Archives

Kemana hati nurani?

Bila dibumi anarki manusia tumpah

Saling menghina dan membunuh

Tapi menyeru nama Tuhan yang Satu

Menyedihkan, memilukan, memalukan!

 

Aduhai manusia yang katanya penyayang

Kemana hati nurani yang sudah Tuhan berikan?

Apa sudah kau tutup rapat-rapat kah dia?

Atau sudah kau kusam legamkan kah dia?

Hingga tak mampu lagi engkau merasa?

 

Aduhai manusia yang katanya welas asih

Jangan kau campakkan kemurnian suara hati

Apalagi mau diiming imingi nikmat surgawi

Dengan menghalalkan marah dan benci

Penuhi saja sumur cinta, lewat hati nurani

Menjadi Tua

Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan

Bagi setiap insan, lelaki atau perempuan

Ingatan yang kuat, tubuh yang segar bugar

Akan perlahan menyusut dan memudar

 

Menjadi tua adalah sunnah Tuhan

Misteri usia bukanlah permainan

Jangankan buat yang berusia senja

Yang mudapun bisa tersapu masa

 

Hari ini aku membayangkan hari tua

Padahal sekarangpun aku sudah menjadi

Beberapa helai rambutku ada yang memutih

Angka di ulang tahunkupun makin bertambah

 

Ah, dalam perenunganku tentang usia senja

Aku membangunkan kalbuku yang kadang mati suri

Dan menajamkan fikirku, agar tidak ditenggelamkan masa

Sampai Maut Menjemput

Seperti kain panjang kering yang dipaksa keluar dari kerongkongan berkulit tipis

Begitu aku membayangkan sakitnya nyawa di ambil oleh yang Maha memiliki

Seperti hembusan nafas yang lepas, ringan, terbang berseri dibawa angin pagi

Begitu aku melukiskan senangnya melepas rindu, akan bertemu kekasih hati

 

Tidak tahu dimana aku nanti berdiri, merinding aku menerka-nerka kedatang ajal

Entah kapan, dimana, dan sedang apa, tak mampu aku menebus kedalaman masa

Sungguh kerdil aku, berdiri di tepi lautan tenang sekalipun, aku bisa terbawa gelombang

Sungguh lemah aku, bahkan berada di tempat paling tinggi sekalipun, aku bisa terjungkal

 

Gila memang, mengingat kata maut saja aku kadang terlalaikan, bagaimana pula aku bersiap?

Mendengar gemuruh datangnya saja, aku sudah pontang-panting, bagaimana pula aku menghadang?

Ya, aku merasai bahwa maut memang bukan kawan, tapi tidak mustahil ia menjadi sahabat  terdekat

Mengingat & mendekapi maut, mengingatkan kita akan kebersihan raga, kebeningan hati , juga jiwa

Aku dan maut, suatu saat akan saling mencari dan semoga merindui, menggiringku melihat senyumMu!

Cukup

Terowongan itu gelap, tapi aku masih melihat cahaya kecil disana

Ia tak bergerak,  tapi aku tahu ia bernyawa,  memanggil  ku tanpa suara

Ia menyimpan misteri, menyelimutiku dengan resah sekaligus harapan

Aku dibuatnya menjerit dalam hati, hingga mengeluarkan satu kata, cukup

 

Aku putuskan untuk cukup menggantungkan harapanku tinggi-tinggi

Tapi tidak aku cukupkan untuk terus berharap peduli Tuhan menghampiri

Orang bisa bilang aku menyerah, tapi sebenarnya aku masih tegak berdiri

Hanya berbelok ke arah lain saja, menelusuri  jalan yang juga misteri

 

Cukupku bukan berarti mengalah, melemah, apalagi membuatku gila

Cukupku bukti penerimaanku pada yang lama tidak aku akui dan lihat

Cukupku menjemput harapan lain, yang tidak kalah indah dan mulia

Cukupku masih bersama cahaya, menggenggam sampai memeluknya

 

 

Kata-kata dan aku

Kata-kata, seperti banyak orang tahu, menyerupai api dan pedang
Bisa melukai rasa, menyulut asmara, bahkan menggugurkan cinta
Kata-kata, seperti banyak orang sadar, bisa menjadi sumber awal
Untuk tidak hanya memiliki kawan,tapi juga lawan, dan harta benda

