Antara Pilkada dan Pilpres; Ketika diri ini ikut peduli

Belum habis riuh rendah gemuruhnya Pilkada DKI Jakarta di Indonesia, sekarang perhatian saya dialihkan pada terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika. Sebagai orang Indonesia, seorang ibu, muslimah, besar di Jakarta, dan sekarang tinggal di Amerika, dua kejadian ini cukup menyita pikiran dan perasaan saya. Keduanya cukup membuat saya miris, khawatir, dan terus terang, takut.

Saya memang takut kalau demo yang disebut sebagai aksi damai bela Islam 4 November lalu itu akan ricuh dan menimbulkan mudhorot lain. Membayangkan hal-hal buruk terjadi seperti di tahun 1998 mungkin berlebihan, akan tetapi itu tidak mustahil. Alhamdulillah ketakutan beralasan saya itu tidak terjadi karena secara umum aksi tersebut damai. Tapi kenyataannya curahan pandangan tentang aksi ini masih belum berhenti, baik langsung maupun lewat media sosial. Tentu, tidak ada yang boleh melarang seseorang mengungkapkan pendapatnya. Tetapi dalam pelaksanaannya, orang sering lupa kalau ia tidak bisa memaksakan pendapatnya pada orang lain, tidak boleh mengolok-olok yang berbeda, dan harus tetap bersikap adil dalam suasana apapun.

Dan sekarang-sekarang ini saya dihinggapi rasa takut setelah Trump terpilih menjadi Presiden Amerika. Beliau yang pada saat kampanyenya menunjukkan ketidak-sukaannya pada siapa saya karena latar belakang saya, sungguh membuat saya merasa ditinggalkan. Saya merasa tidak lagi dipedulikan, bahkan dibenci oleh pemimpin ditempat saya tinggal. Saya berduka. Tapi menariknya, ketika hampir semua kawan Amerika, dan kawan Indonesia yang ada di Indonesia atau yang tinggal di Amerika memiliki perasaan yang sama dengan saya, ada juga sebagian kawan-kawan di Indonesia yang bersikap seolah-olah lebih tahu. Mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat saya lebih berduka lagi, lalu sebagiannya pula dengan santai menyamakan Trump dengan Ahok.

Buat saya Trump itu tidak faham siapa saya dan tidak mau mengenal saya. Sebagai orang kulit putih yang tinggal di negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, Trump tidak melihat aspirasi masyarakat Amerika yang beragam. Tidak faham perjuangan dan tantangan sebagian masyarakat Amerika yang berbeda latar belakang agamanya, budaya, suku, bahkan seksualitasnya dari kebanyakan. Tapi Ahok itu sebaliknya. Sebagai pribumi keturunan China, beragama Keristen, dan hidup di negara yang mayoritasnya Muslim, Ahok justru pernah sekolah disekolah Muslim. Bahkan ibu angkatnya sendiri adalah orang Islam. Jikalau saya ada di Jakarta sekarang, dan jikalau Ahok terpilih lagi sebagai Gubernur, saya tidak merasa ditinggalkan, saya merasa Ahok bisa faham masyarakat Jakarta yang beragam. Memang ada yang bilang gaya bicara Ahok yang blak-blakan serupa dengan gaya Trump. Saya tidak bisa membela itu. Masing-masing orang memiliki plus dan minusnya. Tapi saya yakin setiap pembicaraan, setiap kalimat yang keluar dari mulut seseorang itu tidak bisa dilihat satu sisi. Ada konteks, ada latar belakang, ada raut wajah, dan adapula intonasi. Seperti setelah sebagian orang Islam merasa dinistakan agamanya kemaren, Ahok lalu meminta ma’af. Sementara saya tidak pernah mendengar Trump meminta ma’af.

Tapi semuanya sudah terjadi, Trump sudah terpilih sebagai Presiden Amerika, sebagaimanapun Ahok adalah gubernur Petahana Jakarta. Sebagai bagian dari masyarakat Amerika, saya berharap Trump tidak akan menjadi seperti yang terlihat. Saya harus tetap bersikap positif, dan berharap Trump mau mendengar masukan dari kelompok yang berbeda. Sementara Ahok yang benar-benar sedang bekerja, saya berharap beliau sehat dan tetap lurus bekerja membangun Jakarta. Tentu dia tidak bisa membangun Jakarta sendirian. Ia butuh dukungan dan kerjasama orang-orang yang dipimpinnya. Saya berharap masyarakat Jakarta, sebagiannya, bisa lebih dewasa dalam berpolitik. Santun mengungkapkan pendapat, dan supportif menerima keputusan apapun yang dibuat berdasarkan evaluasi, musyawarah, dan hukum yang berlaku. Saya hanya bisa berdoa dan berharap semoga siapapun yang terpilih di Pilkada nanti bisa membawa aspirasi masyarakat Jakarta yang beragam.

