Archives

Kok Bisa Tanpa Asisten Rumah Tangga (ART) di Amerika?!

Terinspirasi dari diskusi sebagian para ibu rumah tangga di kota Riverside di ruang maya minggu lalu tentang gambaran ideal suasana pagi hari di dalam rumah, saya jadi tergelitik menuliskan sebagian besar komentar para ibu tersebut, dan kemudian menguraikannya lebih lebar.

Sebagian mengatakan bahwa pagi yang indah itu diawali oleh waktu bangun tidur yang sama antara anak-anak dan bapaknya. Sebagian setuju bahwa pagi yang indah itu dimulai ketika anak-anak mereka bangun pagi dalam keadaan riang gembira lalu melakukan ritual pagi dengan baik. Sebagian lagi sepakat kalau pagi itu baru bisa disebut indah bila menu sarapan nya sehat dan lezat. Dan sebagian besarnya, ini yang paling menarik, mengakui bahwa pagi yang indah dan sempurna itu adalah ketika mereka tidak harus beres-beres rumah, menyiapkan sarapan dan makan siang, melainkan ada asisten rumah tangga yang melakukannya. Uniknya, mereka semua sepakat kalau hal itu hanyalah sebuah mimpi kosong. Malah ada yang menyebutnya sebagai angan-angan yang paling mustahil dan liar yang pernah terbersit di pikiran mereka.

Continue reading

Mimpinya para ibu…

“Semalam aku mimpi yah!”, laporku pagi-pagi seraya meletakkan sepiring roti “French toast” di atas meja. “Seru banget!”, kataku lagi sambil menyomot roti dan melahapnya cepat. “Nyam-nyam, eh..enak”, gumamku memuji roti buatanku sendiri. “Mimpi apa?”, jawab suamiku sekenanya tanpa menoleh, sementara jari jemarinya masih sibuk menari di atas iphone. Continue reading

Perenungan menjadi seorang Ibu

Blog ini hampir terlupakan. Saya terlena oleh kesibukan baru yang betul-betul tidak ingin saya nomor duakan, yaitu menjadi ibu.  Pekerjaan lain menjadi nomor dua atau kesekian setelah hadirnya Inas, anak perempuan kami yang lahir pada tanggal 30 Mei 2011.

Inas, telah memberi banyak….buat saya dan suami. Bukan hanya kebahagiaan dan keceriaan di dalam rumah karena tingkah dan gayanya yang lucu, tetapi juga pelajaran berharga tentang hidup dan kehidupan. Dan kalaupun ada kata yang lebih maknanya dari kata “keajaiban”, mungkin saya akan menggunakannya untuk menggambarkan bagaimana pengaruh Inas buat saya, suami saya, dan keluarga besar saya. “Ah ma’af, mungkin saya terlalu membesar-besarkan”…tapi begitulah adanya, Inas is like the world to us.

Inas, diusianya yang menginjak 14 bulan, telah membuat saya merenung banyak hal yang sebelumnya tidak mampir atau hanya lewat begitu saja di kepala saya. Dan ketika sekarang, ia sedang tertidur lelap, dan saya punya waktu untuk memainkan jemari saya di atas keyboard, saya ingin menguraikan apa yang menjadi perenungan saya.

Yang pertama, Inas mengajarkan saya bahwa hidup itu bukanlah untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Setiap hari, segera setelah ia bangun dari tidur, kalimat “what would my day be like, Mommy?”,  seperti hadir di wajahnya yang manis. Saya sebagai ibu, dan tentu saja ayahnya, adalah yang paling berperan dalam mewarnai hari-harinya. Apakah Inas akan senang, akan belajar, akan makan dan tidur baik, akan bermain macam apa, semuanya tergantung pada saya dan ayahnya. Ah iya….“Semoga ibu dan ayah, bisa ya nak…bisa membuat hari-hari mu indah dan berkesan”.

Yang kedua, Inas juga telah menegur saya untuk menjadi manusia yang baik, dan lebih baik lagi dari hari ke hari. Bagaimana tidak, langsung atau tidak langsung…tingkah laku dan ucapan saya akan membekas di dalam hati dan pikirannya. Saya akan menjadi contoh tauladan buat Inas. Misalnya, saya yang awalnya sering lupa membaca Do’a ketika akan mengerjakan sesuatu, atau khilaf mengucapkan magic words; terimakasih dan tolong, sekarang berusaha untuk tidak lupa atau khilaf lagi. Berharap Inas bisa mencontoh yang baik-baik dari orang tuanya. Bahkan lebih jauh lagi, Inas mengingatkan saya juga untuk “berprestasi” lagi, untuk semangat lagi mengejar cita-cita saya yang belum kesampaian. Saya berharap semoga saya bisa menginspirasinya kelak. selanjutnya Continue reading