Mimpinya para ibu…

“Semalam aku mimpi yah!”, laporku pagi-pagi seraya meletakkan sepiring roti “French toast” di atas meja. “Seru banget!”, kataku lagi sambil menyomot roti dan melahapnya cepat. “Nyam-nyam, eh..enak”, gumamku memuji roti buatanku sendiri. “Mimpi apa?”, jawab suamiku sekenanya tanpa menoleh, sementara jari jemarinya masih sibuk menari di atas iphone. Continue reading

Merayakan Ulang Tahun versi Amerika?!

“Neneng, ini undangan ulang tahun Ryan untuk Inas”, kata April sambil menyodorkan amplop putih bertuliskan nama Inas. “Saya sebenarnya enggak ada rencana ngundang kamu dan Inas, tapi karena Ryan yang minta, dan terus ngingetin aku, akhirnya kamu aku undang dech, sorry ya kalo ngerepotin”, katanya blak-blakkan. “Saya pikir Ryan itu bukan pantarannya Inas, dia umurnya empat tahun, Inas kan baru dua tahun, dia lebih pantes di undang ke ulang tahunnya Leah adiknya Ryan”, katanya lagi santai. “Oh well, it’s up to you tho’. If you don’t plan to invite us, you don’t have to”, jawabku canggung. Alis mataku naik, pundakku refleks terangkat, dan senyumku setengah terkulum . “No, no, no, we both will be happy if you could come”, kata April akhirnya mencoba mencairkan suasana.

Alkisah akhirnya minggu lalu saya dan Inas datang memenuhi undangan April. Mengunjungi rumahnya untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya datang untuk bermain (play date). Rumah berlantai dua yang di bangun sekitar tahun 2000-an itu sederhana dan apik, berada di daerah Mt. Rubidoux yang terkenal cantik karena tanahnya yang berlembah. Buat saya yang pendatang, bisa mengunjungi rumah orang lokal itu menyenangkan. Saya suka memperhatikan desain rumahnya, pajangan yang ada didindingnya, bahkan barang2 atau makanan yang ada di meja dapurnya (“ha ha, sebetulnya jadi serem ya, saya seperti seorang mata-mata?!”).

Tapi memang begitulah kenyatannya. Buat saya, tinggal di tempat yang baru itu bisa menyegarkan pandangan dan  pendengaran. Selain suka memperhatikan lebih dalam lagi apa yang saya lihat, menyelami apa yang saya  alami, saya juga jadi sering mengingat-ingat dan memikirkan kembali apa yang saya bicarakan dengan orang lain. Acara kumpul-kumpul, seperti perayaan tahun baru, hari kemerdekaan, atau yang setahun belakangan ini sering saya datangi, yaitu perayaan ulang tahun temen-temannya Inas, menjadi “moment” menarik buat saya. Nah di dalam tulisan kali ini, saya ingin menceritakan pengamatan saya khususnya tentang  tradisi perayaan hari ulang tahun di Amerika. Continue reading

Pulang!

Pagi itu adalah pagi yang lain dari biasanya. Setelah menerima telepon singkat dari pamannya, Lela terduduk lemas dan kaku di kursi dekat meja telepon. Air matanya tiba-tiba jatuh tak tertahankan, mengucur deras membasahi baju daster batiknya. “Kenapa La, ada berita apa?”, tanya Munir tergopoh-gopoh keluar dari dalam kamar sambil membetulkan letak sarungnya yang hampir melorot. “Ibu mas, ibu”, jawab Lela sambil berlinang air mata. Kali ini tangisannya mengeras. Mulutnya mangap dengan bibir “menjebeng”, Lela menangis sejadi-jadinya, kali ini membasahi kaos oblong Munir, tepat di bagian perutnya.

