ini adalah nama samaran, kecuali nama saya

2 thoughts on “Mereka dan Saya tentang Natal di Amerika

  1. Sebagian orang beralasan bolehnya mengucapkan selamat natal pada orang nashrani karena dianggap sebagai bentuk ihsan (berbuat baik). Dalil yang mereka bawakan adalah firman Allah Ta’ala(yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8). Inilah di antara alasan untuk melegalkan mengucapkan selamat natal pada orang nashrani. Mereka memang membawakan dalil, namun apakah pemahaman yang mereka utarakan itu membenarkan mengucapkan selamat natal? Temukan jawabannya pada pembahasan berikut.
    Sebab Turun dan Makna Ayat
    Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Di sini ada beberapa pendapat di kalangan ahli tafsir. Di antara pendapat tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada Asma’ binti Abi Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, di mana ibundanya –Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza- yang musyrik dan ia diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya.[1]
    Ibnu Katsir -rahimahullah- menjelaskan makna ayat tersebut, “Allah tidak melarang kalian berbuatihsan (baik) terhadap orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin dalam agama dan juga tidak menolong mengeluarkan wanita dan orang-orang lemah, yaitu Allah tidak larang untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.”[2]
    Loyal (Wala’) pada Orang Kafir itu Terlarang
    Wala’ (loyal) tidaklah sama dengan berlaku ihsan (baik). Wala’ secara istilah bermakna menolong, memuliakan dan loyal dengan orang yang dicintai.[3] Sehingga wala’ (loyal) pada orang kafir akan menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang dengan mereka dan agama yang mereka anut. Di antara larangan loyal (wala’) pada orang kafir dapat kita lihat pada firman Allah (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51). Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan.[4]
    Perlu Dibedakan antara Ihsan (Berbuat Baik) dan Wala’ (Loyal)
    Perlu kiranya dipahami bahwa birr atau ihsan (berbuat baik) itu jauh berbeda dengan wala’ (bersikap loyal). Ihsan adalah sesuatu yang dituntunkan. Ihsan itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orang kafir. Fakhruddin Ar Rozi -rahimahullah- mengatakan, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (birr) kepada mereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal loyal (wala’) pada mereka itu tidak dibolehkan.”[5]
    Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Berbuat baik dan berlaku adil tidaklah melazimkan rasa cinta dan kasih sayang pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap berbakti dan berbuat baik dengan orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci agama yang orang tuanya anut. ”[6]
    Contoh Berbuat Ihsan pada Non Muslim
    Pertama: Memberi hadiah kepada saudara non muslim agar membuat ia tertarik pada Islam. Seperti ‘Umar pernah memberi hadiah pakaian kepada saudaranya[7] di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam.[8]
    Kedua: Menjalin hubungan dan berbuat baik dengan orang tua dan kerabat non muslim.
    Dari Asma’ binti Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Ibuku mendatangiku, padahal ia seorang musyrik di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku ingin meminta nasehat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, “Sesungguhnya ibuku mendatangiku, padahal ia sangat benci Islam. Apakah aku boleh tetap menyambung hubungan kerabat dengan ibuku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya boleh. Silakan engkau tetap menjalin hubungan dengannya.”[9]
    Allah melarang memutuskan silaturahmi dengan orang tua atau kerabat yang non muslim dan Allah tetap menuntunkan agar hak mereka sebagai kerabat dipenuhi walaupun mereka kafir. Jadi, kekafiran tidaklah memutuskan hak mereka sebagai kerabat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Jubair bin Muth’im berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi (dengan kerabat).”[10]
    Ketiga: Berbuat baik kepada tetangga walaupun non muslim.
    Mujahid berkata, “Saya pernah berada di sisi Abdullah ibnu ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata, ”Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu.” Lalu ada salah seorang yang berkata, “(Anda memberikan sesuatu) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisi anda.” Abdullah bin ’Amru lalu berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamberwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.”[11]
    Perkara yang Termasuk Loyal pada Orang Kafir dan Dinilai Haram[12]
    Pertama: Mencintai orang kafir dan menjadikan mereka teman dekat[13]. Dikecualikan di sini adalah cinta yang bersifat tabi’at seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya yang musyrik. Cinta seperti ini dibolehkan selama tidak sampai mencintai agama yang orang tuanya anut.
    Kedua: Menetap di negeri kafir[14]. Ada dua rincian yang mesti diperhatikan:
    1. Jika orang kafir yang baru masuk Islam, lalu tinggal di negeri kafir dan tidak mampu menampakkan keislaman (seperti mentauhidkan Allah, melaksanakan shalat, dan berjilbab –bagi wanita-) dan ia mampu berhijrah, maka saat itu ia wajib berhijrah ke negeri kaum muslimin. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Dan tidak boleh muslim tersebut menetap di negeri kafir kecuali dalam keadaan darurat.
    2. Jika muslim yang tinggal di negeri kafir masih mampu menampakkan keislamannya, maka berhijrah ke negeri kaum muslimin pada saat ini menjadi mustahab (dianjurkan). Begitu pula dianjurkan ia menetap di negeri kafir tersebut karena ada maslahat untuk mendakwahi orang lain kepada Islam yang benar.