Lihat saja dunia, dia bisa di kuasai oleh manusia yang bisa berkata
Walau itu cuma hiasan, sekedar ikut-ikutan, atau bohong belaka
Perhatikan juga alam, dia bisa tumbuh indah…luluh mengikuti
Sang kata yang keluar dari insan yang peduli pada mereka

Kata-kata memang bernyawa dan hidup, ia bukan hanya sekedar
Ia juga bisa mati rasa, jatuh mengambang, tiada yang memandang
Karena itu aku mengagumi orang yang bijak memilih kata-kata
Sekaligus menghormati yang menggandeng hati untuk berkata
Tuhan, dengan kata-kata aku bernyawa, berjalan menggauli dunia
Bantu aku memilih kata dengan ketajaman fikir dan kejernihan jiwa

(Riverside, June 10th, 2010)

Selalu ingin mencintaimu, “hari”

Aku ingin menulis tentang hari, di temani suara mesin cuci dan pengering yang ada di garasi
Mungkin karena malam, suara mesinnya terdengar kencang, menempel di telingaku, disini
Kunikmati suara mesinnya, sambil menunggu seprei anti alergi untuk tempat tidurku mengering
Mataku masih kuat berjaga, jemariku masih kuat berdansa, aku lanjutkan menulis lagi, tentang hari

Hari, kata yang singgah di kepalaku. Ia berjalan terus tanpa ada satupun orang yang bisa mengejarnya
Ia tidak menoleh kebelakang, malah kadang aku cuma bisa ikut-ikutan jalan dibelakangnya tanpa sadar
Tapi ia tetap saja berjalan, kadang langkahnya semakin kencang. Menoleh sih sesekali, cuma sebentar
Sering kali aku merasa ditinggalkan, dan seingatku aku belum pernah berjalan duluan, didepan

Hari, Ia adalah satu dari sekian banyak misteri kehidupan. Ia begitu kuat, kadang dibuatnya aku melongo
Kadang juga ia memaksaku untuk berdamai, tanpa rasa riang, cuma di kipas-kipasi angan-angan ‘ndeso’
Tapi malam ini kutuliskan dengan sadar, aku tidak mau lagi dipaksa berdamai atau di buat melongo
Aku mau terus bersahabat saja dengan hari. Berjalan beriringan, suka sama suka, dihiasi tawa dan guyon

Aku akan pacari saja hari ku dengan mesra. Akan kugauli ia dengan pantas dan penuh cinta
Pagi, Siang, Sore, Malam….Ah, tidak mau aku tinggalkan hari dengan susah hati, apalagi sesal
Apalagi aku sudah memiliki segala. Segala yang mungkin susah orang lain dapatkan dan rasakan
Malu aku dengan sang pencipta Hari, kalau sampai hubungan cintaku dengan hari patah
Hari, aku disini selalu mencinta….

(Riverside, June 9th, 2010)

Tentang Berdzikir

Aku membaca makna, bagaimana, dan kenapa orang berzikir
Siapa saja, aku juga, punya hak untuk berkomentar tentang ini
Aku memilih mencoba, melepaskan keingintahuanku selama ini

Aku kemudian datang, dan karena Tuhan juga lah aku datang
Ketengah kumpulan insan yang berdendang memuji Tuhan
Disambutnya aku dengan kehangatan pelukan dan senyuman

Aku tidak menemukan ketakaburan dan keangkuhan disana
Hanya suara bersama menghadirkan dan mendekati Tuhan
Dan untaian doa indah yang menyejukkan rasa dalam jiwa

Aku terluluhkan, terhanyut ditengah suara mereka menyebut asma Mu
Entahlah, dalam prasangkaku yang sering salah tentang sesuatu
Aku berdoa saja, “Ya Allah memang hanya Engkau yang maha tahu”
“Tolong ampuni, sayangi, ridhoi, dan terangi jiwa sesiapa; mereka, aku dan kamu”

(Riverside, April 18, 2010, karena semalam aku di Tustin)