Sambil terus memeluk istrinya, Munir juga tidak kuasa menahan tangis. Air matanya ikut mengalir, dan tangannya membelai-belai kepala istrinya. Ia tidak tahu harus berkata apa sampai Lela berdiri dan berjalan ke kamar karena suara tangisan Galih, anak lelakinya yang masih berusia satu setengah tahun. Munir mengikuti langkah Lela dari belakang, kemudian ia ikut duduk di samping Lela yang masih menangis sesenggukan. Tangan lela sibuk membuka kancing depan baju daster nya, susah sekali sampai Galih kelihatan tidak sabar dan melanjutkan tangisnya. Munir akhirnya membantu Lela membuka kancing bajunya dan membiarkan Lela menyusui buah hati mereka dahulu. Suara tangisan Galih memelan, dan kemudian hilang hingga hanya suara mulutnya saja yang terdengar sibuk menyedot susu.

“Sabar ya La”, kata Munir diikuti tangannya yang melingkar ke pundak Lela. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi karena semalam mereka memang habis bertengkar kecil soal rencana kepulangan Lela ke Solo yang tidak jadi-jadi karena Munir tidak punya waktu untuk mengantar. Munir merasa sangat bersalah. Bayangan wajah ibu mertuanya hadir di benaknya. Senyumnya dan suaranya yang khas, serta bahasa santunnya yang menyejukkan hati membuat Munir tambah menyesal tidak bisa menemani hari-hari terakhirnya ketika beliau sakit. “Ma’afin aku ya La?..”, kata Munir akhirnya pada Lela. Di peluk lagi Lela erat, jari jemarinya menggenggam pundak Lela lebih kuat. Lela hanya terdiam membisu, suara sesenggukan tangisannya masih ada dan tersisa.

Continue reading

Disney Land; Tempat yg paling membahagiakan di dunia?

Setelah berpikir beberapa lama, akhirnya saya, suami, dan anak saya, Inas, yg berusia dua tahun mengunjungi Disneyland untuk yg kedua kalinya. Tempat yg katanya menjadi impian banyak keluarga Amerika untuk dikunjungi itu letaknya tidak begitu jauh dari rumah kami, sekitar satu jam tanpa macet.

Sesampainya di Disney, kami berdua mencari permainanan yg bisa dinikmati Inas, seperti komedi puter, kereta api, kapal laut, dan istana boneka. Selebihnya kami photo bersama boneka Gufi dan Miki, jalan-jalan menikmati pemandangan, duduk dipinggiran jalan sambil makan es krim, makan malam sambil istirahat, dan menikmati parade berupa tari dan musik. Walaupun awalnya inas kelihatan bingung (overwhelmed), lama kelamaan dia kelihatan senang. Jalannya berlenggak-lenggok dan kadang-kadang berlari. Tangan kanannya tanpa lelah, terus memegangi balon berbentuk kepala Miki. Sementara mulutnya dihiasi seyum sambil beberapa kali bertanya tentang sesuatu, atau menyebut-nyebut apa yg dia lihat dan sudah dia ketahui namanya. Continue reading

Perenungan menjadi seorang Ibu

Blog ini hampir terlupakan. Saya terlena oleh kesibukan baru yang betul-betul tidak ingin saya nomor duakan, yaitu menjadi ibu.  Pekerjaan lain menjadi nomor dua atau kesekian setelah hadirnya Inas, anak perempuan kami yang lahir pada tanggal 30 Mei 2011.

Inas, telah memberi banyak….buat saya dan suami. Bukan hanya kebahagiaan dan keceriaan di dalam rumah karena tingkah dan gayanya yang lucu, tetapi juga pelajaran berharga tentang hidup dan kehidupan. Dan kalaupun ada kata yang lebih maknanya dari kata “keajaiban”, mungkin saya akan menggunakannya untuk menggambarkan bagaimana pengaruh Inas buat saya, suami saya, dan keluarga besar saya. “Ah ma’af, mungkin saya terlalu membesar-besarkan”…tapi begitulah adanya, Inas is like the world to us.

Inas, diusianya yang menginjak 14 bulan, telah membuat saya merenung banyak hal yang sebelumnya tidak mampir atau hanya lewat begitu saja di kepala saya. Dan ketika sekarang, ia sedang tertidur lelap, dan saya punya waktu untuk memainkan jemari saya di atas keyboard, saya ingin menguraikan apa yang menjadi perenungan saya.