    Ketiga: Diharamkan bepergian ke negeri kafir tanpa ada hajat. Namun jika ada maslahat (seperti untuk berobat, berdakwah, dan berdagang), maka ini dibolehkan asalkan memenuhi tiga syarat berikut: (1) memiliki bekal ilmu agama yang kuat sehingga dapat menjaga dirinya, (2) merasa dirinya aman dari hal-hal yang dapat merusak agama dan akhlaqnya, dan (3) mampu menampakkan syi’ar-syi’ar Islam.
    Keempat: Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan.Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[15] Di antara dalilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[16] Oleh karena itu, perilakutasyabbuh (menyerupai orang kafir) dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka adalah diharamkan. Contohnya adalah mencukur jenggot dan mengikuti model pakaian yang menjadi ciri khas mereka.
    Kelima: Bekerjasama atau membantu merayakan perayaan orang kafir, seperti membantu dalam acara natal. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2)
    Begitu pula diharamkan menghadiri perayaan agama mereka karena Allah Ta’ala menceritakan mengenai sifat orang beriman (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman adalah yang tidak menyaksikan perbuatan zur …” (QS. Al Furqon: 72). Di antara makna “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik.[17] Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib[18]. Begitu pula diharamkan mengucapkan selamat dalam hari perayaan yang mereka rayakan. Bahkan hal ini diharamkan berdasarkan ijma’ atau kesepatan para ulama.
    Ulama Sepakat: Haram Mengucapkan Selamat Natal
    Perkataan Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah:
    ”Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’(kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
    Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[19]
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin mengatakan, ”Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan agama kepada orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama.”[20]
    Herannya ulama-ulama kontemporer saat ini[21] malah membolehkan mengucapkan selamat Natal. Alasan mereka berdasar pada surat Al Mumtahanah ayat 8. Sungguh, pendapat ini adalah pendapat yang ’nyleneh’ dan telah menyelisihi kesepakatan para ulama. Pendapat ini tidak bisa membedakan antara berbuat ihsan dan wala’ (loyal). Padahal para ulama katakan bahwa kedua hal tersebut adalah berbeda sebagaimana kami telah utarakan. Sungguh celaka jika kesepakatan para ulama itu diselisihi. Padahal Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’: 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka.
    Hujjah terakhir yang kami sampaikan, adakah ulama salaf di masa silam yang menganggap bahwa ucapan selamat natal termasuk bentuk berbuat baik dan dibolehkan, padahal acara natal sudah ada sejak masa silam?!
    Inti dari pembahasan ini adalah tidak selamanya berbuat baik pada orang kafir berarti harus loyal dengan mereka, bahkan tidak mesti sampai mengorbankan agama. Kita bisa berbuat baik dengan hal-hal yang dibolehkan bahkan dianjurkan atau diwajibkan sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas. Semoga Allah selalu menunjuki kita pada jalan yang lurus. Hanya Allah yang beri taufik.[Muhammad Abduh Tuasikal]
    _____________
    [1] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 8/236-237, Al Maktab Al Islami Beirut, cetakan ketiga, tahun 1404 H.
    [2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muhaqqiq: Sami bin Muhammad Salamah, 8/90, terbitan Dar At Thoyibah, cetakan kedua, 1420 H.
    [3] Lihat Al Wala’ wal Baro’, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani, hal. 307, Asy Syamilah.
    [4] Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazm, 11/138, Mawqi’ Ya’sub.
    [5] Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar Rozi, 15/325, Mawqi’ At Tafasir.
    [6] Tafsir Juz Qod Sami’a , Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 166, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 2003.
    [7] Saudara ‘Umar ini bernama ‘Utsman bin Hakim, dia adalah saudara seibu dengan ‘Umar. Ibu ‘Umar bernama Khoitsamah binti Hisyam bin Al Mughiroh. Lihat Fathul Bari, 5/233.
    [8] HR. Bukhari no. 2619.
    [9] HR. Bukhari no. 2620.
    [10] HR. Muslim no. 2556.
    [11] Adabul Mufrod no. 95/128. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih. Lihat Al Irwa’ (891): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 123-Fii Haqqil Jiwar. At Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 28-Bab Maa Jaa-a fii Haqqil Jiwaar]
    [12] Kami olah dari Tahdzib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, Prof. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, hal. 224-229, Maktabah Al Mulk Fahd Al Wathoniyah, cetakan pertama, 1425 H.
    [13] Lihat Surat Al Mujadilah: 22.
    [14] Lihat Surat An Nisa’: 97-98
    [15] Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Shirotil Mustaqim.
    [16] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269
    [17] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/484, Mawqi’ Al Islam.
    [18] Lihat Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim, 1/483.
    [19] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
    [20] Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/28-29, no. 404, Asy Syamilah.
    [21] Semacam Yusuf Qardhawi, begitu pula Lembaga Riset dan Fatwa Eropa.

    Oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s