Dan disaat yang sama sekarang, buat saya yang tinggal di Amerika, yang memiliki harapan juga ketakutan setelah Trump terpilih, saya berusaha bersikap positif dan adil. Tetap fair pada apa yang saya lihat dan saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena kenyataannya walaupun berseliweran berita-berita tragis dan aksi unjuk rasa setelah pemilihan Presiden, saya dan keluarga masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan aman dan tenang. Saya juga masih bisa mengenakan jilbab/kerudung saya seperti biasa. Masih bisa berjalan ketempat-tempat umum dan berdiskusi dengan sesama ibu-ibu tentang banyak hal, selain tentang pemilihan presiden.

Apalagi saya juga banyak menerima pesan dari kawan-kawan Amerika yang isinya cukup menguatkan dan menyejukkan. Ada yang menasehati agar saya berhati-hati tapi tetap tenang. Ada yang mengirim lagu perdamaian. Ada yang jelas-jelas melarang saya untuk tidak punya pikiran kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Banyak yang bilang kalau mereka menyayangi saya apa adanya. Ada yang mengingatkan saya untuk tetap berjilbab karena katanya itu yang membuat Amerika indah. Katanya mereka juga malu dengan keadaan politik sekarang, dan ikut merasakan apa yang saya rasakan. Mereka bilang kalau mereka ada didalam perahu yang sama dengan saya. Mereka juga berduka, masih belum percaya kalau Trump adalah Presiden mereka, dan berusaha tegar sambil berharap Trump tidak seperti yang mereka kenal sekarang.

Begitulah Amerika, sama seperti Jakarta, masyarakatnya beragam. Kita tidak bisa hanya menebak atau menilai orang lain tanpa berusaha mengenali dan bergaul dengan mereka.

Seperti kejadian ditaman umum dua hari lalu misalnya. Saya salut melihat ibu-ibu kulit putih yang dengan tulusnya menemani dan menjadi penerjemah seorang wanita berjilbab dengan tiga balita kecil yang baru sebulan datang dari Syiria. Ibu-ibu kulit putih yang belakangan saya ketahui adalah tetangga perempuan Syria itu mendekati saya dan meminta informasi tentang perkumpulan ibu-ibu dan anak-anak yang ada di kota Riverside dan sekitarnya. Saya membantu sebisanya sambil berusaha keras memahami bahasa Arab ibu Syria tersebut. Terus terang dalam hati saya terharu dan kagum. Saya diingatkan lagi bahwa betapapun berbedanya kita dengan yang lain, kita banyak kesamaannya. Dan kalau kita lebih sering bicara tentang kesamaan, InsyaAllah kita bisa berteman dan bersaudara.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Karena kalau Tuhan mau, ia ciptakan dunia ini satu. Satu agama, bahasa, bangsa, dan rupa. Saya rasa semua orang sudah tahu itu. Orang juga sudah tahu kalau dengan perbedaan, kita bisa belajar satu sama lain. Sayangnya kita sering meruncingkan perbedaan hingga menjadi sesuatu yang tajam dan akhirnya menusuk kita sendiri. Kita lalai menyadari kalau kita mungkin lebih sering melihat sesuatu berdasarkan perasaan kita ketimbang akal sehat kita. Lupa pula mengakui dan menghargai hal baik dari mereka yang berbeda, tapi malah terus mengolok-olok hingga membuat sekat pemisah semakin dalam. Nauudzubillah min dzalik, semoga kita tidak termasuk yang demikian.

Demikian tulisan ini saya buat. Dan sambil menulis ini, saya menunjuk diri saya sendiri, berusaha mengkritisi diri sendiri. Membayangkan apa yang akan terjadi beberapa tahun kedepan; akankah kita mewarisi masa depan yang damai pada anak-cucu kita, apakah kita sudah menjadi tauladan kedamaian bagi mereka?. Walloohu’Alam Bishowab, Semoga dimanapun kita berada kita mau terus mendengar dan belajar. Salam untuk semua.

Riverside, 15 November, 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s