Yang pertama, Inas mengajarkan saya bahwa hidup itu bukanlah untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Setiap hari, segera setelah ia bangun dari tidur, kalimat “what would my day be like, Mommy?”,  seperti hadir di wajahnya yang manis. Saya sebagai ibu, dan tentu saja ayahnya, adalah yang paling berperan dalam mewarnai hari-harinya. Apakah Inas akan senang, akan belajar, akan makan dan tidur baik, akan bermain macam apa, semuanya tergantung pada saya dan ayahnya. Ah iya….“Semoga ibu dan ayah, bisa ya nak…bisa membuat hari-hari mu indah dan berkesan”.

Yang kedua, Inas juga telah menegur saya untuk menjadi manusia yang baik, dan lebih baik lagi dari hari ke hari. Bagaimana tidak, langsung atau tidak langsung…tingkah laku dan ucapan saya akan membekas di dalam hati dan pikirannya. Saya akan menjadi contoh tauladan buat Inas. Misalnya, saya yang awalnya sering lupa membaca Do’a ketika akan mengerjakan sesuatu, atau khilaf mengucapkan magic words; terimakasih dan tolong, sekarang berusaha untuk tidak lupa atau khilaf lagi. Berharap Inas bisa mencontoh yang baik-baik dari orang tuanya. Bahkan lebih jauh lagi, Inas mengingatkan saya juga untuk “berprestasi” lagi, untuk semangat lagi mengejar cita-cita saya yang belum kesampaian. Saya berharap semoga saya bisa menginspirasinya kelak. selanjutnya Continue reading

Bijak memilih kata-kata

“Apa semua yang kita rasa dan pikirkan perlu kita ungkapkan bang?”, tanya Rani yang tiba-tiba muncul  dari pintu garasi. Arif yang sedang asyik mencuci motornya menoleh sebentar. Raut muka Rani kelihatan serius, alisnya berkenyit, kepalanya miring kekanan sedikit, seakan-akan meminta Arif menjawab dengan cepat, singkat, padat.  Arif malah tersenyum kecil, dan tidak langsung menjawab. ”Bang!!?”, kali ini suara Rani agak keras, setengah kesal dan merajuk.

“Iya Ran… jawabannya tergantung”, kata Arif sambil terus menyemprotkan air dari selang ke ban belakang motor. Motor Arif kotor sekali pagi itu karena kemaren  sore dalam perjalanan pulang ke rumah, motornya tidak sengaja  masuk ke kubangan becek yang ada di belokan gang Haji Syukri. “Yah ginilah akibatnya kalo bengong sedikit di jalan dan kekencengan bawa motor Ran, padahal tiap hari lewat situ, biasanya abang selalu bisa ngindarin kubangan itu, tapi kemaren malah kejeblos”, jawab Arif ketika Rani bertanya kenapa motor nya kotor dan sepatunya basah kuyup.“Tergantung gimana maksudnya?” kali ini kedua tangan Rani di lipat di depan dadanya, alisnya tambah berkenyit. Continue reading

Karena Cinta

Enggak tahu kenapa pagi itu hati Nala mumet banget. Liat bantal kursi yang letaknya rada mencong sedikit, dia sebel. Liat gelas kotor yang tergeletak di meja kerja mas Dodi, dia gak suka. Sampe vas bunga yang udah lama sekali menghiasi  meja tamupun, sekarang kelihatan norak. “Warna bunga plastik dan bentuk vasnya bener-bener gak nyambung”, begitu kata Nala dalam hati.

Mulut Nala manyun, senyum sumringah dari bibirnya hilang, seperti tenggelam ditelan ombak.  Pagi itu, enggak ada sapa renyah dan hangat di pagi hari buat Dodi. Gak ada acara buka jendela depan dan samping pelan-pelan sambil menghirup udara pagi yang jernih. Gak ada sholat subuh yang tenang. Semuanya berasa gak enak, sepet, plus asem. Nala masih ingat semalam kalao Dodi masih ada di kamar kerjanya ketika Nala memutuskan untuk tidur.

Continue reading