Archives

Langkahmu bukan untukmu sendiri (Rangkuman sebuah Novel “The husband’s secret” karya Liane Moriarty)

“Ah betul juga ya, kenapa tidak saya coba merangkum dan mengkritik Novel-novel yang sudah saya baca di klub buku saya. Apalagi sudah ada dua orang sahabat yang katanya siap membacanya, wink-wink”,  kata saya dalam hati. Kemudian wajah sumringah dua orang sahabat lama yang saya rindukan, Lies dan Yuli  muncul di benak saya. Keduanya muncul di dalam gambar awan yang menempal di kepala saya; tampil seksi dalam bentuk karikatur, tertawa lebar, memakai kaca mata gaya, berambut tinggi, dengan bibir merah merona dan deretan gigi yang rapih. Continue reading

Advertisements

Kok Bisa Tanpa Asisten Rumah Tangga (ART) di Amerika?!

Terinspirasi dari diskusi sebagian para ibu rumah tangga di kota Riverside di ruang maya minggu lalu tentang gambaran ideal suasana pagi hari di dalam rumah, saya jadi tergelitik menuliskan sebagian besar komentar para ibu tersebut, dan kemudian menguraikannya lebih lebar.

Sebagian mengatakan bahwa pagi yang indah itu diawali oleh waktu bangun tidur yang sama antara anak-anak dan bapaknya. Sebagian setuju bahwa pagi yang indah itu dimulai ketika anak-anak mereka bangun pagi dalam keadaan riang gembira lalu melakukan ritual pagi dengan baik. Sebagian lagi sepakat kalau pagi itu baru bisa disebut indah bila menu sarapan nya sehat dan lezat. Dan sebagian besarnya, ini yang paling menarik, mengakui bahwa pagi yang indah dan sempurna itu adalah ketika mereka tidak harus beres-beres rumah, menyiapkan sarapan dan makan siang, melainkan ada asisten rumah tangga yang melakukannya. Uniknya, mereka semua sepakat kalau hal itu hanyalah sebuah mimpi kosong. Malah ada yang menyebutnya sebagai angan-angan yang paling mustahil dan liar yang pernah terbersit di pikiran mereka.

Continue reading

Mereka dan Saya tentang Natal di Amerika

Ah Natal sebentar lagi. Semarak  kota Riverside terasa sekali menyambutnya. Rumah-rumah terang benderang dihiasi banyak lampu warna warni.  Pusat kota juga dihiasi cantik oleh lautan lampu. Lengkap dengan fasilitas ice skatingnya, penyewaan kereta kencananya, musik live-nya, serta kedai-kedai kecil yang menjajakan makanan ringan. Tempat-tempat umum seperti mal, kantor, sekolah, rumah sakit, dan tempat  hiburan, kesemuanya ikut serta menyemarakkan Natal lewat berbagai hiasan dan acara khusus.  Dan tanpa terkecuali, klub ibu dan anak balita di kota ini, tempat dimana hampir setiap hari aku dan anak perempuanku yang berusia dua setengah tahun bertemu dan bermain, juga ikut memeriahkan datangnya Natal.

Ya diklub itulah, saya menjadi kenal banyak ibu-ibu di Riverside, California ini. Perkenalan yang awalnya dimulai dari mencari info di google, kemudian bertemu di darat dan saling sapa, lalu sama-sama mengawasi anak-anak kami bermain, lama kelamaan menjadi asyik karena kami sering ngobrol ngalor-ngidul. Mulai berbagi cerita tentang pengasuhan anak dan mengurus rumah tangga, sampai ke soal yang cukup privat; kepercayaan dan tradisi keluarga. Topik yang awalnya sensitif dan hati-hati untuk diungkapkan itu, perlahan justru menjadi sangat menarik untuk didengarkan dan diceritakan. Apalagi menjelang natal ini, kami jadi bisa saling berbagi dan belajar. Berikut penggalan obrolan saya dengan mereka.

Continue reading

Merayakan Ulang Tahun versi Amerika?!

“Neneng, ini undangan ulang tahun Ryan untuk Inas”, kata April sambil menyodorkan amplop putih bertuliskan nama Inas. “Saya sebenarnya enggak ada rencana ngundang kamu dan Inas, tapi karena Ryan yang minta, dan terus ngingetin aku, akhirnya kamu aku undang dech, sorry ya kalo ngerepotin”, katanya blak-blakkan. “Saya pikir Ryan itu bukan pantarannya Inas, dia umurnya empat tahun, Inas kan baru dua tahun, dia lebih pantes di undang ke ulang tahunnya Leah adiknya Ryan”, katanya lagi santai. “Oh well, it’s up to you tho’. If you don’t plan to invite us, you don’t have to”, jawabku canggung. Alis mataku naik, pundakku refleks terangkat, dan senyumku setengah terkulum . “No, no, no, we both will be happy if you could come”, kata April akhirnya mencoba mencairkan suasana.

Alkisah akhirnya minggu lalu saya dan Inas datang memenuhi undangan April. Mengunjungi rumahnya untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya datang untuk bermain (play date). Rumah berlantai dua yang di bangun sekitar tahun 2000-an itu sederhana dan apik, berada di daerah Mt. Rubidoux yang terkenal cantik karena tanahnya yang berlembah. Buat saya yang pendatang, bisa mengunjungi rumah orang lokal itu menyenangkan. Saya suka memperhatikan desain rumahnya, pajangan yang ada didindingnya, bahkan barang2 atau makanan yang ada di meja dapurnya (“ha ha, sebetulnya jadi serem ya, saya seperti seorang mata-mata?!”).

Tapi memang begitulah kenyatannya. Buat saya, tinggal di tempat yang baru itu bisa menyegarkan pandangan dan  pendengaran. Selain suka memperhatikan lebih dalam lagi apa yang saya lihat, menyelami apa yang saya  alami, saya juga jadi sering mengingat-ingat dan memikirkan kembali apa yang saya bicarakan dengan orang lain. Acara kumpul-kumpul, seperti perayaan tahun baru, hari kemerdekaan, atau yang setahun belakangan ini sering saya datangi, yaitu perayaan ulang tahun temen-temannya Inas, menjadi “moment” menarik buat saya. Nah di dalam tulisan kali ini, saya ingin menceritakan pengamatan saya khususnya tentang  tradisi perayaan hari ulang tahun di Amerika. Continue reading

Sepuluh Tanda-Tanda Cinta

Berawal dari komentar saya pada seorang kawan di facebook  tentang definisi cinta, saya malah jadi kepengen menuliskan tanda-tanda cinta, bukan definisinya. Mungkin karena cinta itu banyak definisinya, saya jadi mengambil yang lebih gampang, menuliskan tanda-tanda nya saja.

Nah kalau ada waktu dan sedang mencari materi bacaan for “pleasure”,  silahkan baca uraian sederhana saya tentang tanda-tanda cinta di paragraph berikut.  Tapi perlu di ketahui sebelumnya bahwa tulisan saya ini bukan berdasarkan riset, hanya opini hasil dari pengamatan dan pengalaman saya saja.  Oleh karena itu isi tulisan ini subjektif,  akan ada sebagian pembaca yang setuju , ada yang ingin menambahkan,  bahkan ada yang ingin mengoreksinya.  Well, silahkan saja, saya akan senang sekali. Continue reading

My journey in conquering fears of driving

About a week ago, i finally received a California Driving License, something that i ‘ve never imagined before. I was so happy, and i am still. I consider this as an achievement because it was a long and challenging journey. Not only because i had postponed the behind-the-wheel test for about a year (i got the permit on February 2010, and took the test on February 2011), but also because i had to struggle dealing with my own fears. I was so fearful so that i was so reluctant to touch the wheel.

But now…looking back to my journey, i am giggling and feeling proud of myself. I think my experience is worth sharing, hoping that it may also worth reading for others. In the next paragraphs, i would like to describe what i have done to finally able to transform myself from being so fearful to being joyful. Continue reading

Kekuatan dibalik ketidaksempurnaan diri

Senang aku kalau sudah berlama-lama di kantornya Ali, sepertinya ada malaikat penjaga yang membuat aku  jadi semangat baca, nulis dan kadang juga nonton, ehem!   Alhamdulillah sambil nemenin Ali yang lagi dikejar deadline, aku mendengarkan talk di sebuah situs bernama TED, yang belakangan memang jadi salah satu situs favoritku. TED menghadirkan banyak orang pintar lewat “talk-talk” nya yang bagus.

Salah satu talk yang aku nikmati adalah tentang kekuatan ketidaksempurnan diri. Topik ini di sajikan menarik oleh Dr. Brene Brown, seorang akademisi dan peneliti yang menemukan pola prilaku yang sama antara orang yang memilih untuk “mengasingkan diri” dan yang “bergaul” dengan banyak orang.  Ia menambahkan bahwa kegiatan berhubungan dengan orang lain adalah kebutuhan fitrah seorang manusia. Dan bila kebutuhan itu dinafikkan atau tidak di salurkan, maka akan meranalah orang tersebut.  Lalu, apa hubunganya judul di atas dengan kesamaan pola prilaku orang yang mengasingkan diri dan yang suka bergaul? Continue reading